8 To 4 : Istri Kontrak Sang Walikota

8 To 4 : Istri Kontrak Sang Walikota
Cinta atau Obsesi?


__ADS_3

“Tunggu Jeng!”


“Kalau kamu ngga mau nganter aku pulang, seenggaknya tolong tinggalin aku sendiri, Bar!”


“Apa lagi sekarang? Apalagi yang salah?”


“Ngga ada. Aku yang salah. Jadi please, tinggalin aku sendiri! Oke?!”


Bara menghembuskan nafas kasar. Kemudian kembali ke dalam rumah sambil membanting pintu.


Ajeng merasa sangat tertekan dan sesak setiap kali berada di dekat Bara. Meskipun hanya berpura-pura menerima pernikahan itu, tapi ia sudah merasa bahwa dirinya adalah istri yang sedang mengkhianati suaminya dan itu membuatnya merasa sangat buruk dan marah. Padahal ia sendiri yang setuju menikahi Bara demi bisa menyelamatkan Wira dari penjara. Tapi malah ia juga yang marah dan benci kepada Bara.


Entah kenapa, setelah semua upaya yang ia lakukan untuk melupakan Wira, ia justru seolah kembali dingatkan lagi dan lagi bahwa pria itu pernah ada dan masih sangat berharga dalam hidupnya.


“Non Ajeng sedang apa?” tanya Pak Jamil yang tiba-tiba muncul di belakang Ajeng.


“Eh, Pak Jamil ngapain ke sini?”


“Saya mau bicara sama Non Ajeng.”


“Ada apa, Pak?”


“Jadi apakah anda istri dari orang yang memesan bros itu?”


Ajeng mengangguk. “Pak Jamil pasti bingung karena saya malah berada di sini dan mau menikahi pria lain, kan?”


Pak Jamil menggeleng. “Saya tidak tahu apa yang terjadi. Tapi kalian orang-orang baik. Dan pasti sudah menentukan yang terbaik juga.”


“Ngga Pak. Saya sudah berpisah sama Mas Wira dan sekarang harus menikah dengan Bara.”


“Meskipun mungkin tidak seperhatian Mas Wira, tapi Mas Bara juga orang baik. Dia yang memberi kesempatan pengrajin murahan seperti saya menjadi seperti sekarang ini.”


“Itu karena Pak Jamil memang sangat berbakat. Pak Jamil layak mendapatkan ini.”


“Kalau saya bertemu Mas Wira lagi, apa Non Ajeng ingin menitip pesan?”


“Katakan bahwa saya masih menyimpan dan memakai brosnya.”

__ADS_1


Pak Jamil tersenyum. “Baiklah. Kalau begitu, bagaimana kalau sekarang kita masuk dan membicarakan tentang urusan kita?”


*******************


Waktu berlalu dan persiapan pernikahan Ajeng dan Bara hampir rampung. Meskipun lebih banyak diam dan menonton saja, Ajeng tetap dipaksa untuk ikut dalam setiap prosesnya. Mulai dari memilih baju, perhiasan, dekorasi, katering, undangan dan souvenir.


Seperti biasa, Ajeng hanya duduk termenung dan menunggu saja saat Bara sibuk memilih souvenir untuk para tamu undangan mereka.


“Ini gimana, Jeng?” tanya Bara menunjukkan sebuah mug dengan desain dan kemasan mewah kepada Ajeng.


Ajeng bergeming.


“Kalau yang ini?” tanya Bara lagi.


“Hemm..” jawab Ajeng tanpa menoleh.


“Atau yang ini aja?” tanya Bara menunjuk sebuah handuk dengan hiasan bordir tulisan nama pengantin.


Kali ini bukannya menjawab, Ajeng malah berdiri dan pergi jalan-jalan keluar.


Bara berusaha menjelaskan situasinya kepada pembuat souvenir agar tidak muncul gosip macam-macam. Ia terus memilih dan membiarkan Ajeng menenangkan diri di luar.


“Jeng! Makan yuk!” ajak Bara seolah tidak tahu apa-apa.


Ajeng hanya berdiri lalu mulai berjalan menuju mobil tanpa sepatah katapun. Di dalam mobil juga ia hanya melamun dengan tatapan kosong keluar jendela. Ketika makan, ia hanya mengaduk-aduk makanannya sambil melamun. Saat makan bakso, ia menuangkan seluruh isi botol saos ke mangkuk baksonya karena melamum.


Saat diajak jalan-jalan ke pusat perbelanjaan, ia berkali-kali tersesat dan salah jalan karena melamun. Bara bahkan menemukannya duduk menunggu di halte dekat pusat perbelanjaan seolah ia lupa bahwa datang kesana bersama Bara. Setelah Bara datang dengan mobilnya, Ajeng masuk begitu saja seolah tidak terjadi apa-apa.


Pernikahan mereka tinggal menunggu hitungan hari dan malam itu mereka mengadakan acara makan malam keluarga. Acara itu dihadiri Bara bersama kedua orang tuanya, Ajeng dan kedua orang tuanya, Ardan bersama istrinya, Alvin bersama Irene, tunangannya.


Mereka membicarakan banyak hal, tapi Ajeng hanya diam dan melamun. Ia bahkan hanya mengaduk-aduk makanannya dan tak menyuapkan apapun ke dalam mulutnya.


“Jeng!” panggil Pak Suryo karena tidak segera mendapat sahutan dari Ajeng saat ia membahas tentang putrinya itu.


“Ah, iya.” Sahut Ajeng kaget seolah baru tersadar dari lamunannya. Ia tidak sengaja menyenggol gelas air minum di sampingnya karena kaget dan itu sempat membuat kegaduhan sesaat


“Apa kamu kurang enak badan, Jeng?” tanya Bu Taufik.

__ADS_1


Bara langsung bangun dari duduknya, menghampiri Ajeng lalu mengajaknya berdiri. “Biar Bara antar Ajeng ke kamarnya.”


Ajeng terpaksa menurut karena ia juga tidak ingin terus berada di sana. Tapi tak lama kemudian, Ajeng bahkan pingsan sebelum tiba di kamarnya.


“Pak, Bu, apa tidak masalah melaksanakan pernikahan pada saat seperti ini?” tanya BuTaufik tiba-tiba. “Sepertinya kondisi Ajeng belum membaik.”


Bu Taufik mulai cemas dengan kondisi mental Ajeng setelah melihat amarahnya terakhir kali saat hendak memesan perhiasan kepada Pak Jamil.


“Ajeng baik-baik saja. Ia hanya merasa stres karena terlalu banyak yang harus ia siapkan dalam waktu yang begitu mepet dan mendesak.” Jawab Pak Suryo berusaha menenangkan calon besannya itu.


“Tapi emosinya sangat tidak stabil dan saya benar-benar khawatir tentang hal itu.”


“Nanti biar saya bicara sama Ajeng. Bu Taufik tenang aja yah!” sahut Bu Suryo tak mau dianggap tak perhatian.


“Alvin sudah selesai. Alvin pamit dulu.”


********************


Setelah mengantar Ajeng ke kamarnya, Bara berpapasan dengan Alvin saat keluar dari kamar Ajeng.


“Sudah tidur?” tanya Alvin


Bara menggeleng. "Dia pingsan lagi. Dokter bilang dia mengalami stress berat yang mengarah pada depresi. Gue bener-bener khawatir sama kondisinya."


Alvin menepuk pundak Bara. “Ini pasti berat buat kamu dan juga Ajeng. Apa lo ngga coba pikirin lagi tentang keputusan lo buat nikahin Ajeng. Ngga ada kebahagiaan yang bakal lo dapet dengan cara pemaksaan kaya gini. Yang ada kalian berdua bakal sama-sama terluka dan menderita."


“Gue cinta sama adek lo, Vin.”


Alvin sedikit kaget mendengarnya. “Bukannya lo bilang kalau lo terpaksa menerima perjodohan sama Ajeng?”


“Itu karena gue ngga mau lo nganggep gue cowok gampangan. Gue ketemu Ajeng sudah lama. Kami kabetulan bertemu di Madrid sepuluh tahun lalu dan sejak hari itu gue ngga pernah bisa ngelupain dia. Harusnya hari itu gue yang jemput Ajeng di bandara. Mungkin dengan begitu, dia ngga bakal pernah ketemu sama Wira dan menjadi seperti ini."


Alvin yang awalnya tenang karena tahu bahwa Bara dan Ajeng sama-sama terpaksa, sekarang malah khawatir setelah mendengar pernyataan Bara.


“Lo yakin kalau itu cinta? Bukan obsesi seperti bokap gue?”


“Lo bakal tahu kalau ini bener-bener cinta, Vin.”

__ADS_1


****************************


__ADS_2