
Ajeng masuk ke dalam kamar Abdi dan Wira sudah terlihat tertidur pulas di ranjang Abdi. Ajeng menghampiri dan mengamatinya sesaat. Ada banyak luka memar di wajahnya, juga bekas luka di ujung bibirnya dan tiba-tiba saja air mata Ajeng meleleh. Ia kemudian tanpa sengaja melihat gundukan di saku celana Wira.
Karena penasaran, Ajeng berusaha merogohnya dan mengeluarkan sepasang kaos kaki berlumur darah dari saku celana Wira.Ajeng refleks melempar kaos kaki itu ke lantai. Ia baru menyadari bahwa kaki Wira terluka dan mengeluarkan banyak darah. Ia bergegas bangun dari tepi ranjang hendak pergi mengambil kotak obat tapi Wira yang ternyata terbangun karena tangan Ajeng yang masuk ke saku celananya. Ia menarik tangan Ajeng dan mencegahnya pergi.
“Mas Wira belum tidur?” tanya Ajeng sambil kembali duduk di tepi ranjang. “Kaki Mas Wira luka?”
Wira menggeleng. Lalu Ajeng meraba kedua kaki Wira dari ujung kaki naik ke lutut lalu ke paha.
“Au!” pekik Wira ketika Ajeng menyentuh luka di paha kirinya.
Merasa berhasil menemukan tempat lukanya, Ajeng berniat membuka celana Wira dan memeriksa sendiri keadaannya. Tapi Wira lebih dulu mencegahnya, ia tidak ingin terjadi hal-hal yang tidak mereka inginkan. Menyadari maksut dan isi pikiran Wira, Ajeng buru-buru melepaskan tangannya dari celana Wira.
“Maaf.” Bisiknya lirih.
“Aku sudah ngga papa. Dokter sudah memeriksa dan ngobatin lukanya. Besok juga udah sembuh.”
Tiba-tiba saja Ajeng menangis. “Kenapa Mas Wira ngga bilang kalau terluka? Kenapa Mas Wira nahan semuanya sendiri dan nyembunyiin dari aku?”
“Jeng! Ini bukan apa-apa. Kamu ngga perlu nangis kaya gitu.”
“Tapi Mas Wira terluka karena aku.”
“Ngga. Bukan karena kamu, tapi karena bajingan itu. mereka yang seharusnya disalahkan.”
Ajeng kembali sesenggukan. “Dan kenapa juga kaos kaki kotor kaya gitu masih disimpan?”
“Karena itu pemberian dari seseorang yang sangat berharga.”
Ajeng mencebik. “Cih, tau gitu aku borong semua kaos kaki yang ada di pasar.”
“Mau alih profesi jadi pedagang kaos kaki?”
__ADS_1
Mereka saling pandang lalu tertawa bersama-sama.
Ajeng menatap Wira lalu tawanya tiba-tiba saja memudar, matanya mulai berkaca-kaca dan seketika ia menumpahkan semua air matanya di dada Wira yang masih tidur terlentang.
Wira memberanikan diri membelai rambut Ajeng. Perasaannya berkecamuk, antara rasa senang karena memiliki gadis itu di dekapannya, cemas karena Baron dan takut kehilangan karena tahu bahwa gadis itu bukan benar-benar miliknya bahkan satu-satunya gadis yang mustahil untuk dimilikinya.
“Kamu pasti capek. Tidur gih!” bisik Wira.
Tanpa menunggu perintah lebih lanjut, Ajeng langsung naik ke tempat tidur lalu tidur di dalam dekapan tangan Wira. “Makasih ya, Mas? Makasih karena kamu udah nepatin janji kamu buat jagain aku.”
Bukannya malah tertidur pulas, posisi itu membuat Wira makin gelisah. Efek obat yang tadi membuatnya mengantuk tiba-tiba saja menghilang. Jantungnya berdetak kencang dan tubuhnya mulai kegerahan. Pikirannya berkelana, tubuhnya memanas seketika. Keringat dingin mulai bercucuran sementara gadis itu terlihat santai dan semakin pulas.
Sadar bahwa Ajeng bukan wanita yang bisa sembarangan disentuhnya, Wira bergegas keluar dari kamar setelah memastikan gadis itu benar-benar terlelap.
“Loh, Mas Wira kenapa bangun?"
“Astaga! Bikin kaget aja sih!” gumam Wira kesal sambil menyeka dahinya dan menormalkan detak jantungnya.
"Terus kenapa keringetan gitu? Ac-nya mati? Atau karena teman tidurnya yang terlalu panas?” goda Abdi yang masih sibuk dengan tumpukan berkas di ruang tengah
“Udah kayanya. Udah sepi.”
“Di, ada yang mau aku omongin sama kamu.” Wira kemudian pergi ke mobilnya dan kembali dengan dokumen yang diberikan Alvin kepadanya.
Abdi membacanya dengan seksama. “Baron?”
Wira mengangguk. “Sepertinya dia kembali untuk membalas dendam kematian kakaknya.”
Wira kemudian menceritakan semua yang dialaminya bersama Ajeng seharian tadi. Mulai dari ketika mereka meninggalkan Graha Mukti sampai tidur di tempat Alvin.
“Alvin? Alvin Diningrat? Anaknya Pak Presiden? Jadi Bu Ajeng –“
__ADS_1
“Sssstttt! Jangan keras-keras!”
Abdi mengacak-acak rambutnya karena frustasi. “Bagaimana hal seperti ini bisa terjadi? Mbak Ajeng adalah putri bungsu dari rival politik papanya Mas Wira?”
Abdi kembali memukul-mukul kepalanya sendiri dengan tangan. “Dan sekarang putri rahasia Presiden satu-satunya sedang terlibat masalah dengan mafia prostitusi dan human trafficking. Ini pasti gila.”
“Itulah kenapa kita tidak bisa menghindar lagi dari Baron. Nyawa Ajeng terancam dan kita harus mencegah dia sebelum bisa menyentuh Ajeng sedikitpun.” Ujar Wira yakin.
“Apa benar hanya keselamatan Mbak Ajeng yang ada di kepalanya Mas Wira? Gimana dengan pencalonan Pak Prabu dan hidup Mas Wira sendiri?”
“Aku ngga peduli soal yang lain. Yang terpenting sekarang adalah keselamatan Ajeng.”
“Ini benar-benar gila!” gumam Abdi meratapi nasib buruknya. "Mas Wira bener-bener sudah gila karena cinta."
****************
Sementara itu, di dalam kamar Ajeng menggerutu kesal karena bukannya menemaninya tidur, Wira malah keluar meninggalkannya seorang diri dan memilih ngobrol sama Abdi.
'Tu orang cowok tulen bukan sih?! Masa iya sudah sedeket ini masih aja bisa kabur? Paling ngga, cium dikit kek!' gerutu Ajeng kesal.
Ia kembali bangun dan mengamati penampilannya di depan cermin. 'Masa iya kurang seksi?'
Ia kembali meliuk-liuk di depan cermin. 'Atau kurang menggoda?'
'Atau dia takut karena aku anak presiden?'
"Au ah, sebel!!!!"
Bruk!
Saking kesalnya, Ajeng tidak sengaja menabrak kursi sampai roboh. Ajeng bergegas naik ke tempat tidur dan berpura-pura kembali terlelap. Ia berharap Wira akan masuk ke dalam kamar dan mengecek keadaannya.
__ADS_1
Tapi setelah lama menunggu, pria itu tak kunjung muncul di kamar. Karena kesal, Ajeng memutuskan untuk benar-benar tidur dan berhenti berharap pada pria berhati batu itu.
***************