
Sejak saat itu, mereka mulai menata kembali hidup mereka dari awal. Wira berusaha mengumpulkan bahan yang ada untuk mendirikan sebuah rumah kayu kecil untuk mereka tinggal. Juga sebuah meja kecil untuk mereka makan malam berdua di bawah sinar bulan.
"Mas, aku butuh mandi!" celoteh Ajeng pagi itu.
"Bawa perlengkapan kamu, aku antar kamu mandi di rumah warga."
"Ngga, Mas. Sepertinya ngga bisa lagi. Mas Wira lihat kan kulit aku jadi gatal dan bersisik." tolak Ajeng sambil menunjukkan kulit tangannya kepada Wira.
Wira menghela nafas. "Ya sudah, ikut aku!"
"Mas, aku kan minta dianterin mandi? Kenapa malah ke klinik sih?" tanya Ajeng katika mereka tiba di depan klinik.
"Di pulau ini hanya ada dua tempat yang memiliki pasokan air tawar. Yang pertama, penjara dan itu jelas tempat paling berbahaya untuk kamu mandi."
Ajeng manggut-manggut karena tahu persis apa isi pikiran Wira. "Kamu takut para tahanan itu ngintipin aku mandi?"
Wira kembali menghela nafas. "Jadi itu yang kamu ada di otak kamu?"
"Jadi?"
"Kamar mandinya terletak di luar gedung di dekat pekarangan. Bisa gawat kalau tiba-tiba muncul ular saat kamu mandi."
"Oooooh... Jadi gitu?" jawab Ajeng tersipu-sipu.
Ia ternyata salah besar. Ia tak tahu apapun tentang isi pikiran Wira.
'Mungkin karena kami sudah lama tidak bertemu.' batin Ajeng mencari pembenaran.
"Tempat kedua adalah klinik ini." imbuh Wira.
__ADS_1
"Tapi darimana Mas Wira tahu kalau penjara dan klinik ini punya air bersih?"
"Kemarin aku sudah berkeliling untuk memastikan. Aku juga sudah minta ijin kepada dr. Husein, kepala klinik ini, untuk mengijinkan kamu mandi di sini sampai kita memiliki pasokan air tawar sendiri. Beliau sudah mengijinkan. Tapi karena air tawar menjadi salah satu barang langka di pulau ini, maka beliau tidak bisa memberikannya secara cuma-cuma."
"Berapa? Berapa kita harus bayar?"
Wira kembali menyentil dahi Ajeng. "Kenapa sih semua-semua harus kamu nilai pakai uang?"
"Terus apa dong? Katanya barang langka dan ngga bisa dikasih cuma-cuma."
"Beliau minta kita menjadi relawan di klinik ini. Mereka membutuhkan bantuan tenaga tapi tidak memiliko cukup dana sebagai upah."
"Deal. Asalkan bisa mandi dengan nyaman, jadi relawanpun ngga masalah."
"Anak pinter." puji Wira sambil mengacak-acak rambut Ajeng. "karena airnya sangat langka, mandinya jangan boros yah? Kasian kliniknya."
"Setelah mandi, kita akan ke pasar untuk membeli bahan makanan dan beberapa kebutuhan. Aku juga harus mengambil pesanan aku."
"Pesanan apa?"
"Kayu dan bahan lain untuk membuatkan kamar dan tempat tidur buat kamu. Kamu ngga akan bisa bertahan lebih lama lagi untuk tidur di dalam tenda."
Wira tersenyum sendiri mengingat kembali bagaimana gadis itu menggigil semalaman karena kedinginan meskipun sudah memakai selimut tebal. Juga bagaimana ia membolak-balikkan badan saat tidur karena tidak nyaman tidur di atas pasir beralaskan tikar.
'Jadi kemarin Mas Wira bukan kabur, melainkan mencari tahu semua yang aku butuhin selama di sini?' gumam Ajeng dalam hati.
Wira akhirnya menemui dr.Husein lalu berbincang sambil menunggu Ajeng selesai mandi. Setelah itu mereka pergi ke pasar seperti yang telah mereka rencanakan sebelumnya. Ajeng kebetulan bertemu dengan salah seorang pedagang kelapa yang duduk lesu dengan barang dagangannya yang masih menumpuk.
"Lagi sepi, Pak?"
__ADS_1
"Iya, neng. Panennya melimpah tapi yang beli sedikit."
"Boleh saya bantuin jualannya?"
"Ya bolehlah, neng... Boleh banget."
Dan di sanalah, Ajeng memulai pekerjaan barunya sebagai pedangan dan pemasok kelapa dari pulau Nusa Beringin.
************
Dalam waktu kurang dari satu bulan, mereka sudah memiliki rumah kayu berukuran kecil dengan satu kamar, satu ruang serba guna dan satu kamar mandi. Berkat kemampuan negosiasinya, Ajeng berhasil mendapatkan kepercayaan pemilik kebun kelapa untuk membantu menjualkan kelapanya di Pasar Beringin, satu-satunya pasar di pulau kecil itu.
Dengan uang hasil jualannya itu, Ajeng bisa membeli berbagai keperluan mereka. Wira juga ikut membantu para nelayan memancing ikan dan menjualnya di pasar. Mereka menjalani kehidupan sehari-hari yang keras dan sulit, namun sangat menyenangkan karena bersama orang yang mereka cintai.
Setelah berdagang di pasar, Ajeng akan mengajak anak-anak di pulau itu ke rumahnya. Disana, Wira sudah menyiapkan terpal untuk alas duduk dan papan kecil untuk mereka belajar menulis dan membaca.
Waktu berikutnya, Wira membuat lebih banyak meja agar anak-anak itu bisa menulis dengan lebih nyaman. Setiap kali ada sisa uang, mereka menitip buku dan alat tulis kepada nahkoda kapal yang hendak ke dermaga. Karena di pulau kecil itu tidak ada toko yang menjual alat tulis. Mereka kemudian memberikan buku dan alat tulis secara gratis kepada anak-anak yang mau belajar di rumah mereka. Jika punya banyak uang lebih, mereka membeli makanan dan membagikannya kepada murid mereka.
Semakin lama semakin banyak anak yang belajar di rumah mereka. Dan berita tentang Ajeng dan Wira itu menyebar cepat ke seluruh pelosok pulau kecil itu. Tidak hanya anak-anak yang tertarik untuk ikut belajar, melainkan juga orang dewasa dan bahkan orang yang sudah tua tapi belum juga bisa membaca dan menulis.
Karena semakin banyaknya peserta didik mereka, Wira kembali menyisihkan uang mereka untuk membangun atap semi permanen agar mereka tetap bisa belajar meskipun hujan. Rumah mereka seolah menjadi rumah kedua bagi seluruh anak di Nusa Beringin.
Setelah selesai bekerja dan mengajar anak-anak, Ajeng dan Wira akan bekerja sosial di klinik untuk membantu dokter Husein dan suster Dara yang bekerja berdua saja merawat begitu banyak pasien mereka. Kadang mereka ikut membantu ketika dokter Husein melakukan pemeriksaan rutin para napi di lapas Nusa Beringin. Ketika pulang, dokter Husein biasanya menghadiahi Ajeng dengan plester luka karena Ajeng sering sekali mengalami luka lecet dan goresan.
Sesekali, Ajeng juga mengajak anak didiknya belajar dari alam atau bahkan belajar sambil membantu di klinik dan pos penjagaan agar mereka lebih mengenal peran dan fungsi kedua lembaga milik negara itu. Sementara Wira lebih sering melatih anak-anak itu kekuatan fisik. Mulai dari olahraga ringan sampai tinju, mua thai bahkan pencak silat dan olahraga bela diri lainnya. Di tempat terbuka yang sangat terpencil itu, menurut Wira, ilmu bela diri sangat penting.
Ajeng juga menjadi lebih sering berlatih bersama Wira untuk mengasah kemampuannya. Mereka berlari di tepi pantai lalu berlatih dan bertarung di atas pasir pantai. Setelah itu mereka bisa berenang di pantai Beringin yang tenang dan jernih. Lalu kembali pulang untuk beristirahat dan bercengkrama.
***************
__ADS_1