
Hari itu, Ajeng sudah bisa turun sendiri dari ranjang. Meskipun untuk berjalan jauh ia masih harus mengandalkan kursi roda, tapi kondisi Ajeng sudah menunjukkan kemajuan pesat. Dengan bantuan para pengawal, Ajeng keluar untuk menghirup udara segar. Lalu seorang pria muda berpenampilan rapi, berkulut pucat dan berwajah tampan menghampiri Ajeng sambil membawakannya seikat karangan bunga yang sangat indah.
“Welcome back!” bisiknya kepada Ajeng “Kamu pasti Ajeng, kan? Kenalin aku Bara, calon suami kamu.”
Ajeng memalingkan mukanya dan membiarkan jabatan tangan Bara tak terbalas. Ia berharap pria itu akan marah dan meninggalkannya seorang diri. Tapi yang dilakukannya malah sebaliknya. Ia mendorong kursi roda Ajeng dan mengajaknya berkeliling taman rumah sakit sambil menjelaskan setiap sudut yang dilihat Ajeng.
Bukannya membuat Ajeng terhibur, taman itu justru membuat Ajeng ingin menangis karena teringat kepada Wira. Tapi Bara yang tidak menyadarinya terus saja mengajak Ajeng ngobrol satu arah. Karena Ajeng sama sekali tidak berniat untuk menanggapinya.
Meskipun dua orang pengawal terus saja mengikuti mereka, tapi pria itu seolah sama sekali tidak terpengaruh dan menganggap orang-orang itu tidak ada. Puas berjalan-jalan, Bara mengajak Ajeng mampir ke kantin rumah sakit sebentar.
“Mau sesuatu? Kopi?”
Ajeng kembali tertunduk lesu mendengar minuman yang belum berhasil Wira takhlukkan itu. Alih-alih menjawab, Ajeng justru mendorong sendiri kursi rodanya kembali menuju kamar. Para pengawal dengan sigap membantunya mendorong. Tapi Bara lebih dulu meraih dan mendorongnya kembali ke kamar.
Setelah kembali ke tempat tidur, Bara tetap saja setia menemani Ajeng meskipun Ajeng sudah berusaha mengabaikannya dan berpura-pura tertidur.
“Kamu pasti menemukan pengalaman yang sangat luar biasa di luar sana sampai-sampai kamu menolak untuk pulang.” Celetuk Bara sambil memainkan ponselnya di sofa penunggu.
“Maksud kamu?” Ajeng yang tadinya berpura-pura tidur akhirnya terpancing juga.
“Santai saja. Aku sudah tahu semuanya.”
“Keluarga kamu juga sudah tahu?”
__ADS_1
Bara menggeleng dan itu membuat Ajeng sedikit kecewa. Kalau saja Bara memberi tahu keluarganya, peluang perjodohan mereka dibatalkan akan sangat besar.
“Kenapa?”
“Karena aku ngga mau perjodohan kita dibatalkan.”
“Tapi... Kenapa?”
“Karena pernikahan itu akan sangat menguntungkan banyak pihak. Kita tidak bisa selalu bersikap egois dan hanya memikirkan diri sendiri.”
Merasa tersinggung dengan celotehan Bara itu, Ajeng kembali masuk ke dalam selimut dan berpura-pura tidur.
“Ya sudah, have a nice sleep. Besok, lusa, dan besok-besoknya lagi aku bakal datang lagi dan lagi sampai kamu juga menyetujui perjodohan kita.” Pria berlesung pipi itu akhirnya pergi setelah bicara panjang lebar.
Mendengar itu, yang ada di benak Ajeng hanya bagaimana cara melarikan diri dari sana. Ia tidak akan pernah menyetujui perjodohan itu, karena ia sudah menambatkan hatinya kepada orang lain.
**************
“Orang yang mencari tahu identitas kamu adalah Rega, orang yang berani lancang membawa kamu ke Graha Mukti.”
“Rega?” Ajeng menghembuskan nafas kasar. “Orang yang selalu mengganggu dan mengancam Mas Wira. Dia pasti ingin memanfaatkan aku untuk menjatuhkan Mas Wira.”
“Setelah orang yang memalsukan surat nikah kalian, sepertinya Papa sedang menyasar orang itu.”
__ADS_1
“Tunggu! Maksud kakak siapa? Dito?”
“Iya, pemuda yang baru pindah ke balai kota dari dinas kependudukan dan catatan sipil.”
“Iya itu Dito. Apa yang papa lakuin sama dia?”
“Dipecat dengan tidak hormat.”
Ajeng kembali menangis, “Kenapa Papa tega ngelakuin itu, Kak? Dito ngga salah apa-apa. Dia hanya diperintah atasannya.”
“Semua orang yang terlibat sudah dibersihkan dan sebentar lagi giliran Rega dan orang-orang pemkot yang terlibat dan mengenal kamu.”
“Ngga kak! Aku harus bicara sama Papa. Papa ngga boleh ngelakuin itu, mereka ngga salah, kak. Aku yang salah.”
“Maafin Kakak, Jeng. Kakak ngga bisa berbuat banyak untuk membantu kamu.”
“Kak, boleh aku minta tolong satu hal sama kakak? Tolong cari tahu dimana mereka menyimpan baju yang terakhir kali aku pake waktu kejadian.”
“Untuk apa?”
“Ada barang aku yang tertinggal disana, kak. Barang yang sangat berharga buat aku. Aku mohon.”
“Oke, oke. Setelah kondisi membaik, kakak akan cari tahu untuk kamu.”
__ADS_1
“Makasih, Kak.”
*********************************