8 To 4 : Istri Kontrak Sang Walikota

8 To 4 : Istri Kontrak Sang Walikota
Atas Nama


__ADS_3

Setibanya Ajeng di kantor, Manda sudah menunggunya untuk melakukan rapat terkait persiapan acara peringatan hari jadi dharma wanita yang akan di adakan di kota mereka.


“Apa lagi ini?” tanya Ajeng kepada Wira ketika melihat Manda sudah menunggunya di depan ruang rapat.


“Udah, masuk aja! Nanti juga tahu.” bisik Wira sambil terus berjalan menuju ruangannya di lantai dua.


Ajeng menempati tempat duduk yang sudah disediakan di samping Manda. Moderator rapat membuka acara rapat dan membacakan poin-poin penting yang akan mereka bahas dalam rapat hari itu, antara lain susunan acara hut dharma wanita, pengisi acara, pelaksana dan penanggung jawab acara.


Pembahasan demi pembahasan terus bergulir dan menghasilkan kesepakatan dari seluruh peserta rapat hingga masuk ke bagian inti yakni acara seminar yang mengharuskan Ajeng bertindak sebagai pembicara utama.


Ajeng membaca penjelasan tentang seminar tersebut dengan rinci, mengenai tema utama yang mengangkat masalah emansipasi wanita dan judul yang menukik kepada masalah penguatan peran wanita sebagai pilar rumah tangga. Ajeng sudah mendapatkan gambaran besarnya dan sama sekali tidak mengalami kendala besar dengan agenda itu.


Hanya saja, ia sampai pada keterangan bahwa acara tersebut akan dihadiri oleh istri para pejabat tinggi yang sangat berpengaruh mulai dari ibu gubernur sampai tokoh penggerak wanita tingkat provinsi. Ditambah lagi, acara itu akan diliput besar-besaran oleh media cetak dan elektronik.


Dari sana Ajeng mulai menemukan masalah besar untuk dirinya. Jadi ia memutuskan untuk menolak tugas tersebut.


“Maaf, tapi sepertinya saya tidak bisa menjadi pembicara dalam acara itu.” tolak Ajeng.


“Kenapa? Apa karena Bu Ajeng tidak tahu caranya berbicara di depan umum? Demam panggung?” cibir Manda yang disambut cekikikan oleh para peserta rapat lainnya.


“Bu Ajeng tidak perlu khawatir, kami akan mempersiapkan naskah yang bisa Bu Ajeng pelajari dan pergunakan saat menjadi pembicara nanti.” Imbuh salah satu petugas dari sekretariat kota.


“Sebelum acara kami juga akan memperkenalkan ibu dengan pengisi acara lain supaya ibu tidak canggung dan bisa bekerjasama dengan mereka.” Imbuh salah satu anggota panitia acara seminar.


“Apa kalian pikir, hanya itu masalah yang saya pikirkan? Kalau menurut kalian begitu mudahnya, kenapa tidak kalian saja yang menggantikan saya menjadi pembicara? Beres kan? Kita tunda rapatnya, saya permisi.” Ajeng keluar meninggalkan ruang rapay dan menuju ke ruangan Wira.

__ADS_1


“Apa-apaan ini? Bukannya saya sudah menambahkan dengan jelas klausul di kontrak kita bahwa saya tidak ingin diekspos dalam bentuk apapun?” protes Ajeng begitu sampai di ruangan Wira.


“Saya paham soal itu, tapi acara ini mengharuskan kamu untuk tampil sebagai ketua dharma wanita sekaligus tuan rumah.”


“Saya ngga mau tahu. Saya bukan berada di sini untuk membereskan semua kekacauan hidup kamu. Permisi.”


****************


Ajeng tidak pernah berharap bahwa akhir pekannya akan terganggu oleh urusan pekerjaan. Tapi pekerjaannya di hari jumat itu telah sukses merusak moodnya sepanjang hari. Karena jam kerjanya masih ada, Ajeng pergi ke pasar sayur Kalijaten untuk kembali mendekati para pedagang.


Ajeng tidak menyangka bahwa isu berhembus sangat cepat di Carang Sewu. Baru saja tadi pagi ia pergi ke rumah Pak Edi dan membantu membawa anaknya ke rumah sakit, beritanya sudah langsung menyebar ke seluruh pelosok pasar Kalijaten.


Para pedagang yang beberapa hari sebelumnya bersikap dingin kepadanya, hari berubah menjadi sangat ramah dan hangat. Mereka bahkan sudah memanggilnya dengan sebutan Bu Wali padahal ia belum sempat memperkenalkan diri.


Tidak hanya meladeni Ajeng berbincang, mereka bahkan menawarkan makanan dan minuman untuk Ajeng sebagai ucapan rasa syukur dan terima kasih karena sudah sangat perhatian kepada orang yang hampir mencelakainya.


“Biar saya bawa pulang saja. Nanti akan saya makan bersama Pak Wali karena beliau yang membantu anak Pak Edi, jadi saya pikir beliau lebih berhak untuk mendapatkan makanan dan minuman ini.” Ujar Ajeng sopan dan berhati-hati.


“Apa benar itu semua perbuatan Pak Wali?” tanya salah seorang pedagang. “Kami ragu karena dari yang kami dengar, Pak Wali itu sangat sombong dan tidak pernah mau berbaur dengan warganya. Beliau juga tidak pernah peduli kepada urusan warga dan lebih mementingkan dirinya sendiri.”


“Iya benar, katanya pekerjaan Pak Wali sehari-hari hanya menanam dan merawat tanamannya saja. Bagaimana mungkin kami percaya kepada orang yang lebih mencintai tanaman daripada kami warganya?” imbuh pedagang lain.


“Tunggu! Darimana Bapak dan Ibu mendengar berita menyesatkan seperti itu?” tanya Ajeng. “Saya istrinya dan saya tahu persis kalau Pak Wali bukan orang seperti itu.”


“Banyak yang bilang.”

__ADS_1


“Iya benar. Tidak hanya dari sesama warga saja, tapi juga para pejabat dan bahkan pak wakil walikota juga sering datang ke sini dan bilang kalau beliau mewakili pak walikota karena pak walikota sedang sibuk menyiram tanaman.”


Ajeng menghela nafas dalam-dalam lalu bergumam, “Pak Rega lagi, Pak Rega lagi.”


**************


Sesampainya di rumah, Ajeng beristirahat sejenak di kursi yang ada di teras rumah dinas Wira. Tiupan angin sore menerpa wajahnya dan menyapu rambutnya yang mulai kusam karena panas dan polusi hari itu. Ajeng menyandarkan diri di kursi sambil memejamkan mata, menikmati indahnya suasana sore tanpa kekangan dan pengawasan.


Tak ingin membuang-buang waktu, Ajeng bergegas bangkit untuk mandi dan melaksanakan agendanya akhir pekan itu. tapi langkahnya sempat terhenti ketika melihat sebuah surat kabar yang tergeletak di meja.


Artikel tentang kesuksesan acara Pekan Pasar Wisata mendominasi halaman utama dan menjadi sorotan penting surat kabar lokal yang diterbitkan divisi penyiaran pemkot Carang Sewu hari itu. Ajeng membaca artikel itu dengan seksama dan mulai merasakan adanya keanehan.


Bagaimana tidak? Gambar yang ditampilkan adalah gambar Rega bersama jajaran pemerintah kota yang terkait dengan acara tersebut tapi sama sekali tidak menunjukkan keberadaan Wira sebagai walikota.


Tidak hanya itu, isinya pun sebagian besar mengelukan dan membesar-besarkan peran Rega yang bahkan pada saat pelaksanaan acara itu tidak berada di Carang Sewu. Dan Ajeng berani bertaruh bahwa Rega tidak tahu menahu tentang masalah yang sebenarnya sedang mereka hadapi dan bagaimana ia bersama Wira berusaha keras mengatasi masalah itu.


“Rega....” gumam Ajeng lirih.


Pernyataan dari para petinggi kota Carang Sewu pun tak kalah berbeda. Hampir semuanya mengakui andil Rega dan Manda juga diri mereka masing-masing yang merasa mengambil peran sangat penting dalam menyukseskan acara itu. Para kepala dinas bahkan tidak sungkan untuk memuji diri mereka sendiri dan mengatakan bahwa mereka senang bisa mewakili walikota dan melakukan yang lebih baik daripada walikota.


Ajeng kembali menghela nafas panjang. Yang semakin membuatnya tidak habis pikir adalah, bagaimana mungkin harian Suara Warga yang merupakan ujung tombak suara pemerintah, dibangun dan dibesarkan di dalam tubuh pemerintah kota, tapi malah merilis kebohongan yang menyesatkan itu sebagai berita utama mereka.


Sekarang Ajeng bisa mengerti kenapa warga menilai sangat buruk kepribadian dan kinerja Wira. Harian bobrok itu juga memiliki andil besar dalam hal itu. Tapi yang Ajeng pertanyakan sekarang adalah kenapa Wira memilih untuk diam saja dipermainkan oleh tikus-tikus sawah seperti mereka. Padahal ia jelas-jelas memiliki kuasa dan kemampuan. Selain itu Ajeng juga yakin Wira pasti tahu kalau dirinya sedang dipermainkan.


Ajeng meremas dan melempar surat kabar itu ke lantai lalu menginjak-injaknya sampai koyak. Tapi karena jam empat sore sudah lewat, ia tidak ingin larut dalam urusan pekerjaan yang tidak pernah menjadi lebih penting daripada kebagiaan hidupnya. Jadi ia bergegas mandi dan bersiap-siap.

__ADS_1


**************************


__ADS_2