
"Kenapa sih mereka lebih percaya sama Pak Rega daripada Mas Wira?” gerutu Ajeng sesampainya di dalam mobil.
“Maaf Bu Ajeng, tapi memang seperti itulah faktanya. Sejak menjabat, Par Wira lebih banyak bekerja di balik layar dan Pak Regalah yang selalu tampil sebagai pahlawan warga kota.”
“Apa kerja Mas Wira sepayah itu?”
“Bagi orang yang tidak pernah melihat beliau bekerja tentu akan berfikir seperti itu. Di depan semua orang, dia selalu terlihat santai. Tapi dibalik itu semua, beliau adalah orang yang tidak pernah melewatkan satu kalipun kunjungan ke kawasan kumuh dan tertinggal yang selalu dilewatkan Pak Rega, beliau juga penyumbang terbesar untuk panti asuhan dan panti sosial kota kita yang tidak pernah terekspos. Bahkan gadis yang Bu Ajeng selamatkan waktu itu juga merupakan salah satu anak asuh beliau.”
“Apa? Jadi Mas Wira kenal sama anak itu?”
Yuni mengangguk.
“Lalu kenapa waktu itu Mas Wira menolak untuk membantunya dan kenapa juga Mas Wira ngga mau diekspos? Dan darimana kamu tahu soal itu?”
“Saya tidak tahu kenapa Pak Wira tidak pernah mau bersaing dengan Pak Rega dalam hal publikasi dan pencitraan. Tapi saya tahu karena saya yang membantu Pak Abdi untuk menemani beliau ke tempat-tempat itu.”
*******************
Masih ada satu jam lagi sebelum jam kerjanya hari itu berakhir, jadi Ajeng memutuskan untuk kembali ke balai kota dan menemui Wira. Tapi ia tidak menemukan keberadaan Wira dimanapun.
“Bapak kemana?” tanya Ajeng kepada salah satu staf sekretariat.
“Bapak pergi ke Desa Glahah, Bu. Baru aja berangkat.”
“Baru berangkat? Memangnya ada acara apa?”
“Pagi tadi ada panen raya sayur-mayur disana. Tapi karena ada tamu jadi Bapak ngga bisa datang tepat waktu.”
“Terus kenapa tiba-tiba memutuskan untuk berangkat kalau sudah sangat terlambat?”
“Bapak bilang kasihan kalau mereka masih nungguin kedatangan Bapak. Karena sudah ngga ada agenda lain lagi, habis makan siang tadi Bapak langsung berangkat kesana.”
“Ya sudah. Makasih infonya yah?”
“Sama-sama, Bu.”
Ajeng jadi kembali teringat perkataan warga soal Wira tidak pernah melakukan apapun untuk mereka. Padahal ia rela datang ke desa yang letaknya cukup jauh hanya demi melihat hasil panen warga, seperti yang Yuni katakan kepadanya.
__ADS_1
Ajeng jadi penasaran kenapa Wira justru menyembunyikan segala bentuk perhatian dan kepeduliannya kepada warga dan membiarkan Rega mengambil alih citra baiknya di mata warga. Ia juga sangat penasaran dengan model kepemimpinan seperti apa yang Wira terapkan selama ini, sampai-sampai warga apatis terhadapnya dan lebih mengagumi Rega daripada dirinya.
********************
“Eh, Bu Wali? Ada yang bisa saya bantu, Bu?” tanya salah satu petugas arsip yang kebetulan melihat kedatangan Ajeng.
“Iya, bisa minta tolong carikan surat ini?” Ajeng menyerahkan fotokopi surat ijin yang dimintanya dari panitia penyelenggara penyuluhan tadi.
“Baik Bu, mohon ditunggu!”
Beberapa menit kemudian petugas itu kembali dengan membawa salinan asli surat ijin yang Ajeng minta.
‘Jadi ini benar-benar tanda tangan Wira? Kenapa ia menandatangani surat seperti ini?’ gumam Ajeng dalam hati.
“Ada lagi yang bisa saya bantu, Bu?”
“Oh ngga, makasih.” Ajeng mengembalikan salinan asli surat itu kepada petugas arsip.
********************
Setelah jam kerjanya habis, Ajeng kembali ke rumah dinas dengan berjalan kaki. Kali ini banyak hal yang bersahutan di kepalanya. Jadi ia memutuskan untuk berolahraga ringan untuk mengendurkan syaraf-syaraf otaknya yang mulai tegang. Ia membuka ponselnya dan baru sadar bahwa ia tidak memiliki satu namapun dalam kontaknya. Ia menutup kembali ponsel barunya dan memasukkannya ke dalam tas.
“Sore. Bapak belum pulang?”
“Belum Bu.”
Karena merasa jenuh menunggu kedatangan Wira, Ajeng memilih untuk bersepeda sebentar di sekeliling rumah. Rumah dinas Wira menjadi satu-satunya hunian berada di kawasan balai kota. Sehingga mereka tidak memiliki tetangga seperti rumah pemukiman pada umumnya. Yang ada di sekitar rumah mereka hanyalah kantor balai kota, kantor DPRD Kota, masjid agung, alun-alun kota, puskesmas kota dan beberapa kantor dinas pemerintah kota.
Jadi yang Ajeng temui malam itu hanya bangunan milik pemerintah yang sedang tutup dan alun-alun kota yang ramai di tempati para pedagang kaki lima. Ajeng memutuskan untuk bersepeda mengelilingi alun-alun kota beberapa kali sebelum akhirnya berhenti untuk melihat-lihat bros yang dijual salah satu pedagang kaki lima di sana.
Setelah melihat sekian banyak bros, mata Ajeng terpaku pada sebuah bros kecil berbentuk bunga dihiasi mutiara.
“Pak kalau yang itu berapa harganya?”
“Neng tahu aja kalau ini barang bagus. Ini pake lapisan emas ditambah mutiara laut yang dipesan khusus.” Jelas si penjual bros. “Tapi maaf, bros ini sudah ada yang pesan.”
“Siapa?”
__ADS_1
“Adalah pokoknya. Pesanan khusus, katanya untuk hadiah istrinya.”
“Beruntung banget ya Bu, kalau kita punya suami kaya gitu.” Sahut Yuni yang tiba-tiba saja muncul di belakangnya.
“Eh, Yuni! Kok bisa ketemu disini?”
“Saya ngantar keponakan cari jajanan.”
“Oh...”
“Bu Ajeng suka brosnya?” tanya Yuni melihat Ajeng masih belum bisa mengalihkan pandangannya dari bros mutiara itu.
“Penasaran aja, kalau benar berlapis eman dan menggunakan mutiara laut yang langka dan mahal, kenapa pesennya di sini yah? Bukannya lebih bagus kalau pesan di pengrajin besar? Selain lebih bagus pengerjaannya, kualitasnya juga lebih terjamin karena bersertifikat.” Gumam Ajeng pelan sehingga si pedagang tidak mendengarnya.
“Bu Ajeng jangan salah. Meskipun berdagang di emperan kota seperti ini, Pak Jamil adalah salah satu pengrajin perhiasan paling terkenal di kota ini. Karena tidak memiliki lahan untuk membuka usahanya secara permanen, beliau terpaksa berdagang berpindah-pindah seperti ini. Coba Bu Ajeng lihat! semua bros dan cincin monel yang beliau buat desainnya bagus dan pengerjaannya juga sangat detail dan rapi.”
Ajeng melihat-lihat lagi sebentar, lalu pamit untuk pulang lebih dulu.
******************
Sesampainya di rumah, Ajeng mengecek ponsel yang sengaja ia tinggalkan di kamarnya. Ada dua puluh dua panggilan tak terjawab dari Wira masuk ke ponselnya itu. Karena penasaran, Ajeng kembali menghubungi nomor Wira.
"Halo?"
"Jeng, kamu kemana aja sih? Di telpon ngga diangkat-angkat."
"Habis bersepeda. Emangnya kenapa?"
"Tadi Bu Slamet, istri ketua DPRD singgah ke rumah untuk ketemu sama kamu. Tapi kamunya malah ngga ada di rumah."
"Mas, ini kan udah di luar jam kerja aku. Jadi aku bebas mau ngapain dan kemana aja. Aku ngga suka kamu ngatur-ngatur aku kaya gini."
"Iya tapi kan ini Bu Slamet, Jeng..."
"Mau Bu Slamet kek, istri presiden kek, ngga ada yang berhak ngatur-ngatur hidup aku."
"Beliau datang bersama Bu Asih, dinas perlindungan anak dan perempuan juga Ani, anak yang kamu selametin dari bapaknya kapan hari."
__ADS_1
"Apa?!"
***************************************