8 To 4 : Istri Kontrak Sang Walikota

8 To 4 : Istri Kontrak Sang Walikota
Informasi Valid


__ADS_3

Keesokan paginya, Bara berpamitan untuk kembali ke ibu kota dan Manda membawakannya banyak oleh-oleh khas Carang Sewu yang Bara pesan sampai bagasi mobilnya penuh.


“Kita langsung ke bandara?” tanya Dimas lagi.


Bara menengok jam di tangannya. “Masih tiga jam lagi. Kita ke kantor polisi dulu!”


“Mas! Untuk apa Mas Bara ngelakuin ini? Bukankah Mas Bara sendiri yang bilang kalau Mas Bara pengen nikahin Non Ajeng? Kalau orang itu keluar dari penjara, apa Mas Bara masih yakin kalau Non Ajeng masih bakal milih Mas Bara buat jadi suaminya?” tanya Dimas kesal.


“Dia ngga akan bisa memilih karena semuanya sudah ditetapkan. Tapi aku tetep ngga bisa diem aja ngelihat ada orang yang tidak bersalah dijebak dan difitnah habis-habisan seperti itu.”


Dimas terpaksa diam dan mengikuti semua keinginan bosnya itu. ia mengarahkan mobilnya menuju kantor polisi tempat Wira ditahan.


“Ada perlu apa lagi?” tanya Wira ketika melihat Bara kembali menemuinya.


“Apa anda tahu bahwa Pak Regalah yang menghubungi kantor Setneg dan membuat Pak Suryo tahu keberadaan Ajeng?”


“Pak Rega?”


“Sepertinya dia juga terlibat dalam upaya menjebak kamu dan Ajeng.”

__ADS_1


“Semuanya sudah terjadi. Tidak ada baiknya menambah korban lagi.” Tolak Wira.


Bara kemudian menyerahkan sebuah berkas ke hadapan Wira. “Aku mendapatkan informasi yang sangat valid. Pria itu terlibat dalam kasus korupsi pembangunan hotel di Desa Karangan. Jumlah dan korbannya cukup besar. Bukankan ini cukup untuk mengangkat kamu dari jebakan kotor ini?”


Wira langsung mengembalikan berkas itu tanpa membacanya lebih dulu. “Terima kasih karena sudah berbuat sejauh ini. Tapi Carang Sewu membutuhkan dia dan saya tidak butuh orang lain lagi untuk menjadi korban dalam masalah ini.”


“Tunggu! Apa kamu yakin akan memilih untuk menjadi pecundang seperti ini?”


“Apa peduli kamu? Bukankah lebih baik kalau saya tetap disini? Bukankah ini adalah satu-satunya cara agar Ajeng mau menikahi Anda?”


Sekarang giliran Bara yang terdiam seribu bahasa. Wira benar. Ia lah yang pecundang karena harus menumbalkan orang lain demi bisa menikahi Ajeng.


*******************************


Dua hari kemudian, Pak Suryo kembali ke rumahnya dan langsung menemui Ajeng di kamarnya. Ajeng yang sudah beberapa hari menolak untuk makan dan minum obat terkulai lemah dan bergantung pada infus yang menempel di tangannya.


“Bagus kamu masih hidup!” maki Pak Suryo yang sangat kesal dengan sikap memberontak Ajeng.


“Apa Papa berharap kalau Ajeng mati saja?”

__ADS_1


“Apa kamu pikir setelah mati kamu bisa ketemu lagi sama preman sialan itu?”


“Ngga. Aku ngga bakalan biarin Mas Wira mati gitu aja. Tapi seenggaknya, aku bisa ketemu sama ibu.”


“Ajeng! Mau sampai kapan kamu kaya gini?”


“Sampai papa lepasin Mas Wira dari penjara.”


“Berapa kali Papa bilang? Papa ngga bakal lepasin bajingan itu sebelum kamu nikah sama Bara. Sebanyak apapun orang di luar sana yang kamu hubungi untuk membantu bajingan itu, semua tidak akan berhasil. Karena mereka tidak akan bisa melawan Papa.”


Ajeng bangkit dari tidurnya dan mencoba duduk di ranjang. “Pa! kenapa sih Pa, papa ngga ngelepasin Ajeng aja? Bukannya ngga akan ada pengaruhnya buat Papa? Ajeng ngga pernah jadi siapa-siapa buat Papa. Nama Ajeng bahkan ngga pernah ada di kartu keluarga Papa. Ajeng ngga lebih dari aib, anak harap dari simpanan Papa yang harus selalu ditutupi dan disembunyikan dari dunia.”


Suryo mengangkat tangannya hendak menampar Ajeng tapi ia berusaha menahannya ketika melihat infus masih menempel di tangan Ajeng.


“Kenapa berhenti Pa? Tampar! Ajeng bahkan ngga pernah ngerasa sakit sedikitpun karena rasa sakit yang Ajeng rasakan sekarang jauh lebih besar dari apapun.” Teriak Ajeng dengan berlinang air mata. “Tampar, Pa!”


Suryo menurunkan tangannya lalu meninggalkan kamar Ajeng dengan perasaan hancur.


‘Karena kamu anak Papa, Jeng.’

__ADS_1


***********************


__ADS_2