
Setelah resmi menjadi istri Wira sekaligus Ibu Walikota Carang Sewu, Ajeng benar-benar merasa hidupnya bagai bermain roller coaster, sebentar jadi nona muda, sebentar jadi buronan, lalu jadi pengantin pejabat negara dan sekarang jadi pegawai pemerintah biasa. Ia tiba-tiba saja sudah berdiri di samping Wira di hadapan seluruh pegawai kantor pemerintah kota Carang Sewu yang sedang melakukan apel pagi.
“Selamat pagi semua, pagi ini saya ingin menyampaikan berita bahagia sekaligus ingin memperkenalkan seseorang kepada rekan-rekan semua. Perkenalkan, ini Ibu Ajeng, ibu walikota kita yang baru.”
“Woooooow!”
“Suit-suit.”
Suasana tiba-tiba saja menjadi gaduh setelah Wira memperkenalkan gadis yang baru saja dinikahinya itu.
“Mulai hari ini, beliau akan membantu saya untuk mengurusi semua permasalahan kota, membuat kehidupan warga menjadi lebih maju dan makmur.”
Tepuk tangan bergemuruh di seluruh sudut lapangan. Siulan dan sorakan silih berganti mengiringi setiap kata yang Wira sampaikan. Kebahagian semakin lengkap ketika Wira mengatakan akan mentraktir makan siang semua staf hari itu untuk merayakan pesta pernikahannya.
*************************
Kisah tentang Ajeng dan Wira menjadi topik pembicaraan paling hangat pagi itu. Hampir semua orang di balai kota membahas tentang hubungan keduanya. Tidak sedikit yang ingin tahu latar belakang dan kisah pertemuan keduanya sampai memutuskan menikah. Secara, sebagian besar dari mereka tahu betul bahwa atasannya itu sangat sulit untuk didekati wanita.
Namun, tidak sedikit juga yang justru merasa terganggu dan nyinyir atas terpilihnya Ajeng sebagai istri Wira. Selain tidak jelas asal-usul dan latar belakangnya, Ajeng terlalu cantik untuk dijadikan istri walikota di kota terpencil seperti Carang Sewu. Baru sekali tampil di hadapan pegawai saja, hampir semua mata pegawai pria melompat keluar menghampiri Ajeng. Tidak satupun dari pria-pria itu yang tidak memuji kecantikan dan penampilan Ajeng yang cetar bak model papan atas. Dan itu justru membuat Manda kesal bukan kepalang.
Selesai apel pagi, Wira langsung mengajak Ajeng masuk ke ruang kerjanya. Mereka duduk berhadapan di sofa tamu dengan tumpukan dokumen yang sudah siap menunggu mereka di atas meja. Wira mengambil salah satunya dan memberikannya kepada Ajeng. “Ini tugas pertama kamu.”
Ajeng membaca dokumen berjudul ‘Pekan Pasar Wisata Carang Sewu tahun 2005’ di bagian depan dokumen yang diterimanya.
“Acara ini sudah berjalan tiga hari sampai hari ini. Tapi jumlah pedagang dan pembeli yang berpartisipasi jauh dari angka yang ditargetkan. Tugas kamu, meningkatkan partisipasi warga, baik pedagang maupun pembeli, dalam waktu yang masih tersisa.”
“Berapa hari?”
“Empat.”
Ajeng membuka laporan terakhir mengenai angka partisipasi terbaru. “Kamu gila yah?! Mana mungkin aku bisa mendongkrak sebanyak itu. Sudah separo dari waktu pelaksanaan, angkanya bahkan belum menyentuh dua puluh lima persen. Ini panitianya yang mlempem atau penggagasnya yang terlalu berfantasi?”
“Buka halaman lima!”
Ajeng menuruti perintah Wira dan menemukan berbagai alasan dan kendala yang telah diidentifikasi sebagai penyebab dari gagalnya acara tersebut mencapai target yang telah ditetapkan.
__ADS_1
“Wah! Ngga kebayang seburuk apa pemerintahnya sampai warga jadi seapatis ini.” Sindir Ajeng sarkas.
“Itulah kenapa saya mau mempekerjakan kamu. Saya butuh partner yang bisa mendongkrak popularitas dan kredibilitas saya sebagai pemimpin.”
“Dasar picik! Pemimpin macam apa yang menggantungkan kredibilitasnya pada orang asing yang baru dua hari dia kenal.”
“Bukan menggantungkan. Kadang seseorang butuh tumbal untuk bisa menjadi pahlawan.” Balas Wira puas.
“Apa?! Tumbal?! Dasar licik!” cibir Ajeng sambil membuang muka.
Wira mengamati jam di tangannya. “Sudah waktunya kamu bekerja keras.”
Dengan raut muka kesal dan bibir monyong lima centi, Ajeng mengambil berkas Pekan Pasar Wisata (PPW) dan bergegas keluar dari ruangan Wira.
“Selamat pagi, Bu. Saya Yuni, dari bagian sekretariat. Hari ini Pak Wali minta saya untuk menemani ibu mengurus masalah PPW.” Sambut Yuni begitu Ajeng keluar dari ruangan Wira.
"Astaga!" Ajeng masih mengelus-elus dadanya karena sempat terkejut dengan keberadaan Yuni yang diam-diam menunggunya di depan pintu. “Oke. Kita berangkat sekarang.”
**********
Berdasarkan informasi dari Yuni, Ajeng memutuskan untuk memulai tugasnya dari alun-alun kota, tempat PPW diselenggarakan. Ia berkeliling mengamati tata letak dan suasana di sekitar. Ia kemudian melakukan beberapa penyesuaian dengan membuat lokasi jadi lebih terbuka dan terlihat dari pinggir jalan A. Yani yang merupakan jalur utama yang selalu ramai dengan lalu lalang pengguna jalan.
“Acaranya meriah, Bu. Tenannya banyak dan harganya murah-murah. Kalau mau jualan disana juga bisa. Biaya retribusinya kecil dan peluang lakunya gede. Pembelinya ngga pernah sepi. Mulai dari anak-anak, remaja sampai kakek-nenek pada dateng buat nongkrong dan belanja-belanja disana.” Jelas Ajeng hiperbola.
Dasar ibu-ibu, langsung saja percaya dengan apa yang mereka dengar. Dalam sekejap isu itu menyebar ke seantero pasar. Aksi itupun akhrinya diikuti Yuni dan para pegawai wanita lainnya demi mempercepat penyebaran promosi tentang even yang tengah mereka gelar.
Namun, rupanya bukan hanya ajang pasar wisata yang menjadi topik pembahasan hangat di pasar hari itu. Isu tentang pernikahan Ajeng dan Wirapun rupanya sudah masuk ke dalam pasar dan tengah digandrungi ibu-ibu biang gosip.
“Apa kalian sudah dengar kalau Pak Wali sudah nikah?”
“Iya sudah. Kabarnya istrinya cantik mirip artis.”
“Iya bener. Katanya juga jago bahasa jepang. Hebat banget kan? Jarang-jarang ada perempuan sini yang lancar ngomong pake bahasa asing.”
“Eh, tapi denger-denger ni yah? Istrinya perempuan ngga bener. Mereka sudah tidur sekamar waktu di Siliwangi.”
__ADS_1
“Masa sih? Tapi ada yang bilang kalau mereka malah masih tidur terpisah di rumahnya meskipun sudah nikah.”
“Wah, ada yang ngga beres ini.”
“Iya.... Jangan-jangan baru nikah sudah cek-cok.”
“Perempuan kota emang gitu... Suka susah diatur dan berani sama suami. Masa baru nikah suami sudah dianggurin. Nanti kalau ditikung sama perempuan lain, baru tahu rasa.”
“Bener itu... Kita tunggu aja. Pernikahan mereka pasti ngga akan langgeng. Paling-paling cuma bertahan seumur jagung.”
“Iya, Pak Wali kan banyak yang naksir, pasti ngga bakalan betah sama istri model begitu.”
"Kasian ya Pak Wali, kalau sampai cerai lagi, karirnya bakal bener-bener tamat."
"Heeh, bener itu.."
Ajeng menghembuskan nafas kasar. Bisa-bisanya mereka membicarakannya seperti itu dan siapa juga yang menyebarkan berita palsu seperti itu kepada warga. Tak ingin membuat keributan di hari pertamanya bekerja, Ajeng memilih untuk menahan diri dan melanjutkan tugasnya hari itu.
*************
Tak cukup merasa puas hanya dengan mendatangi pasar-pasar, Ajeng juga mendatangi banyak tempat tongkrongan bapak-bapak dan remaja, menyebarkan brosur dan memasang spanduk-spanduk di lebih banyak titik untuk menarik animo masyarakat.
“Bu, kita sudah berkeliling seharian, apa ngga sebaiknya kita istirahat dulu sebentar?” tawar Yuni yang mulai kelelahan mengikuti langkah Ajeng yang cekatan dan anti lelet.
Ajeng melihat jam di tangannya. “Kalau kamu capek, silakan istirahat di sini dulu aja. Saya akan melanjutkan pekerjaan saya sedikit lagi.”
Dalam sekejap, Ajeng sudah masuk ke salah satu mobil dan minta diantar menuju salah satu stasiun radio lokal. Meskipun lelah, Yuni tidak berani istirahat karena atasannya masih terus bekerja. Jadi ia tidak punya pilihan lain selain mengikuti Ajeng menuju stasiun radio.
Setelah melalui kepadatan lalu lintas, mereka akhirnya berhasil tiba di Carang Fm.
“Silakan, Bu.” Ujar Yuni membukakan pintu mobil untuk Ajeng.
“Besok aja kita balik lagi. Jamnya sudah habis.” tolak Ajeng sambil tersenyum.
“Maksud Ibu jam siarannya sudah habis?”
__ADS_1
“Jam kerja saya yang sudah habis.” Jawab Ajeng sambil menutup kembali pintu mobilnya.
*******************