8 To 4 : Istri Kontrak Sang Walikota

8 To 4 : Istri Kontrak Sang Walikota
Pilihan Nyonya


__ADS_3

Malam itu, Abdi, Alda, Dito dan Yuni sudah berkumpul di rumah dinas ketika Wira pulang. Mereka sudah sepakat untuk makan malam bersama guna merayakan keberhasilan mereka meringkus Baron cs.


"Jadi makan apa kita malam ini?" Tanya Abdi membuka obrolan.


"Steak di resto 55." Yuni sudah lama ingin makan di resto termahal di Carang Sewu itu.


"Master Sea aja. Bu Ajeng harus tahu resto seafood terpopuler di Carang Sewu." usul Dito


Alda tak mau ketinggalan menyampaikan idenya. "No..no..no...Resto Aruka Hotel paling cocok. All you can eat udah paling cocok buat pesta kaya gini."


"Dasar rakus lo!" timpal Abdi


"Bebek goreng gajahmada." Usul Ajeng


"Hah?!" Sahut semuanya bersamaan.


"Hari gini cuma bebek gajahmada?" Keluh Yuni yang sudah bosan dengan bebek kaki lima di jalan gajahmada itu.


"Iya nih, Mbak Ajeng ngga asyik banget. Masa momen kaya gini makannya di depot pinggir jalan?" protes Alda juga.


Wira mengamati wajah semua temannya itu satu per satu.


"Deal. Bebek gajahmada."


"Hah?!!!!! Mbak Ajeng apaan sih pake ngusulin itu segala."


************


Meskipun penuh rasa kesal dan keluh kesah, toh pada akhirnya pendapat Ajenglah yang paling penting bagi Wira. Tidak hanya soal tempat saja, Ajeng bahkan meminta Wira untuk menemaninya berjalan kaki daripada memakai mobil menuju jalan gajahmada.


Dan tentu saja permintaan itu langsung disambut aksi protes keempat rekan mereka. Meskipun jaraknya tidak sampai satu kilometer, tapi berjalan kaki saat perut lapar membuat beban hidup mereka terasa kian berat. Namun apa daya, mereka tidak mungkin bersikap kurang ajar dengan tetap naik mobil sementara bos mereka berjalan kaki.


"Ah, akhirnya sampe juga." Ujar Alda ketika tiba di depot bebek goreng jalan gajahmada. "Es teh jumbo dua gelas bu!"


"Malam Pak Wali! Mau pesan apa?" Sapa ibu pemilik depot.

__ADS_1


"Mau pesen apa Jeng?" Tawar Wira.


"Kan Mas Wira yang ditawarin, kok malah nanya Mbak Ajeng sih?" Protes Alda sambil menyeruput es teh jumbonya.


"Perkataan istri itu titah buat suami. Ngerti ngga kamu?!" Balas Wira.


"Dih, si paling punya istri..." Cibir Dito


"Aku ngikut Mas Wira aja deh.. Apa aja." Potong Ajeng sebelum ledekan teman-temannya semakin panjang.


"Ya sudah bebek gorengnya enam, paru campurnya dua porsi, sama tambah satu sambal ngga pedes."


"Mana enak makan sambel ngga pedes?" Celetuk Yuni. "Di depot ini yang paling terkenal kan sambel ekstra pedesnya, Pak."


"Istri saya ngga bisa makan makanan yang terlalu pedes." Jawab Wira sambil melirik kepada Ajeng yang duduk di sampingnya.


"Makasih." Bisik Ajeng dengan wajah tersipu-sipu.


Dan tiba-tiba saja Wira ikutan grogi dan salah tingkah.


"Mas Wira bisa juga ngiket rambut? Sejak kapan? Belajar dimana?" Goda Alda.


"Berisik."


"Emang bener yah kata orang. Jatuh cinta bikin orang jadi serba bisa. Bisa tiba-tiba senyum-senyum sendiri kaya orang gila, bisa tiba-tiba nangis sendiri kaya orang kesurupan, bisa tiba-tiba manis padahal aslinya bengis -" celetuk Abdi.


"Kamu mau ngatain saya bengis?"


"Bukan gitu, Pak. Ini kan cuma perumpamaan." Ralat Abdi cepat.


"Iya, tapi kamu ngomong bengisnya sambil ngeliat muka saya."


Abdi langsung nyengir mempertontonkan deretan gigi putihnya, "Hehehe... Ada bagusnya Pak Wira jadi makin peka."


"Dasar! Oh ya, ada kabar baik yang mau aku bagi sama kalian. Pertama, Mr. Suzuki akan datang ke sini lusa untuk rencana realisasi proyek. Kedua, relokasi pasar Kalijaten sudah rampung dan mereka sangat berterima kasih kepada kita. Kalau aja bukan karena Ajeng, sampai sekarang aku bakal tetep berfikir kalau relokasi Kalijaten itu tugas yang sia-sia.”

__ADS_1


Ajeng tersenyum mendengar kabar baik yang baru saja Wira sampaikan.


“Dan satu lagi, soal Ani. Dia sudah berada di bawah penanganan dinas perlindungan wanita dan anak-anak. Ayahnya juga sudah ditangani dinas sosial. Keberanian Ajeng sudah berhasil menyelamatkan sebuah keluarga dari kehancuran.”


“Aku? Itu semua karena Mas Wira. Mas Wira yang selama ini merawat dan membantu Ani dan keluarganya diam-diam. Mas Wira juga yang berhasil meyakinkan Mr. Suzuki untuk mempercayakan investasinya di tangan Mas Wira dan terakhir, sama seperti Pasar Wisata, Mas Wira juga yang diam-diam mendatangi kediaman para pedagang dan meyakinkan mereka untuk percaya kepada niat baik pemerintah.”


“Darimana kamu tahu?” tanya Wira yang justru dibuat kaget dengan keakuratan informasi yang Ajeng dapatkan.


“Kan sudah aku bilang, jangan terlalu percaya sama orang-orang di sekitar kita, hehe...”


Wira langsung mendelik ke arah Abdi dan pria berambut klimis itu buru-buru menunduk menghindari tatapan maut Wira.


"Mas!"


"Iya sayang?"


"Eciyeeeee... "


Wajah Ajeng dan Wira memerah seketika. Wira menggigiti bibirnya yang memiliki refleks terlalu bagus hingga sukses mempermalukannya di hadapan teman-temannya.


"Sayang, pulang yuk!" Goda Ajeng sambil menoel lengan Wira dan Wira menunduk semakin dalam demi menyembunyikan rasa malunya.


"Saya ijin langsung pulang aja ya, Pak, Bu?" Sahut Yuni cepat.


"Saya pulang bareng Yuni. Kebetulan kosan kami searah." Imbuh Dito cepat.


"Tapi kan motor kalian masih di rumah?" Tanya Abdi dengan polosnya.


Dan Alda langsung menyeret kembaran lugunya itu keluar dari depot.


"Ngga peka banget sih jadi orang?! Lo ngga lihat mereka lagi mesra-mesraan? Masih aja mau digangguin!" Omel Alda ketika mereka keluar dari depot.


"Lah kan cuma nanya? Salahnya dimana?"


"Lo kebanyakan nanya aja itu udah salah. Makanya jangan kelamaan jomblo biar kepekaan lo makin terasah. Pantes aja lo cocok kerja sama Mas Wira. Sama-sama pentium satu."

__ADS_1


*************************


__ADS_2