
Usai keluar dari depot, Ajeng dan Wira berjalan kembali ke rumah. Wira kemudian mengeluarkan sebuah kotak dari kantongnya dan memberikannya kepada Ajeng. “Ini hadiah buat kamu.”
“Apa ini, Mas?” tanya Ajeng sambil membuka kotak berisi sebuah bros berbentuk bunga berlapis emas dan berhias mutiara laut yang pernah dilihatnya bersama Yuni.
“Ini adalah karya Pak Jamil, pengrajin perhiasan terbaik kota ini dan ini adalah satu-satunya."
“Tunggu! Bukankah ini dibuat sama pedagang yang jualan di alun-alun?”
"Kok tahu?"
"Aku pernah lihat ini waktu jalan-jalan sama Yuni di alun-alun. Katanya ini pesanan khusus."
Wira mengangguk. "Aku memang memesan ini khusus buat kamu."
"Jadi yang dimaksut istri tercinta itu aku?" Goda Ajeng lagi
Dan Wira mempercepat langkahnya mendahului Ajeng karena tidak tahan terus-terusan mendengar ledekan Ajeng yang membuatnya malu. Seolah tak ingin melepaskan mangsanya begitu saja, Ajeng langsung menyusul Wira dan menggandeng tangannya erat.
"Kalau dipikir-pikir, sejak nikah kita belum pernah jalan sambil gandengan tangan kaya gini yah?"
Wira menatap Ajeng sambil tersenyum dan mengeratkan genggaman tangannya.
"Eh, Pak Wali?" Sapa salah satu warga yang berpapasan dengan mereka di jalan.
"Iya Bu. Ibu darimana?" Balas Wira ramah.
"Ini nganter anak-anak beli buku. Ini Bu Wali?"
Wira melepadkan genggaman tangannya lalu memeluk Ajeng di hadapan warganya itu. "Iya, ini Ajeng, istri saya."
"Ya ampum, cantik banget Bu Wali. Kalian memang pasangan paling serasi se-Carang Sewu."
"Makasih, Bu."
"Saya permisi dulu Pak Wali." Pamit ibu itu sebelum pergi.
__ADS_1
"Apa iya kita pasangan serasi?" Tanya Ajeng ketika mereka kembali berjalan pulang.
"Emang ngga? Aku cowok, kamu cewek. Aku ganteng, kamu cantik."
Ajeng tertawa mendengar jawaban konyol Wira. Wira kemudian mengeratkan pelukannya dan melanjutkan perjalanan mereka.
"Kita mampir ke alun-alun bentar yah, sayang? Aku mau bilang makasih juga sama Bapak yang bikinin bros ini."
telinga Wira memerah mendengar Ajeng kembalo menyebutnya sayang. "Tapi beliau udah ngga jualan di sana lagi.
"Hah?! Kenapa?"
"Udah pindah."
"Kemana?"
“Ke ibu kota.”
“Hah?!”
“Kabarnya Pak Jamil mendapat kepercayaan untuk membuat perhiasan milik sebuah keluarga konglomerat di ibu kota. Beliau dijemput langsung beberapa hari yang lalu.”
Wira kemudian berhenti sejenak dan memakaikan bros di baju Ajeng. “Cantik.”
“Brosnya?”
“Kamu.”
Wajah Ajeng bersemu merah seketika. "Mas Wira bisa aja...."
Wira kembali berjalan mendahului Ajeng dan kali ini Ajeng langsung melompat naik ke punggung Wira minta digendong.
“Mas boleh aku tanya sesuatu sama kamu?”
Wira mengangguk.
__ADS_1
“Apa benar kamu nikahin aku karena Mr.Suzuki dan Monica?”
Pertanyaan yang selalu berusaha Wira hindari itu akhirnya keluar juga dari bibir Ajeng. Setelah apa yang mereka lalui selama ini, Wira merasa tidak bisa lagi terus-terusan berbohong kepada Ajeng. Jadi ia menggeleng.
“Kamu pasti tertawa kalau tahu alasannya.”
Ajeng mengacungkan kedua jari telunjuk dan tengahnya ke udara. “Janji ngga ketawa.”
“Dulu ada seorang peramal ala-ala yang diundang ke acara ultah perusahaannya papa. Waktu itu aku masih kecil dan peramal itu bilang kalau aku bakal ketemu sama jodoh aku di tempat tinggi. Dan waktu pertama kali aku lihat kamu hari itu, aku langsung ingat ramalan itu dan yakin kalau kita berjodoh.” Jelas Wira dengan tersipu-sipu.
“Jadi Mas Wira beneran percaya sama omongan peramal itu?” Ajeng mulai tertawa terbahak-bahak.
"Tuh kan?! Padahal udah janji ngga ketawa."
“Tunggu! Jadi itu love at the first sight?”
“Ngga bisa dibilang first sight juga sih... Kamu ingat kan gimana pertemuan pertama kita?”
“Aaargh!” Ajeng menyembunyikan wajahnya yang memerah karena malu di pundak Wira. “Ngga, ngga. Mas Wira ngga boleh nginget itu. Aku malu banget...”
Pertama kali melihat Ajeng makan dengan tamaknya, Wira langsung kehilangan nafsu makan. Ditambah lagi, adegan muntah Ajeng di hadapan Wira membuat Wira semakin merasa ilfil dengan gadis itu.
Mereka tiba di alun-alun dan Wira menurunkan Ajeng lalu membantunya duduk di sebuah kursi taman.
“Tapi pagi itu, kamu berbeda. Cantik, percaya diri, anggun dan membuat aku ngerasa bahwa aku harus ngelindungin kamu.” Imbuh Wira.
Jantung Ajeng berdegup kencang ketika Wira tiba-tiba saja berjongkok di hadapannya sambil menggenggam tangannya. “Maaf karena aku tidak memperlakukan kamu dengan layak selama ini. Kalau saja aku tahu kamu –“
Ajeng sudah lebih dulu menutup bibir Wira dengan bibirnya. Ia tidak ingin mendengarkan kelanjutan cerita Wira. Ia hanya ingin menunjukkan bahwa ia juga sangat mencintai pria itu entah siapapun dia dan bagaimanapun latar belakangnya.
Wira segera menyadari ketidaksopanannya dan mulai menarik diri dari Ajeng. Ajeng segera menahan Wira agar tetap berada pada posisinya. “Hari ini aku hanya seorang Ajeng, wanita yang kamu nikahi secara –“
Kali ini Wira yang sudah lebih dulu mengecup bibir Ajeng agar ia tidak bisa lagi melanjutkan kalimatnya. Ia tidak ingin kata 'kontrak' itu terus menghantui pernikahan mereka.
Wira melepaskan bibirnya. “Dan wanita yang paling aku cintai.”
__ADS_1
Serangan balasan tak lagi bisa terhindarkan. Keduanya menikmati indahnya sentuhan bibir yang merupakan sebuah pelanggaran besar dalam kontrak pernikahan mereka.
************************