
Wira sudah memesankan semua menu istimewa yang ada di rumah makan yang mereka singgahi siang itu. Sup buntut tanpa merica, iga penyet tidak pedas dan ca baby kailan. Tapi Ajeng sama sekali tidak memperlihatkan niat untuk mencicipi semua yang sudah Wira pesankan untuknya.
“Mas Wira aja yang makan!” ujarnya sambil bangun dari duduknya dan berjalan kembali ke mobil.
“Tunggu! Kamu tuh kenapa sih, Jeng? Apa yang bikin kamu semarah itu?”
Ajeng menghentikan langkahnya. “Aku marah karena Mas Wira ngejual aku sama Pak Rega, aku marah karena Pak Rega ngejebak aku dan aku marah karena semua ini ngga lebih dari cara Mas Wira manfaatin aku.”
“Siapa yang mau manfaatin kamu? Kita kan sudah sepakat –“
Ajeng mengangkat tangannya untuk menghentikan argumen Wira. “Persetan dengan kontrak itu. Aku mau kita cerai.”
“Jeng!” Wira mengejar langkah Ajeng.
“Oke, aku minta maaf. Aku –“ belum sempat menyelesaikan kalimatnya, Wira lebih dulu melihat sebuah mobil yang sedang mengawasi mereka dari kejauhan. Wira buru-buru menarik tangan Ajeng dan membawanya masuk ke dalam mobil.
“Mas Wira kenapa sih?” protes Ajeng.
Wira mengencangkan sabuk pengaman Ajeng lalu memacu mobilnya dengan kencang sambil terus mengamati mobil di belakangnya. “Mobil putih itu ngikutin kita.”
“Darimana Mas Wira tahu?”
“Mobil itu sudah lama parkir di depan rumah makan tapi ngga ada seorangpun yang turun. Ketika kita pergi mereka ikut pergi dan sekarang terus mengikuti kita.”
Wira mengurangi kecepatannya dan mencoba berjalan dengan sangat lamban.
“Kok malah dipelanin sih, Mas?”
“Kita lihat apa dia sengaja mengikuti kita.”
__ADS_1
Dan benar saja, mobil itu ikut mengurangi kecepatannya dan tidak mau mendahului mobil Wira.
“Dasar Amatir!”
Wira siap menginjak dalam-dalam pedal gasnya. Ketika mendapatkan momen yang tepat, Wira langsung banting setir dan memotong laju truk untuk mengalihkan mobilnya dari para penguntit itu. Wira terus berpindah-pindah lajur dengan kecepatan tinggi untuk mengecoh tapi mobil putih itu tetap saja mengejarnya.
“Siapa mereka?” tanya Ajeng mulai cemas melihat cara Wira mengemudikan mobilnya seperti di arena balapan.
“Entahlah.”
Mereka berhasil menjaga jarak dengan mobil itu ketika Wira tiba-tiba saja berbelok pada sebuah jalan kecil tidak jauh dari pusat kota Batang Hulu. Mereka melintasi kawasan pergudangan lama yang sudah mulai terbengkalai karena adanya relokasi kawasan industri besar-besaran beberapa tahun lalu.
Wira merasa lega karena berhasil lolos dari kejaran para penguntit itu. Tapi tiba-tiba saja dari arah depan sebuah mobil van lainnya tengah melaju kencang ke arahnya. Wira memundurkan mobilnya dan dari arah belakang muncul mobil putih yang sedari tadi mengejarnya. Mereka terjebak di tengah-tengah tanpa tahu apa yang pengendara kedua mobil itu inginkan.
Wira memberi aba-aba Ajeng untuk turun dan bersembunyi di dalam area pergudangan. Mereka berlari lalu masuk ke dalam sebuah gudang tua yang kebetulan tidak terkunci. Ada banyak palet kayu berserakan di dalam gudang gelap itu dan tidak ada jalan keluar lain selain pintu yang mereka masuki tadi.
Belum sempat Wira mengunci pintunya dari dalam, dari arah luar sudah lebih dulu datang segerombolan pria bertubuh kekar dan berpenampilan sangar lengkap dengan tongkat pemukul, clurit dan belati di tangan mereka. Wira berusaha mengunci pintu tapi sia-sia. Dorongan dari luar lebih kuat dan mengalahkan dirinya yang hanya seorang diri menahan pintu.
Ajeng yang melihat kejadian itu langsung melemparkan palet kayu yang ada di dekatnya ke arah pria bercelurit itu. Pria itu jatuh tersungkur dan Wira segera menanganinya. Karena aksi Ajeng itu, ketiga preman yang masih tersisa berusaha mendekati dan membawa Ajeng pergi.
Dengan kemampuan bela dirinya, Ajeng berhasil melumpuhkan salah satu dari ketiga pria itu. Kedua pria lain mendekat, Wira langsung menerkam salah satunya dan mulai adu jotos dan saling serang satu sama lain. Sementara itu, Ajeng tak mau tinggal diam dan hanya menonton. Ia naik ke salah satu kotak palet lalu melemparkan tendangan yang sangat kuat ke wajah preman yang berada di hadapannya itu.
Preman itu tersungkur, tapi langsung bangkit lagi. Ajeng kembali menyerang dan adu tendang dengan preman itu. Karena kalah kuat, tubuh Ajeng terlempat jauh hingga pundaknya membentur kotak palet yang tergeletak di lantai dengan sangat keras.
Melihat Ajeng terkena serangan, Wira bergegas menyelesaikan pertarungannya lalu membantu Ajeng. Preman terakhir yang menyerang Ajeng berhasil Wira lumpuhkan.
“Kamu ngga papa?” tanya Wira cemas melihat Ajeng merintih.
Ajeng menggeleng dan Wira langsung membantunya berdiri agar bisa segera pergi dari gudang gelap itu. Tapi sungguh di luar dugaan, para preman itu kembali bangkit dan parahnya lagi, ada lebih banyak lagi preman yang datang untuk membantu preman-preman yang berhasil mereka lumpuhkan sebelumnya.
__ADS_1
*************
Karena kehabisan tenaga, Wira tidak yakin akan berhasil melawan dan mengalahkan gerombolan preman itu seorang diri. Wira mendekap Ajeng lalu berbisik untuk memberinya perintah agar Ajeng kabur sementara Wira mengalihkan kesepuluh preman yang sudah siap berdiri di hadapan mereka.
“Ngga. Aku ngga bisa ninggalin Mas Wira sendirian di sini. Kita lawan mereka sama-sama.”
“Aku mohon!” pinta Wira dengan nafas terengah-engah karena kelelahan.
Para preman itu sudah tidak sabar menunggu prosesi perpisahanan Ajeng dan Wira, jadi mereka mulai menyerang membabi buta. Wira berusaha meladeni ke sepuluh pria bertubuh kekar itu setelah mendorong Ajeng menjauh.
Dua orang preman yang tidak ikut menghajar Wira menghampri Ajeng dan menarik tangannya lalu membawanya keluar dari dalam gudang.
“Mas Wira!!!” pekik Ajeng ketakutan.
“Ajeng!” Wira mulai panik karena Ajeng dibawa pergi dengan paksa. Ia akhirnya kalah dan dihajar habis-habisan oleh preman-preman itu.
Saat hendak keluar dari dalam gudang, Ajeng bersama kedua preman yang menariknya dihadang oleh gerombolan pria lain yang berseragam setelan hitam seperti para pengawal yang selalu memburu Ajeng. “Lepasin dia!”
Para preman itu menolak dan baku hantam pun terjadi antara para preman dan gerombolan pria berjas hitam. Tidak hanya membebaskan Ajeng, mereka juga membantu Wira dan melumpuhkan semua preman itu tanpa ampun.
Setelah pertarungan berakhir, gerombolan pria berjas hitam itu mengawal Ajeng dan Wira untuk masuk ke dalam mobil mereka. Melihat cara mereka memperlakukannya, Ajeng yakin bahwa pria itu bukan dari golongan yang ingin mencelakainya.
“Siapa kalian?” tanya Ajeng sebelum masuk ke dalam mobil.
“Silakan masuk, Non!” ujar salah satu pria mempersilakan.
Merasa tidak punya pilihan sekaligus penasaran dengan orang yang memberikan perintah, Ajeng terpaksa menurut dan masuk ke dalam mobil dengan tenang bersama Wira.
“Apa mereka orang suruhan papa kamu?”
__ADS_1
“Entahlah! Mereka tidak terlihat seperti orang-orang papa. Tapi aku yakin mereka tidak berniat mencelakai kita.” Bisik Ajeng kepada Wira.
************************************