8 To 4 : Istri Kontrak Sang Walikota

8 To 4 : Istri Kontrak Sang Walikota
Bimbang


__ADS_3

"Aaauuu! Mas! Tolong!"


Wira berbalik dan mendapati Ajeng terduduk di pasir dan mengerang kesakitan karena tidak sengaja menginjak bulu babi. Wira bergegas menghampiri dan membantunya lalu menggendongnya kembali ke tenda. Wira membersihkan kaki Ajeng dan mencabut sisa bulu yang masih tersisa dan menancap di kaki Ajeng. Dan tentu saja itu membuat Ajeng tak kunjung berhenti mengerang. Karena tidak memiliki obat-obatan, Wira membersihkannya dengan air lalu membebatnya sementara dengan saputangan.


“Coba cek di dalam tas, Mas! Siapa tahu ada cairan antiseptik.” Pinta Ajeng sambil menunjuk tas ransel dan kopernya.


“Siapa tahu?” tanya Wira sambil membongkar tas Ajeng. “Kok kamu bisa ngga tahu apa yang kamu bawa?”


“Bara yang nyiapin semuanya.”


Wira berhenti sejenak.


“Aku bahkan ngga tahu kalau dia berencana mengirim aku ke sini. Awalnya dia cuma bilang kalau kami akan berbulan madu ke Brunei. Tapi tiba-tiba aja dia ngasih aku tas dan koper itu sama id card dan ponsel ini. Terus nyuruh aku naik kapal ke sini.”


Wira membuka tas Ajeng, memeriksa isinya lalu mengambil kotak p3k yang dicarinya. Ia membuka kotak itu dan menemukan semua obat yang mungkin akan sangat diperlukan Ajeng, mulai dari pelster luka sampai obat pereda nyeri dan antobiotik.


"Cih, darimana si brengsek itu tahu kalau kamu sering terluka dan butuh obat-obatan seperti ini?" gumam Wira ketika membawa kotak obat itu keluar.


“Ada yah?” tanya Ajeng riang. "Dia pasti nyiapin itu karena aku sering sakit dan keluar masuk rumah sakit belakangan ini."


"Apa luka kamu masih sakit?" tanya Wira cemas.


Ajeng menyingkap baju yang menutupi perutnya demi bisa menunjukkan bekas lukanya kepada Wira. "Bukan ini yang sakit, tapi di sini" jawab Ajeng sambil menempelkam tangannya di dada. "Aku beberapa kali pingsan karena kondisi fisik dan tekanan psikologis. Dokter bilang aku depresi."


Wira langsung menuangkan cairan antiseptik ke luka Ajeng. Ia tidak mampu mengungkapkan betapa besar rasa bersalahnya mendengar cerita Ajeng itu.


“Ngga cuma kotak obat, tapi juga makanan kaleng, selimur, pisau, tali, obat nyamuk, bahkan ada buku juga ada di dalamnya.”


Tawa Ajeng tiba-tiba saja memudar mendengar penuturan Wira. Ajeng menarik tasnya dan mengeluarkan semua isinya dan ternyata benar. Semua keperluan back pack-nya ada di dalam sana. Bara bahkan membawakan semua buku miliknya yang dibaca Ajeng semalam.


Ajeng tiba-tiba ingat ketika Bara menanyainya tentang apa yang ingin dilakukannya setelah berhasil kabur untuk kedua kalinya. Rupanya ini yang Bara maksud malam itu. Ajeng tersenyum sambil menyeka air matanya yang menetes tanpa diminta. Tapi tiba-tiba saja wajah Wira muncul di hadapannya dan membuyarkan semua lamunannya.


“Lagi mikirin mantan suami kamu?”


“Kamu juga mantan suami aku, Mas.” Jawab Ajeng ngeles.


“Besok pagi kapal itu akan kembali ke dermaga tempat kamu datang. Kalau mau, kamu bisa ikut pulang dan rujuk sama Bara. Dia sangat mencintai kamu, Jeng.”


“Tapi aku cinta sama kamu, Mas. Aku sudah bercerai sama Bara dan berlari sejauh ini demi kamu. Dan sekarang kamu minta aku buat balik? Apa kamu yakin?”


“Kita tidak bisa main-main dengan perasaan, Jeng.”

__ADS_1


“Apa kamu baru sadar setelah minta aku buat nikahin kamu secara kontrak?”


Wira mengangguk perlahan sambil menunduk. “Maafin aku, Jeng!”


Ajeng mengangkat wajah Wira lalu melingkarkan tangannya di leher pria yang mulai berjamban itu. “Aku ngga akan ninggalin kamu lagi, Mas? Jadi tolong jangan paksa aku buat melarikan diri lagi!"


*****************


Keesokan paginya saat Ajeng bangun, Wira sudah tidak ada lagi di tendanya. Semua barangnya menghilang. Ajeng sudah mencarinya kemana-mana tapi tetap tidak berhasil menemukannya.


Seseorang mendatanginya. “Bu, kapalnya sudah siap.”


“Kapal? Siapa yang mau naik kapal?” tanya Ajeng balik.


“Tadi ada bapak-bapak yang bilang kalau ibu mau ikut kami kembali ke dermaga.”


Ajeng menggeleng. “Ngga. Saya ngga akan kemana-mana. Saya akan tetap disini. Dimana orang yang nyuruh kamu jemput saya?”


“Sudah pergi, Bu.”


Dengan penuh amarah, Ajeng masuk kembali ke dalam tendanya, memakan makanan yang dimilikinya lalu ke pantai untuk membersihkan diri. Ia juga pergi berkeliling untuk mencari kayu bakar karena mungkin malam ini ia harus tinggal sendirian di tenda.


Setelah mengumpulkan cukup banyak kayu bakar, Ajeng kembali beristirahat sambil memainkan ponselnya yang tidak bisa dipakai karena tidak ada sinyal. Ia membuka daftar panggilan dan hanya menemukan nama dan nomor Bara di sana.


Hari mulai gelap dan Ajeng menyalakan perapian untuk memasak air dan menghangatkan diri. Ia sudah bertekad untuk bertahan, meskipun tanpa Wira. Dan entah kenapa ia tak kuasa menahan tangisnya.


"Tega banget kamu, Mas. Setelah semua yang aku korbanin buat kamu, tapi kamu malah lari ninggalin aku kaya gini." gumam Ajeng sambil terisak di depan perapian.


Melihat sekelilingnya begitu gelap dan sepi membuat Ajeng bergidik ngeri. Pikirannya mulai melayang kemana-mana. Bukan penjahat yang ia takuti melainkan binatang buas dan hantu.


Ajeng menatap pepohonan yang bergerak bergesekan karena tertiup angin laut dan itu membuat bulu kuduk Ajeng kian meremang. Tiba-tiba saja sebuah sorot mata menyala mendekat ke arahnya dari dalam kegelapan malam. Ajeng berteriak ketakutan lalu tiba-tiba saja seseorang mengusir anjing itu menjauh dari Ajeng.


“Mas Wira!” Ajeng berhambur memeluk Wira ketakutan.


“Kenapa sih kamu masih aja keras kepala? Sudah tahu ini alam bebas. Banyak binatang buas dan hantu yang bisa memakan kamu.” Omel Wira.


Tapi Ajeng sama sekali tidak peduli seberapa banyak pria itu akan mengomelinya. Ia tetap bertahan dalam pelukan Wira karena merasa aman dan nyaman.


“Aku sudah bilang kalau aku ngga bakal ninggalin kamu lagi kan?” gumam Ajeng lirih.


“Gimana kalau anjing tadi nekad gigit kamu?”

__ADS_1


“Tinggal diobatin.”


“Terus kenapa teriak kaya tadi?”


“Kaget, Mas. Anjingnya tiba-tiba lari ke aku.”


Wira menoyor kepala Ajeng. “Dasar keras kepala.”


Dan Ajeng hanya meringis tanpa mau melepaskan pelukannya. "Makanya kamu ngga boleh ninggalin aku, Mas. Kamu harus selalu jagain aku 24 jam penuh. Kamu tahu kan aku takut banget sama hantu dan binatang buas?"


“Lepas ngga?” tanya Wira.


Ajeng menggeleng dan makin mengeratkan pelukannya ke tubuh Ajeng.


“Lepas!”


Ajeng kembali menggeleng.


“Lepas ngga!”


“Ngga!”


Wira kemudian mengangkat tubuh Ajeng dan memikulnya di pundak untuk dibawa masuk ke dalam tenda. “Tetap di dalam dan jangan berani-berani keluar!”


“Siap Mas Bos!”


Wira kemudian memanggang ikan untuk Ajeng. “Apa yang mau kamu lakuin sekarang?”


“Tinggal sama Mas Wira.”


“Kita ini apa, Jeng? Aku sudah bukan walikota dan bukan suami kamu lagi.”


“Aku calon istri kamu, Mas. Aku ngga butuh walikota, aku cuma butuh kamu.”


“Jeng –“


“Mas! Kita hanya perlu bertahan sampai pemilu berakhir. Setelah papa terpilih, maka kita akan mendatangi Papa untuk meminta restu. Aku mau nikah beneran sama kamu, Mas.”


“Apa kamu pikir Papa kamu bakal setuju?”


“Aku ngga peduli dia setuju atau nggak. Aku hanya mau dia tahu kalau kita akan tetap menikah, tapi bukan karena kontrak. Melainkan karena cinta.”

__ADS_1


***********************************


__ADS_2