
Keesokan paginya, ketika bangun, Ajeng sudah tidak menemukan Wira dimanapun. Jadi ia bergegas keluar kamar untuk memastikan bahwa Wira tidak mengkhianatinya dan meninggalkannya sendirian di rumah itu.
Karena rumah sepi dan tidak ada orang di dalam dan pintu belakang terbuka, maka Ajeng keluar melalui pintu belakang dan menemukan sebuah taman bunga yang sangat indah. Alda dan Wira sedang berdiri di sana sambil menyiram bunga-bunga itu dan memotongi tangkainya yang busuk.
“Ajeng! Sudah bangun?” sapa Wira ketika menyadari Ajeng sudah berdiri di sana sambil mengamatinya.
“Kami sedang berkebun. Mau ikutan?” tawar Alda dengan riang seperti biasanya.
Ajeng menggeleng. Kemudian Alda yang sudah selesai menyirami tanamannya menghampiri Ajeng.
“Gimana menurut Mbak Ajeng? Bagus kan taman kami?”
“Kami?” tanya Ajeng tidak paham dengan siapa yang dimaksut.
“Iya, kami. Ini adalah taman yang aku dan Mas Wira buat sebelum Mas Wira nikah sama Monica. Kalau punya rumah berdua nanti, kami bakalan bikin taman yang jauh lebih besar dan indah dari ini. Ya kan, Mas?”
“Rumah berdua?” ulang Ajeng tidak mengerti.
“Jangan dengerin!” sahut Wira santai.
“Iya rumah berdua. Setelah membereskan semua kekacauan hidupnya, Mas Wira bakal nikahin aku dan membangun rumah impian kami berdua.”
“Uhuk.. Uhuk...” tiba-tiba saja Ajeng tersedak padahal tidak sedang makan atau minum apapun.
Sementara Wira hanya tersenyum sambil menoyor kepala Alda seolah tidak terjadi apa-apa.
“Mbak Ajeng suka bunga juga? Bunga apa?” tanya Alda sambil mempertontonkan ratusan jenis bunga yang dimilikinya. “Aku bakal kasih buat Mbak Ajeng.”
“Edelweis.” Sahut Ajeng sengaja memilih bunga yang tidak ada di taman itu.
“Dasar cewek gunung!” rutuk Alda. “Mana ada edelweis di kota dataran rendah kaya gini?”
“Kenapa edelweis?” sahut Wira.
__ADS_1
“Cantik, langka, ngga gampangan, selalu dilindungi dan lambang cinta abadi.” Jawab Ajeng mantap.
Seolah sedang menggambarkan dirinya sendiri, Wira justru tersenyum mendengarnya. Dan itu membuat Alda terlihat tidak senang. Tidak biasanya Wira tersenyum mendengar alasan klise dan angkuh seperti itu.
Lalu tiba-tiba saja Alda menggandeng tangan Wira dan mengajaknya kembali ke taman. “Ada anggrek bulan yang baru pertama kali mengembang. Sini aku tunjukin!”
“Mas, masuk! Luka kamu harus segera dibersihkan.” Ujar Ajeng sambil bersendekap lalu masuk ke dalam rumah.
“Mas Wira masuk dulu yah? Nyonya lagi ngambek.” bisik Wira sambil menepuk pundak Alda.
*******************
Ajeng bersendekap sambil berjalan mondar-mandir di dalam kamar Abdi. Ia cemas kalau-kalau Wira tidak memenuhi panggilannya dan malam memilih pergi dengan Alda melihat bunga anggrek bulan. Tapi kemudian Wira mengetuk pintu dan masuk ke dalam kamar. Ajeng merasa senang karena berhasil mengalahkan Alda. Ia kemudian berpura-pura sibuk menyiapkan kotak obat sambil menyuruh Wira berbaring tanpa menoleh.
Wira yang tidak ingin membuat keributan di pagi hari, memilih untuk patuh kepada perintah Ajeng. Ia berbaring di atas ranjang dan menunggu apa yang akan gadis itu lakukan kepadanya. Ajeng datang dengan membawa gunting berukuran besar.
“Kamu mau apa?” tanya Wira cemas.
“Jangan banyak bergerak dan tunggu sampai obatnya meresap!” titah Ajeng kepada Wira.
Ia kemudian keluar untuk mencuci kaos kaki Wira dan membuatkan sarapan untuk Wira. Tapi Abdi sudah lebih dulu datang dengan membawa aneka jenis masakan khas restoran dan mulai menyajikannya satu per satu di atas meja.
“Di, ada pesta? Banyak banget makanannya?”
“Ngga ada acara apa-apa, Bu. Ibu saya belum pulang dan Bu Ajeng adalah tamu kehormatan di rumah kami. Jadi, wajar kalau kami harus mempersiapkan jamuan terbaik buat Bu Ajeng.” Melihat reaksi keraguan di wajah Ajeng, Abdi buru-buru menambahkan. “Dan Pak Wira.”
Ajeng memang merasa kalau sikap Abdi agak aneh dan berlebihan pagi itu. Ia bahkan sengaja berdiri tegap dan menjaga jarak dengan Ajeng, tidak seperti biasanya. Gaya bicaranya juga lebih sopan dan formal.
“Itu apa?”
“Oh, ini kaos kakinya Mas Wira. Sudah kotor, mau saya cuci.”
“Biar saya aja yang cucikan, Bu. Bu Ajeng temani Pak Wira saja sarapan pagi.” Abdi buru-buru meminta dengan sopan kaos kaki yang ada di tangan Ajeng.
__ADS_1
“Tapi –“
“Ngga papa. Silakan dinikmati sarapannya.” Ujar Abdi sambil sedikit membungkuk sebelum meninggalkan Ajeng.
*************
Ajeng kembali ke kamar untuk bicara dengan Wira. "Mas kamu sudah kasih tahu Abdi tentang siapa aku?"
"Sudah." jawab Wira singkat sambil rebahan dan memainkan ponselnya.
"Kenapa dikasih tahu sih, Mas? Kita kan udah janji buat jaga rahasia masing-masing."
"Karena tidak ada rahasia diantara kami."
"Cih! Kenapa ngga nikah beneran aja sama Abdi kalau kalian sebegitu mesranya? Ah, atau sama Alda aja, kan mereka mirip tuh.."
"Karena aku pria beristri. Mana boleh sembarangan nikahin orang lain?"
Wajah Ajeng merona. "Kalau kita sudah pisah nanti, apa kamu bakal nikahin Alda?"
Dan tiba-tiba saja tangah Wira yang sedari tadi sibuk mainan hp, terhenti seketika. Itu adalah pertanyaan yang cukup sulit untuk dijawab. Karena meskipun enggan kehilangan Ajeng, gadis itu akan tetap harus kembali ke tempat asalnya dan meninggalkannya.
"Mas, kok diem? Kamu mau nikah lagi?"
"Sepertinya ngga bisa."
"Kenapa?"
"Karena kamu sudah ngebawa semua hati aku pergi sama kamu. Ngga ada lagi yang tersisa buat orang lain."
Ajeng langsung menghadiahkan kecupan di pipi Wira lalu bergegas pergi keluar kamar sebelum jantungnya copot di hadapan Wira.
*************************************
__ADS_1