8 To 4 : Istri Kontrak Sang Walikota

8 To 4 : Istri Kontrak Sang Walikota
Tamu Agung


__ADS_3

Saat Ajeng keluar dari kamar, ternyata Bu Emi, ibunya Abdi, sudah pulang bersama Nanda, adik bungsu Abdi.


“Bu, kenalin! Ini Bu Ajeng, istrinya Pak Wira.”


“Oh, jadi ini perempuan yang berhasil membuat Wira bertekuk lutut?” sapa Bu Emi. “Perkenalkan, saya Emi, ibunya Abdi dan ini Nanda, adiknya Abdi yang paling kecil.”


“Bu! Jangan asal ngomong!” Bisik Abdi kepada ibunya.


“Apa sih?!” protes Bu Emi yang tidak mengerti maksut Abdi mencegahnya asal bicara.


“Saya Ajeng, Bu.” Sapa Ajeng sambil mencium punggung tangan Bu Emi tanpa sungkan. Abdi hendak menghentikannya tapi takut ibunya curiga kalau Ajeng bukan wanita sembarangan. “Hai Nanda!”


Nanda tersenyum sambil mencium tangan Ajeng. “Mbak Ajeng cantik.”


“Oh, terima kasih.” Sahut Ajeng senang.


“Aku punya anak kucing yang baru lahir. Cantik kaya Mbak Ajeng. Sini aku tunjukin!” ajak Nanda sambil menyeret tangan Ajeng.


Abdi buru-buru menepis tangan adiknya. “Dasar ngga sopan! Udah main sendiri sana!”


“Ngga papa, Di. Kan cuma liat anak kucing doang?” sahut Ajeng.


“Ngga, Bu. Kandangnya kotor dan tidak terawat. Bu Ajeng ngga boleh ke sana. Sebaiknya Bu Ajeng duduk di sini saja.”


“Abdi. Kamu ini kenapa sih? Ibu perhatiin sikap kamu aneh banget dari tadi. Terus ini kenapa ada makanan sebanyak ini? Memangnya mau nyambut menteri sampai sediain makanan mahal-mahal kaya gini?” omel Bu Emi yang baru melihat hidangan di atas meja makan dan berniat mencicipinya.


'Bukan mentri lagi, Bu. Tapi ini anaknya presiden.' batin Abdi dalam hati.


“Bu –“ Abdi buru-buru mencegah ibunya dan membawanya menjauh dari meja makan. “Nanti ya, Bu....”


Bu Emi menepis tangan Abdi. “Kamu ini kenapa sih?”


Karena kesal dilarang Abdi mencicipi hidangan yang ada di meja, Bu Emi mendatangi kamar Wira supaya pria itu lekas keluar dan mereka bisa makan bersama.


“Wira bangun!! Sudah siang! Dasar pemalas!” pekik Bu Emi membangunkan Wira sambil menggedor pintu kamar Abdi.


Tepat saat Bu Emi hendak membuka pintu kamar dan menyeret Wira keluar, Ajeng menegang tangan Bu Emi yang menggenggam gagang pintu sambil menggeleng memberikan kode bahwa Bu Emi tidak boleh masuk.


Bu Emi yang baru ingat bahwa mereka sudah menikah, langsung menjauhkan tangannya dari gagang pintu. Dengan wajah tersipu, Bu Emi terkekeh berbisik kepada Ajeng.

__ADS_1


“Ah, jadi karena itu Wira belum juga bangun padahal sudah siang? Maaf yah, ibu lupa kalau dia sudah punya istri. Jangan bosan-bosan buat melayani dia yah?”


“Maksut ibu apa?”


Bu Emi bergegas pergi sambil senyum-senyum sendiri membayangkan apa yang Ajeng dan Wira lakukan semalam.


******************


Ajeng kembali masuk ke dalam kamar Abdi dan menyuruh Wira untuk segera mengganti celananya dan keluar dari kamar untuk menemui Bu Emi. Tapi Wira menunjukkan celananya yang sudah koyak karena dipotong paksa oleh Ajeng. Seolah memahami isi pikiran Wira, Ajeng langsung membuka tas pakaian yang Abdi ambil dari mobil Rega kemarin, lalu mencari sesuatu yang bisa Wira pakai.


Sudah ada kaos oblong, daster, celana, tapi tak satupun pakaian Ajeng yang bisa Wira pakai. Ia kemudian merogoh tasnya lagi dan menemukan celana kolor berwarna biru navy milik Wira.


“Itu kan celana pendek aku? Kok bisa ada di tas kamu? Kamu bawa celana aku ke perjalanan dinas kamu? Untuk apa?”


“Ssssst! Bisa ngga nanyanya satu-satu?!” potong Ajeng kesal. “Aku ngga tahu kenapa celana kamu bisa ada di tas aku. Aku aja ngga tahu kalau kamu punya celana kaya gini. Ah, pasti aku salah masukin. Kan daster aku ada yang warnanya mirip kaya gini.”


Ajeng berusaha menutupi kebohongannya. Ia terlalu malu untuk mengakui bahwa ia sengaja menyimpannya diam-diam karena berharap bahwa malam harinya Wira akan mendatanginya ke hotel dan melindunginya dari Rega.


Wira yang tahu bahwa Ajeng berusaha keras berbohong, memilih untuk berpura-pura percaya. “Oh iya, aku ingat. Aku pernah liat baju dengan warna yang sama persis kaya gini. Jadi itu baju kamu?”


Ajeng buru-buru mengangguk. “Iya. Bener kan? Mirip banget kan?”


“Ya udah, buruan pake!”


Setelah mengganti celananya, Wira dan Ajeng keluar dari kamar dan langsung disambut mata mesum Alda yang tiba-tiba saja menghampiri Wira dengan mata berbinar-binar penuh nafsu. Ajeng buru-buru berdiri di hadapan Wira demi menghalangi pandangan gadis itu terhadap tubuh seksi dan kaki telanjang suaminya. Dan tentu saja Wira yang berdiri di belakang Ajeng tersipu-sipu mengetahui bagaimana gadis itu berusaha melindunginya dengan menggemaskan.


“Mbak Ajeng lagi ngapain sih? Minggir dong!” protes Alda sambil memaksa Ajeng minggir dari pandangannya.


“Mas Wira selalu saja kelihatan seksi setiap kali make celana pendek kaya gitu.” Gumam Alda tanpa rasa sungkan sedikitpun.


“Alda!” teriak Bu Emi memperingatkan sambil menjewer telinga anak gadisnya itu dan membawanya menjauh dari Wira.


“Abdi! Pinjemin celana kamu!” titah Ajeng setelah Alda menjauh.


“Celana saya?” Abdi mengalihkan pandangan dari Ajeng ke Wira lalu ke Ajeng lagi. Ia tahu bahwa Wira tidak akan setuju dengan ide Ajeng itu.


“Iya buruan!”


“Tapi aku ngga terbiasa make pakaian orang lain.” Tolak Wira setelah Abdi pergi untuk mengambil celana.

__ADS_1


“Jadi, Mas Wira lebih nyaman dilihatin cewek-cewek kaya gini daripada make celananya Abdi? Ya udah, terserah!”


“Loh, Jeng! Kok malah ngambek sih? Jeng!”


****************


Ajeng duduk di meja makan dengan wajah manyun. Bagaimana tidak, ia baru tahu bahwa ternyata Wira mempunyai banyak simpanan baju di bagasi mobilnya. Andai saja Wira memberitahunya lebih awal, mungkin ia tidak perlu mempermalukan dirinya sendiri dengan memberinya celana pendek yang diam-diam dibawanya dalam tas.


Alda buru-buru menghampiri Wira yang sudah berganti pakaian dan memujinya dengan antusias. “Tuh kan, Mas Wira tuh bakalan tetap seksi dan ganteng pake apapun.”


“Hem, hem...” Ajeng berdehem.


Wira merangkul Alda dan mengajaknya bergabung di meja makan. Tapi Abdi buru-buru menarik tubuh adiknya itu dan menjauhkannya dari meja makan.


“Mas, kamu nih kenapa sih?”


“Biarkan Pak Wira dan Bu Ajeng sarapan dengan tenang. Ngga sopan tahu!” bisik Abdi lirih.


“Di, kamu tahu kan kalau saya ngga suka makan sendiri. Lagi pula ada banyak makanan di sini. Ngga mungkin saya bisa habisin sendiri.”


Ajeng berdiri dan meminta Alda kembali ke kursinya. Ia juga mendudukkan Abdi di salah satu kursi. Lalu memanggil Bu Emi yang sedang sibuk di teras juga Nanda yang sedang bermain dengan kucingnya, untuk bergabung di meja makan.


“Selamat makan semuanya!” ujar Ajeng setelah semua orang menduduki posisinya masing-masing.


Melihat Abdi yang kikuk dan tak kunjung mengisi piringnya, Ajeng berinisiatif untuk mengambil piring Abdi lalu menuangkan nasi di atasnya. “Mau lauk apa?”


“Bu, biar saya ambil sendiri aja!” Abdi bergegas merebut piringnya dari tangan Ajeng. “Makasih, Bu.”


Ajeng benar-benar tidak nyaman dengan sikap formal seperti itu, jadi ia memberanikan diri berbisik kepada Abdi yanh duduk di sampingnya.


"Sikap dan bicaranya biasa aja yah? Ini perintah!"


"Siap, Bu!"


Sontak Alda, Bu Emi dan Nanda kaget mendengar jawaban lantang Abdi itu.


Karena kesal, Alda langsung melempar ayam goreng di piringnya ke piring Abdi. "Berisik lo!"


*****************

__ADS_1


__ADS_2