
Setelah bercengkrama dan bermesraan di bangku taman di alun-alun kota, Wira pergi sebentar untuk membeli minuman.
"Jeng, aku cari minum dulu yah?"
Ajeng menggeleng. "Panggil sayang dulu!"
Wira kembali dibuat tersipu dan salah tingkah.
"Oke, istriku sayang, aku cari minum dulu yah? Kamu tunggu di sini sebentar dan jangan kemana-mana!"
"Oke, suamiku sayang. Jangan lama-lama yah? Aku ngga bisa pisah sama kamu. Nanti aku kangen. Hehe..."
Wira buru-buru pergi sebelum tingkah manja Ajeng membuatnya berubah menjadi kepiting rebus. Ajeng tersenyum sambil terus menatap punggung datar Wira menghilang dari pandangannya.
"Aku sayang sama kamu, Mas. Dan aku bersyukur kamu pernah hadir di hidup aku." gumam Ajeng lirih.
Tiba-tiba saja seorang pria datang dan memeluk Ajeng lalu mamaksanya untuk pergi bersama. Ajeng memberontak dan menolak karena merasa tidak mengenal pria itu. Ajeng menendang kaki pria itu dan berhasil melepaskan diri dari pelukan paksanya.
__ADS_1
“Bu Ajeng! Ini saya. Bu Ajeng harus ikut saya pergi sekarang juga.”
“Tegar?!”
“Bu Pak Wira itu orang yang sangat berbahaya. Dia adalah ketua mafia yang sangat kejam. Dan sekarang Baron sedang melarikan diri. Dia bisa kembali kapan saja untuk menyakiti Bu Ajeng.”
“Lepas!” teriak Ajeng. “Kamu ngga punya hak untuk mengatur hidup saya.”
Plak! Ajeng menampar pipi Tegar dengan keras karena pria itu sangat lancang dan sama sekali tak mau mendengar penolakannya.
“Saya melakukan ini hanya karena saya peduli dan sangat mencintai Bu Ajeng. Saya tidak mau Bu Ajeng terancam bahaya hanya karena pembunuh berdarah dingin seperti Pak Wira.”
“Lancang kamu menuduh suami saya seperti itu.”
“Cukup Bu. Saya tahu kalau Bu Ajeng hanya pura-pura menikah dengan Pak Wira.” Tegar menarik paksa tangan Ajeng.
Tapi karena Ajeng terus menolak dan memberontak, pria itu malah kian menjadi. Ia mulai memeluk Ajeng dan mencoba untuk menciumnya di depan banyak orang yang sedang berada di alun-alun.
__ADS_1
Wira yang baru saja datang dan melihat kejadian itu marah besar. Ia melemparkan minuman yang sudah dibelinya, lalu menarik tubuh Tegar dan menghajarnya habis-habisan. Ajeng berusaha menghentikannya tapi Wira seperti orang kesurupan yang tidak lagi mau mendengarkan siapapun.
Ia memukuli dan meninju Tegar tanpa ampun. Meskipun pria itu sudah lumpuh dan tergeletak di tanah, Wira masih saja menghajarnya. Ajeng memeluk tubuh Wira erat dan memaksanya berdiri meninggalkan Tegar yang bisa mati jika terus dihajar seperti itu. Tubuh Ajeng bergetar ketakutan. Takut kalau Wira akan mengulangi kejadian lima tahun lalu.
Tegar yang sudah tergeletak tidak berdaya di tanah, menyeringai, “Sudah lihat kan kalau pria itu adalah monster berdarah dingin?”
Wira hendak berbalik untuk kembali menghajar pria itu, tapi Ajeng dengan kuat menahannya. Ajeng tetap membawa Wira menjauh dari Tegar.
"Cukup, Mas!"
"Tapi bajingan itu sudah berani menyentuh kamu. Bangsat! Kurang ajar! Aku bakal habisin dia."
"Cukup, Mas! Aku ngga mau kamu kembali jadi monster seperti yang dia bilang. Aku takut, Mas." gumam Ajeng sambil menangis.
Sadar bahwa perbuatan dan perkataannya sangat kasar di hadapan Ajeng, Wira segera memeluk wanitanya itu dengan erat sambil berbisik, "Maaf!"
Tapi tanpa mereka tahu, Tegar bangkit dari tidurnya, lalu menodongkan pisau ke arah Wira.
__ADS_1
Warga berteriak awa-awas. Ajeng lebih dulu menoleh dan melihat mata pisau yang dibawa Tegar sudah semakin dekat ke arah Wira. Ajeng mendorong tubuh Wira menjauh dan belati itu menancap di perutnya.
********************************************