
Wira sudah pergi ketika Ajeng tiba di kantor polisi. Tapi ia mendapat informasi bahwa status Wira akan segera ditetapkan sebagai tersangka sampai polisi mengumpulkan bukti dan saksi yang memberatkannya.
Ajeng yang pada saat itu sedang bersama Wira di tempat kejadian memberikan keterangan tambahan untuk meringankan tuduhan kepada Wira. Ia menjelaskan bahwa mereka tidak memberikan makanan apapun kepada para pedagang. Ajeng juag mengajukan beberapa nama pedagang yang bisa menguatkan kesaksiannya.
Tapi sungguh di luar dugaan, nama-nama itu ternyata sudah memberikan keterangan dan justru memberatkan Wira. Mereka mengaku mendapatkan bingkisan berupa makanan yang membuat mereka semua keracunan dan terpaksa dilarikan ke rumah sakit.
“Tapi bagaimana bisa, Pak? Bingkisan yang kami berikan berisi sembako yang masih mentah. Mana mungkin langsung dimakan dan menyebabkan keracunan?”
“Tapi berdasarkan pengakuan para pedagang, bingkisan itu berisi roti dan nasi kotak yang kemungkinan sudah basi dan berjamur.”
Polisi bahkan menunjukkan sample nasi kotak dan roti sisa yang ditemukan di tempat kejadian perkara kepada Ajeng. “Sisanya sudah kami kirim ke laborat untuk diperikas.”
“Bukan Mas Wira yang memberikan makanan itu, Pak. Kami datang dan pergi bersama-sama dari TKP dan tidak membawa makanan yang Bapak sebutkan tadi.” Elak Ajeng mulai putus asa.
Ia kemudian menunjukkan salah satu foto yang ia ambil saat berkunjung ke Pasar Kalijaten kemarin. Di dalam foto itu terlihat jelas bahwa isi bingkisan itu adalah sembako, bukannya nasi kotak.
“Bu Ajeng tenang saja! Kami akan menyelidiki kasus ini sampai tuntas.” Ujar si petugas polisi seolah sudah tahu bahwa apa yang Ajeng katakan memang benar.
‘Bagaimana bisa tuntas kalau kalian sengaja memelintir kasus ini untuk menjebak Mas Wira?’ rutuk Ajeng kesal.
Saat hendak keluar dari kantor polisi, Ajeng berpapasan dangan pria paruh baya yang datang dengan mobil mewah dan pengawalan dua orang pria berpakaian hitam. Melihat dari penampilannya dan cara polisi tunduk dan penuh hormat, Ajeng bisa menebak bahwa pria itu memiliki jabatan yang cukup berpengaruh. Tapi ia tidak cukup tertarik untuk tahu alasannya datang ke kantor polisi hari itu. Jadi ia lebih memilih untuk pulang dan menenangkan Wira yang mungkin sedang putus asa dan takut masuk penjara.
***************
Ketika keluar dari kantor polisi, Ajeng melihat Wira tiba dengan motornya dan langsung menghampiri dan menariknya pergi. Ajeng yang sempat kaget berusaha melepaskan tangannya dari Wira.
Jadi Wira menghentikan langkahnya, melepaskan tangan Ajeng dan bertanya, “Ngapain kamu ke sini?”
“Memberi keterangan.”
“Apa polisi yang minta?”
Ajeng menggeleng.
“Terus buat apa?”
“Tapi kan aku ada di sana. Dan aku tahu persis kejadiannya.”
“Apa kamu pikir keterangan kamu berguna?” balas Wira.
Ajeng terdiam sejenak.
“Kamu pikir ini benar-benar murni soal kasus keracunan?”
__ADS_1
Ajeng menatap Wira. “Jadi ini disengaja? Untuk menjebak Mas Wira?”
Wira kembali menarik tangan Ajeng lalu membawanya pulang dengan motornya.
*****************
Sore harinya, Ajeng mendengar Wira menerima telpon dari kantor polisi yang mengatakan bahwa segala tuduhan dan tuntutan atas Wira sudah dibatalkan. Kasus itu juga sudah ditutup dan dinyatakan sebagai kasus keracunan makanan biasa.
“Apa? Semudah itu?” tanya Ajeng ketika Wira memberitahunya apa yang baru saja ia dengar dari petugas polisi.
Wira tersenyum seolah sudah tahu akhir ceritanya yang akan terjadi.
“Apa Mas Wira sudah tahu kalau akhirnya akan seperti ini?”
“Ini bukan pertama kalinya.”
“Jadi Mas Wira sudah sering dikambinghitamkan seperti ini?”
Wira mengangguk.
“Mas Wira juga sudah tahu pelakunya?”
Wira kembali mengangguk.
“Dan Mas Wira diem aja? Mas Wira ini sebenernya takut apa bodoh sih?!” tanya Ajeng emosi lalu masuk ke dalam kamarnya dan mengunci pintunya rapat-rapat.
*****************
Keesokan harinya Wira membawa Ajeng ke rumah orang tuanya di Batang Hulu. Setelah menempuh tiga jam perjalanan dengan mobil, mereka akhirnya tiba di sebuah rumah mewah berdesain minimalis yang sama asrinya dengan rumah dinas yang ditinggali Wira selama di Carang Sewu.
“Ini rumah siapa?” tanya Ajeng.
Wira mengajak Ajeng masuk dan seorang wanita paruh baya bertubuh lebih pendek dari Ajeng langsung menyambut Wira dengan pelukan hangat. “Mama kangen sama kamu, Wir.”
“Wira juga kangen sama Mama. Papa ada, Ma?”
“Ada di dalam. Masuk yuk!” ajak Bu Prabu, ibu Wira.
“Ma, kenalin dulu! Ini Ajeng, istri Wira.”
Bu Prabu langsung terbelalak mendengar pernyataan Wira. “Istri? Kamu sudah nikah dan ngga bilang-bilang sama Mama?”
“Maaf, Ma. Waktu itu mama masih di Jakarta. Jadi Wira baru sempat ngabarin sekarang.”
__ADS_1
Ajeng menghampiri Bu Prabu dan mencium punggung tangannya dengan sopan. “Saya Ajeng, tante.”
“Ajeng?!” tanya Bu Prabu ketus. “Dimana rumah kamu? Siapa orang tua kamu?”
“Ma, ma.. Apa ngga sebaiknya kita bicara di dalam sambil duduk. Ajeng pasti capek habis menempuh perjalanan jauh.”
Bu Prabu menyerah dan mempersilakan Ajeng masuk. Tak lama kemudian Pak Prabu, ayah Wira, dan Nia, kakak Wira datang dan menyambut mereka.
“Loh Om yang kemarin datang ke kantor polisi, kan?” tanya Ajeng ketika menyadari bahwa orang bermobil hitam yang berpapasan dengannya adalah Prabu, ayah Wira.
“Kantor polisi?” tanya Bu Prabu bingung.
“Wira datang buat berterima kasih sama Papa. Karena Papa sudah membantu Wira membereskan masalah ini.”
“Sampai kapan kamu akan melakukan hal-hal bodoh seperti ini, Wir?! Apa kamu tahu apa yang akan terjadi kalau media tahu kamu kembali berurusan dengan hukum?” bentak Prabu.
Sadar bahwa Ajeng kaget melihat reaksi ayahnya, Wira menggenggam tangan Ajeng sambil berkata lirih, “Jeng, kamu masuk dulu sama Ka Nia yah? Aku mau bicara dulu sama Papa.”
Nia kemudian mengajak Ajeng berjalan-jalan keliling rumah mereka sesuai permintaan Wira.
“Ka, kenapa papanya Mas Wira marah kaya gitu?” tanya Ajeng yang tidak bisa lagi menyembunyikan rasa penasaran dan cemasnya.
Nia tersenyum, “Tenang aja, Jeng! Mereka sudah terbiasa seperti itu. Ada yang aneh rasanya kalau mereka berdamai saat bertemu.”
“Tapi kenapa? Bukannya mereka ayah dan anak?”
“Wira tidak sebaik yang Papa inginkan dan Papa tidak sebijak yang Wira harapkan. Ngomong-ngomong kapan kalian nikah? Kenapa ngga bilang-bilang? Mama pasti marah banget soal itu.”
“Maaf Ka, semua serba mendadak.”
“Bagaimana kalian saling mengenal?”
“Kami kebetulan bertemu di Bukit Braksi.”
“Ah, jadi karena itu?” Nia tiba-tiba saja terkekeh. “Dasar bodoh!”
“Kenapa?”
“Ngga papa, lucu aja kalau inget ternyata Wira masih aja sama bodohnya dengan anak usia tujuh tahun. Dulu ada seorang peramal yang bilang kalau Wira bakal nemuin jodohnya di tempat tinggi. Aku pikir dia tahu kalau itu hanya tipuan tapi sepertinya dia masih aja percaya sama ramalan konyol itu.”
“Hah? Ramalan?” Ajeng jadi ikutan tergelak mendengar cerita lucu kakak iparnya itu. “Tapi sepertinya bukan karena itu, karena dia sudah pernah nikah sebelumnya kan?”
“Maksut kamu Monic? Wira menentang keras perjodohan itu, tapi dia tidak berdaya karena rasa bersalahnya.”
__ADS_1
“Rasa bersalah?”
*********************************