
Selang beberapa saat, seseorang kembali mengetuk pintu. Ajeng merasa sangat senang dan bersemangat karena mengira bahwa itu adalah Ardan, kakak sulungnya, yang akan membantunya kali ini. Tapi ia kembali harus menelan kekecewaan karena yang datang ternyata adalah Bara. Ia datang dengan membawa banyak bungkusan makanan untuk Ajeng.
“Ngapain kamu kesini?”
“Nemuin calon istri aku lah... Mau ngapain lagi emang?”
“Aku bukan calon istri kamu dan aku ngga suka kamu sok akrab kaya gini.”
“Oke, oke. Anggap aja aku cuma datang sebagai teman.”
“Kita bukan teman.”
“Oke, kalau gitu calon teman.”
“Aku ngga sudi temenan sama kamu.”
“Oke, kalau gitu kurir makanan. Aku dateng buat nganter makanan untuk kamu.”
“Aku ngga laper.”
“Tapi mereka bilang kamu belum makan apa-apa dari kemarin.”
“Bukan urusan kamu!”
“Jeng! Kamu baru aja keluar dari rumah sakit. Kamu harus makan dan minum obat kamu.”
“Bukan u-ru-san ka-mu!” ulang Ajeng dengan penekanan lebih dalam.
“Jeng apa kamu selalu seperti ini kepada orang-orang yang peduli sama kamu?”
“Ngga. Aku cuma ngelakuin ini sama kamu. Karena aku ngga suka sama kamu.”
“Tapi aku suka sama kamu, Jeng. Dan aku peduli sama kamu.”
“Itu urusan kamu.”
“Oke. Sekarang apa yang harus aku lakuin supaya kamu mau makan?”
__ADS_1
Tiba-tiba saja Ajeng mendapatkan ide brilian. “Temuin hp aku. Kalau kamu berhasil, aku bakalan makan.”
Bara menepuk jidatnya sendiri. Menyesal karena menawarkan diri ke ratu buaya.
****************
Waktu berlalu dan Ajeng mulai merasakan nyeri yang teramat sangat di perutnya yang terluka. Sudah dua hari ini ia tidak makan dan minum obat sebagai bentuk aksi protes kepada ayahnya. Ia sudah berhasil menahan rasa sakitnya sejauh ini. Tapi siang itu rasa sakitnya serasa bertambah.
Ajeng bergulung-gulung di ranjangnya menahan rasa nyilu yang menusuk sampai ke tulang-tulangnya. Keringat dingin menetes di pelipisnya tapi ia sama sekali tidak berniat untuk menyerah. Rasa sakit di perutnya itu seolah belum apa-apa dibanding rasa sakit di hatinya karena harus terpisah dengan cara menyakitkan dengan orang yang sangat dicintainya.
Lalu seseorang mengetuk pintu dan masuk ke kamar Ajeng. Bara kembali dengan membawa ponsel Ajeng yang ditinggalkannya di toilet bandara sebelum kabur hari itu.
“Tadaaaa!” Bara menunjukkan ponselnya. Tapi ia kaget melihat Ajeng sudah pucat dan berkeringat. “Jeng, kamu kenapa?”
“Susi!!!” Bara memanggil salah satu pengawal bernama Susi.
“Ada apa, Den?”
“Tolong panggil dokter. Sekarang!”
Ajeng menggeleng sambil menarik lengan Bara. “Aku mohon jangan panggil dokter. Aku ngga papa. Papa bakal cemas kalau sampai tahu aku sakit.”
“Baik, Den.”
“Makasih.” Ujar Ajeng setelah Bara kembali.
Bara kemudian memberikan Ajeng minum dan memaksanya makan. Ajeng menggigit sepotong roti lalu mulai sibuk dengan ponselnya tanpa menghiraukan Bara yang masih mematung dengan posisi memegang roti dengan tangan kakaknya dan jus buah dengan tangan kirinya.
Ajeng menemukan nomer Mona dan langsung menghubunginya. “Mona!”
“Ajeng! Aku kangen banget sama kamu? Kamu kemana aja?” sahut Mona dari ujung telpon.
“Panjang ceritanya ntar aku ceritain. Ada hal yang lebih penting. Apa kamu sudah tahu kalau Kak Alvin mau tunangan?”
“Apa?!”
“Jadi bener dugaan aku. Kak Alvin pasti sengaja nyembunyiin ini dari kita.”
__ADS_1
“Kapan Jeng? Dimana?”
“Bukan itu yang seharusnya kamu tanyakan lebih dulu. Tapi ‘dengan siapa’?
“Iya bener. Sama siapa?”
“Irene. Mantan putri indonesia yang baru-baru ini mendirikan sebuah yayasan amal yang sedang ramai dibicarakan.”
“Harapan Kasih?”
“Heem.”
“Oh, jadi dia.”
“Kamu ngga marah?”
Mona tertawa. “Untuk apa? Dari awal kami tahu bahwa hubungan kami ngga bakal berhasil. Tapi aku lega karena dia bersama wanita yang baik dan sepadan sama dia.”
Meskipun Mona berusaha mengelabuhinya dengan tawa, tapi Ajeng tahu persis bahwa gadis malang itu tengah menahan tangisnya. Karena suaranya mulai berubah berat dan parau.
“Mon, mereka akan mengadakan acara lamaran di Hungaria beberapa hari lagi. Aku bakal update ke kamu informasi terbarunya. Pastiin kamu bakal datang ke sana dan menghentikan mereka.”
Mona kembali terkekeh ditengah suara parau dan isaknya. “Ajeng, Ajeng. Kamu pikir ini drama?”
“Mon, aku tahu ini ngga mudah. Tapi setidaknya kamu harus berjuang demi orang yang kamu cintai.” Bujuk Ajeng tulus.
“Ya sudah. Nanti aku telpon lagi ya, Jeng.”
“Bye.” Ajeng memutus sambungan telponnya.
“Apa ini juga wujud dari perjuangan cinta kamu?” tanya Bara sambil mengangkat kedua tangannya yang sedari tadi memegang roti dan jus. "Bersikap bodoh dengan melakukan aksi protes tidak masuk akal dan menyakiti diri sendiri kaya gini?"
Ajeng mengangguk. “Ini belum seberapa. Aku sanggup menerima dua tikaman lagi jika memang harus. Asal aku bisa kembali ke sana dan bertemu dengannya.”
Ajeng tiba-tiba saja mengusap air matanya dan hidungnya mulai memerah dan berair. Bara meletakan jus dan rotinya di meja, lalu menyodorkan tisu kepada Ajeng.
“Apa kamu beneran secinta itu sama dia? Apa sih istimewanya dia? Sampai kamu rela jadi istri kontraknya dia?"
__ADS_1
“Kamu hanya akan tahu kalau bertemu dengannya.”
*******************************