8 To 4 : Istri Kontrak Sang Walikota

8 To 4 : Istri Kontrak Sang Walikota
Bukan Cinta Biasa


__ADS_3

“Saya tahu siapa Bu Ajeng.”


“Keluar!” perintah Ajeng lagi.


“Pak Presiden pasti sedang cemas menunggu anda bermain-main dengan bahaya di sini.”


Ajeng menatap Dito kaget. “Ngomong apa kamu barusan?”


“Anda adalah putri bungsu Pak Presiden.”


Ajeng bergegas menutup pintu kamarnya karena tak ingin ada orang lain yang mendengar pembicaraan mereka. “Darimana kamu tahu?”


“Kakek dan nenek saya. Mereka yang langsung mengenali anda dan memperingatkan saya untuk tunduk dan berhati-hati kepada anda.”


“Dengar Dito. Saya tidak tahu bagaimana kakek dan nenek kamu mengenal saya. Tapi saya mohon sama kamu, jangan sampai ada yang tahu tentang ini.”


“Bu Ajeng tenang aja! Saya tidak ada niat untuk mencelakai Bu Ajeng. Bu Ajeng adalah tamu kehormatan kakek dan nenek saya, jadi saya tidak akan berani selancang itu. Hanya saja, kami khawatir setiap kali melihat Bu Ajeng dalam kesulitan karena Pak Wira. Dia bukan pria yang tepat untuk wanita terhormat seperti Bu Ajeng.”


Ajeng terduduk lunglai di tepi ranjang. “Apa yang terjadi sama aku bukan salah Wira. Aku yang memilih untuk kabur dan bersembunyi di sini. Dia hanya membantu aku dan aku membalas budinya dengan membantu warga kota yang sangat penting bagi Wira.”


“Bu –“


“Aku tahu apa yang kamu pikirin, Dit.” Ajeng tiba-tiba saja bicara lebih santai kepada Dito. “Aku tahu kalian khawatir karena ngga seharusnya aku ada di sini bersama Wira. Tapi kalian juga harus tahu bahwa ini adalah kali pertama aku ngga pengen kabur kemana-mana lagi. Aku juga ngerasa takut kalau aku harus kembali pulang, takut Wira akan sendiri menghadapi semua kesulitannya dan takut kalau aku ngga akan bisa hidup tanpa dia.”


“Bu –“


Ajeng kembali menangis. “Aku tahu kalau kami tidak ditakdirkan bersama sampai akhir. Tapi untuk beberapa waktu ini saja, aku pengen ngejalani semuanya seperti wanita lainnya. Tertawa, marah, menangis, kecewa dan perasaan lain yang mungkin ngga akan pernah bisa aku rasain lagi setelah kembali ke kehidupan nyataku. Apa salah kalau aku menginginkan kehidupan seperti gadis biasa, jatuh cinta kepada siapapun tanpa memandang latar belakang dan jabatan.”


Tiba-tiba saja Dito merasakan hatinya ikut teriris mendengar pengakuan Ajeng. “Apa Pak Wira tahu siapa Bu Ajeng?”


Ajeng menggeleng. “Aku pernah memberitahunya, tapi dia malah menertawakanku dan menganggap aku berbohong. Lalu aku membebaskan dia berfikir sesukanya tentangku. Aku tidak peduli selama aku tetap aman.”

__ADS_1


“Jadi apa yang Bu Ajeng rencanakan sekarang?”


“Karena sudah ada orang yang tahu identitas asliku, maka artinya keberadaanku di sini tidak akan lama lagi. Jadi sebelum pergi, aku berencana membantu Wira memperbaiki keadaan, melawan semua orang yang berusaha mengusiknya dan menuntaskan tugasku sebagai ibu walikota.”


“Bu –“


“Ah, sebenarnya aku juga pengen kamu manggil aku Ajeng aja. Karena sepertinya kita seumuran. Tapi kalau seperti itu, orang akan berasumsi kita sedang main serong. Jadi sebaiknya aku mengurungkan niat itu.”


“Jeng!”


“Wah! Tiba-tiba aja aku jadi lapar.” Gumam Ajeng sengaja berpura-pura tidak mendengar Dito yang sedari tadi berusaha memanggilnya untuk mengatakan sesuatu. Karena sudah bisa Ajeng tebak bahwa perkataan Dito pasti tidak jauh-jauh dari nasihat yang ingin disampaikan kakek-neneknya kepada Ajeng.


Ajeng melenggang keluar dari kamar dan turun ke lantai satu untuk makan di rumah pribadi nenek Dito.


*************


Ketika tiba di rumah nenek Dito, seperti biasa, aneka sajian menggugah selera sudah tersaji di meja. Mulai dari tempe goreng, sayur kelor, lodeh jantung pisang, tumis pare, daging lapis sampai ikan laut goreng sudah siap untuk Ajeng nikmati.


Dito mengikuti Ajeng turun sambil membawa tas berisi pakaian milik Ajeng.


“Itu kiriman Pak Wira.” Tukas Dito yang sedari tadi mengikuti Ajeng sampai ke ruang makan.


“Mas Wira? Bukannya kamu bilang dia lagi di kantor polisi?” tanya Ajeng lagi sambil memeriksa isi tasnya dan menemukan pakaian beserta semua keperluan pribadinya lengkap ada di dalamnya.


“Iya. Tadi sebelum ke sana mampir dulu ke sini buat nganter baju itu. Dia khawatir karena kamu ngga sempat bawa apa-apa semalem."


Ajeng terdiam sejenak, lalu mengambil piring dan mulai menuang nasi ke dalam piringnya, menambahkan tempe goreng dan krupuk, kemudian menyantapnya dengan lahap meskipun terlihat jelas ia sedang menahan luapan emosi dibalik mata yang mulai berkaca-kaca.


“Mari makan, Nek!” tawar Ajeng kepada nenek Dito yang sedari tadi setia menunggunya di ruang makan. Sementara kakek Dito sedang berjaga di penginapan.


“Silakan, Den! Silakan dicicipi semuanya.”

__ADS_1


“Masakan Nenek paling juara. Rasanya pas banget di lidah saya. Bikin ketagihan.” Puji Ajeng tulus.


Nenek Dito tersenyum senang mendengar pujian tamu kehormatannya itu.


“Saya ngga tahu sejauh apa kakek dan nenek mengenal keluarga saya. Tapi saya mohon, selama saya disini, perlakukan saya sama seperti tamu yang lain! Saya akan sering mampir karena merasa nyaman dan betah tinggal di sini.” Ujar Ajeng di sela-sela menyantap makanannya.


Si nenek menatap Dito penuh intimidasi dan Dito langsung menunduk tidak mampu melawan tatapan tajam sang nenek. “Maaf, Nek. Dito keceplosan.”


“Maafin cucu nenek ya, Den. Mulutnya memang agak susah diatur.”


“Ngga papa, Nek. Saya justru senang karena tahu ada orang yang mengenal saya dan keluarga saya. Tapi saya mohon, tolong tetap jaga rahasia itu dari siapapun selama saya masih berada di sini!”


“Tapi Den, sampai kapan Den Ayu berencana tinggal di sini seperti ini? Bapak pasti kebingungan mencari Den Ayu. Tapi Den Ayu malah sudah nikah diam-diam sama bocah semprul itu.” celoteh si nenek.


“Nek! Itu Pak Wali, bukan bocah semprul. Ati-ati kalau ngomong!” tegur Dito yang mulai khawatir dengan keterusterangan neneknya itu.


“Apalagi julukannya kalau bukan semprul? Berani-beraninya nikahi Den Ayu tanpa sepengetahuan keluarganya.” Ujar si nenek geram.


Ajeng mendekati si nenek dan menggenggam tangannya. “Nek, itu saya yang minta buat dinikahi sama Mas Wira supaya bisa sembunyi dengan aman di kota ini."


“Den, nikah itu bukan urusan kecil dan untuk main-main. Apalagi Den Ayu ini bukan gadis sembarangan.” Jawab si nenek cemas.


“Ajeng tahu, Nek. Ajeng akan menyelesaikan masalah Ajeng sendiri. Nenek tenang aja yah?”


“Den Ayu cinta sama si semprul itu?”


Ajeng menatap kedua mata si nenek kemudian kembali ke tempatnya, menyelesaikan makannya, membereskannya lalu pamit sebelum mendapatkan pertanyaan lain yang akan lebih sulit lagi untuk dijawabnya.


Saat berpamitan, si nenek berpesan kepada Ajeng. “Jangan berbuat terlalu jauh kalau Den Ayu tidak yakin bahwa itu cinta. Luka Den Ayu nantinya akan sia-sia.”


Ajeng mengangguk lalu pergi.

__ADS_1


“Dia sedang terluka karena cinta.” Gumam si nenek sembari menyaksikan kepergian Ajeng. “Tapi dia lebih terlihat seperti gadis normal.”


*********************************


__ADS_2