8 To 4 : Istri Kontrak Sang Walikota

8 To 4 : Istri Kontrak Sang Walikota
Jati Diri


__ADS_3

Setelah sekian banyak yang dilaluinya bersama Wira, hari itu Ajeng minta Wira untuk menemaninya ke Desa Karangan. Tapi kali ini bukan untuk menginap di Sudi Mampir, melainkan untuk mencari tahu tentang asal-usul ibunya yang kabarnya berasal dari desa itu.


Pagi-pagi sekali mereka sudah berangkat dengan mengendarai motor. Ketika tiba di sana, Ajeng menggunakan semua informasi yang berhasil didapatkannya dari Kakek dan Nenek Dito untuk mencari kediaman ibunya. Tapi rumah itu terlihat sudah sangat lama terbengkalai. Bangunannya banyak yang rusak dan ilalang yang ada di sekelilingnya sudah menjulang tinggi sampai nyaris menutupi seluruh bangunan.


Wira melarang Ajeng untuk masuk karena khawatir dengan kondisi rumah dan keberadaan binatang buas seperti ular yang mungkin bersembunyi di dalam semak-semak itu. Jadi, mereka lebih memilih bertanya dari warga sekitar.


Ajeng merasa cukup kecewa karena ternyata tidak banyak yang mengenal ibunya. Sebagian besar orang yang Ajeng temui mengatakan bahwa rumah itu sudah lama kosong dan pemiliknya sudah pindah ke kota. tapi entah sejak kapan dan kota mana tempat penghuninya pindah.


“Kita harus mencari para tetua yang masih tinggal di sini. Mereka pasti tahu lebih banyak.”


Mereka terus berkeliling demi mengumpulkan sedikit demi sedikit informasi yang Ajeng butuhkan tentang ibu kandungnya.


***************


Seorang pemuda berlari menghampiri rumah kepala desa yang sudah lima belas tahun lebih menjabat di Desa Karangan. Beliau adalah Pak Kades Imron yang tidak lain adalah ayah Rega.


“Ada apa tho, Leh? Kok kamu lari-larian gitu?”


“Maaf Pak Kades. Ada orang yang datang ke rumah Bu Sekar.” Lapor Soleh, si pemuda yang baru saja datang menemui Pak Kades.


“Bu Sekar yang itu?”


“Nggih Pak Kades.”


Pak Imron bergegas mengikuti Soleh karena sangat penasaran dengan siapa orang yang mendatangi rumah wanita bernama Sekar Arum itu. tapi langkah Imron terhenti begitu melihat Wira sedang bersama seorang gadis tengah berbincang-bincang dengan warga di sekitar rumah tua itu.


“Itu orangnya, Pak.”


“Kamu yakin?”

__ADS_1


“Yakin, Pak. tadi mereka juga nanya sama saya kok.”


Imron bergegas kembali ke rumahnya dan menghubungi ponsel Rega menggunakan telpon rumahnya.


“Apa Bapak yakin?” tanya Rega setelah mendengar penjelasan ayahnya.


“Yakin, Ga. Tapi ngga mungkin kalau Wira ada kaitannya sama perempuan itu kan?” tanya Pak Imron cemas.


“Sepertinya bukan Wira, Pak. Tapi perempuan itu, istrinya Wira.”


“Tapi siapa dia? Kenapa dia mencari tahu tentang Sekar?”


Rega mencurigai sesuatu. Ia ingat bahwa Monica pernah memberitahunya tentang hubungan misterius Ajeng dengan seorang penguasa.


“Rega akan cari tahu, Pak. untuk sementara waktu Bapak awasi terus mereka! Jangan biarkan warga bicara macam-macam!”


“Baik.”


****************


“Ada apa, Pak?” tanya Dito setelah mereka tiba di lorong lantai satu yang jarang dilewati pegawai.


“Apa kamu tahu siapa Ajeng?”


“Bu Ajeng? Istrinya Pak Wira?”


“Iya, maksut aku siapa keluarganya dan darimana asalnya?”


“Bukannya Pak Wira pernah bilang kalau beliau berasal dari Kota Glugu, Provinsi Jala Dasa?”

__ADS_1


“Siapa orang tuanya?”


“Saya tidak tahu, Pak.”


“Jangan bohong! Saya tahu dia sering menginap di penginapan Kakek kamu. Kalian pasti tahu sesuatu.”


“Kalau Pak Rega begitu penasaran, kenapa tidak tanyakan langsung saja kepada beliau?”


“Kamu pikir saya akan melakukan ini kalau dia mau menjawab jujur?” tanya Rega balik. “Dengar ya, Dito! Kalau kamu dan kakek nenek kamu berusaha menyembunyikan sesuatu dari saya, saya akan pastikan penginapan kalian tutup untuk selamanya!”


Setelah Rega pergi, Dito langsung merogoh ponselnya dan menekan sebuah nama.


****************


Pencarian Ajeng sudah sangat maksimal, tapi tidak banyak yang mereka dapatkan. Kakek dan nenek Dito juga terlihat enggan mengungkapkan jati diri ibu kandung Ajeng. Pagi itu, Ajeng tengah duduk dan berdiskusi dengan Wira ketika Abdi masuk dan membawakan laporan hasil rancangan tata kota untuk lomba kebersihan dan keindahan kota tahun ini.


“Apa itu?” tanya Ajeng.


“Lapor, Bu! Ini adalah usulan rancangan penataan kota dalam rangka memenangkan piala adipuri dari presiden.”


Ajeng meraih berkas dari tangan Abdi dan membacanya dengan seksama. Ada banyak usulan tentang program kebersihan dan penataan kota dalam rangka memenangkan piala adipuri yang sudah sangat lama didambakan warga kota Carang Sewu.


“Bagus-bagus..” puji Ajeng senang. Ia lalu mengambil sebuah gambar desain tata kota milik seorang pegawai dinas tata kota. “Ini bagus, Mas. Kita tinggal menambahkan gapura di bagian ini, lalu taman di bagian ini. Untuk gapura lebih baik menggunakan bambu daripada kayu. Hiasannya lebih baik menggunakan bunga hidup yang masih bisa tetap tumbuh meskipun terpasang di gapura. Pengatuuran corak warna bunga dan tanaman lainnya juga penting demi meminimalisir penggunaan cat sebagai pewarna buatan. Peletakan gapura di tiga titik utama juga dapat digabungkan dengan sebuah konsep yang saling terkait. Konsep yang mengangkat nilai-nilai luhur yang menjadi kekuatan Kota Carang Sewu.”


Abdi mencatat semua yang Ajeng katakan lalu menanyakan persetujuan Wira tentang itu. Wira langsung menyetujuinya tanpa sanggahan sedikitpun. Ia bahkan berterima kasih kepada ide cemerlang Ajeng yang belum pernah terpikirkan olehnya dan timnya selama ini. Wira kemudian memerintahkan Abdi untuk menindaklanjuti usulan Ajeng tersebut.


"Apa kamu yakin kita bisa menang hanya dengan bermodalkan bambu dan tanaman hidup? Selama ini kami sudah banyak mengeluarkan anggaran untuk perombakan keindahan kota habis-habisan demi even ini tapi tetap tidak pernah berhasil lolos babak semi final." tanya Wira setelah Abdi pergi.


"Mas Wira percaya deh sama aku. Semua foto dan vidio yang dikirim akan disortir dan diperlihatkan langsung kepada Papa melalui kementrian lingkungan hidup. Mereka sangat menghargai pelestarian lingkungan melalui pemanfaatan bahan-bahan alami yang ramah lingkungan. Dan mungkin ngga banyak yang tahu soal ini, tapi Papa memiliki chemistry khusus dengan pohon bambu. Anggap aja bocoran ini hadiah terakhir aku buat Carang Sewu." jelas Ajeng sambil mengedipkan sebelah matanya.

__ADS_1


Wira baru menyadari bahwa sekeras apapun ia mengingkari jati dirinya, ia tetaplah seorang anak yang selalu memiliki ikatan khusus yang sangat kuat dengan orang tuanya. Dan sejauh apapun ia berlari, ia akan tetap kembali ke tempat yang disebutnya rumah dan keluarga.


***************************


__ADS_2