
Wira sedang berbincang dengan Pak Camat dan tokoh masyarakat sekitar ketika Abdi kembali untuk menjemputnya.
“Kami tidak menyangka Pak Wali akan meluangkan waktu di luar jam dinas seperti ini untuk kami. Kami merasa sangat terhormat dan berterima kasih atas perhatian Pak Wali.” Ujar Pak Camat menyudahi pembicaraan mereka malam itu.
“Ngga papa, Pak. Kebetulan jadwal saya malam ini longgar, jadi saya sempatkan untuk mampir. Saya juga berterima kasih karena warga sangat peduli dan antusias untuk segera merampungkan pembangunan jembatannya. Saya akan menghimbau Dinas Pekerjaan Umum untuk mempercepat prosesnya supaya minggu depan jembatannya sudah bisa dipakai untuk kepentingan warga.”
“Terima kasih Pak Wali, sekali lagi terima kasih.”
Wira berpamitan lalu masuk ke dalam mobilnya.
“Gimana Bu Ajeng, Di? Sudah sampai di rumah?”
“Maaf Pak, hari ini Bu Ajeng ketus banget. Beliau juga menolak untuk diantarkan pulang dan malah minta diantar ke pasar malam yang ada di lapangan tembak.”
“Pasar malam? Siapa yang mengawal?”
“Tegar, Pak.”
Wira meraih ponselnya dan menghubungi Tegar. “Gar, lagi dimana?”
“Pasar malam, Pak.”
“Apa ibu baik-baik saja?”
“Iya pak. Ibu sedang mengantri untuk membeli permen kapas.”
“Astaga, ngga ada jajanann yang lebih enak apa?”
Tegar terdiam tidak berani menjawab pertanyaan Wira.
“Maaf Pak, saya tutup dulu. Bu Ajeng hilang.”
Tut..Tut... Tegar menutup ponselnya.
“Hilang?” gumam Wira.
Abdi melirik dari kaca spion. “Ada masalah Pak?”
“Tegar bilang Ajeng hilang.” Ujar Wira sambil terus berusaha menghubungi Tegar tapi tidak kunjung berhasil. Pengawal yang sedang bertugas menjaga Ajeng itu tidak juga mengangkat ponselnya meskipun Wira sudah puluhan kali memanggilnya.
“Kita ke sana sekarang! Cepat!” titah Wira cemas.
__ADS_1
Wira akhirnya berhasil mendapatkan sambungan telpon dengan Tegar.
“Maaf Pak. Bu Ajeng menghilang. Tadi beliau membeli permen kapas tapi tiba-tiba saja menghilang. Saya sudah cari ke semua tempat, tapi belum juga ketemu.” Jelas Tegar dengan nafas terengah-engah.
“Terus cari! Hubungi Galang juga untuk membantu kamu!”
“Baik Pak!”
Memerlukan waktu sekitar tiga puluh menit untuk tiba di pasar wisata karena jarak dan kepadatan lalu lintas malam itu.
“Ayo buruan, Di!” seru Wira sambil terus mengubungi ponsel Tegar dan Ajeng secara bergantian.
“Iya ini sudah kenceng, Pak. Tapi jalannya macet.”
“Cari jalan lain!”
“Baik, Pak!”
*******************
Karena sudah lama tidak datang ke pasar malam, Ajeng memilih untuk mencicipi permen kapas yang malam itu banyak dikerumuni pembeli. Tapi tiba-tiba saja ia melihat seorang remaja dikejar-kejar oleh beberapa pria mencurigakan. Merasa penasaran, Ajeng mengikuti mereka dan berlari tanpa tahu arah.
Mereka akhirnya berhenti di sebuah gang buntu. Gadis itu adalah gadis yang dipukuli ayahnya waktu itu dan ia sedang terpojok. Kedua pria itu terus mendesaknya hingga mencapai ujung dinding. Awalnya kedua pria itu melontarkan kata-kata kasar, lalu mereka mulai menjambak rambut gadis itu, mengelus pipinya lalu menjamah tubuh remaja yang tengah menangis ketakutan itu.
Tak bisa tinggal diam, Ajeng mengambil sebuah kayu dan memukul punggung salah satu pria yang sedang berusaha memperkosa gadis itu hingga tersungkur.
“Woi! Siapa kamu!”
“Lepasin dia!” perintah Ajeng sambil terus memegang kayunya dengan siaga.
“Wah, berani juga kamu!” pria itu kemudian menarik kayu dari tangan Ajeng dan mulai berusaha menampar dan menghajar Ajeng. Tapi dengan kemampuan bela dirinya, Ajeng berhasil menangkis serangan itu dan membuat pria yang menyerangkan kewalahan.
Pria itu kemudian berhasil meraik tangan Ajeng dan menguncinya dengan kuat. Lalu pria yang tersungkur tadi mulai bangun dan menampar Ajeng. Tak mau tinggal diam, Ajeng menendang ************ pria itu dengan sekuat tenaga dan membuatnya kembali jatuh terjerembab ke tanah.
Gadis yang Ajeng tolong memanfaatkan kesempatan itu untuk melarikan diri dan meninggalkan Ajeng yang masih berjibaku dengan satu pria lainnya. Meskipun tekah berusaha keras, tapi tubuh pria itu lebih kuat dari Ajeng. Ia berhasil melempar Ajeng hingga jatuh ke tanah kemudian mulai mencoba untuk mencium paksa Ajeng.
Buk. Sebuah tendangan keras mendarat ke punggung pria itu.
“Mas Wira?!”
Wira menghampiri Ajeng. “Kamu ngga papa?”
__ADS_1
Ajeng menggeleng sementara Abdi dan Tegar mengamankan kedua pria itu. Tapi melihat bekas tamparan di wajah Ajeng membuat Wira naik darah. Ia menarik pria itu dan menghajarnya habis-habisan.
Abdi berusaha menghentikan aksi brutal Wira sebelum terjadi hal yang tidak diinginkan “Jangan Pak!”
Ajeng juga berdiri untuk menahan Wira tapi sial karena pria yang dibekuk Tegar ternyata berhasil lolos dan berniat menikam Ajeng dengan belati kecil yang dibawanya.
“Awas!” teriak Abdi yang menyadari niat pria itu.
Ajeng refleks menoleh. Ia berusaha menghindar tapi terlambat karena pisau itu justru menggores lengannya. Pria itu kemudian kembali diamankan oleh Tegar dan Abdi.
********************
Wira membawa Ajeng ke rumah sakit untuk mendapatkan pertolongan pertama. Tapi dokter mengatakan semuanya baik-baik saja dan Ajeng diijinkan langsung pulang.
“Aku baik-baik aja, jadi ngga ada yang perlu dikhawatirin.” Ujar Ajeng membuka percakapan dengan Wira yang terlihat tengah marah besar dan siap menyantapnya mentah-mentah.
“Apa yang kamu pikirin? Kenapa kamu selalu saja menempatkan diri kamu dalam bahaya dan berkelahi sama preman kaya mereka. Apa kamu pikir kamu bakalan bisa ngalahin mereka?”
“Aku terpaksa, Mas. Anak itu mau diperkosa. Masa aku diem aja?”
“Kamu tahu kan kalau itu sangat berbahaya?”
“Aku tahu Mas. Tapi anak itu juga dalam bahaya. Aku bakal tetep ngelakuin hal yang sama kalau kejadian itu terulang lagi.”
“Kamu kan bisa teriak, cari pertolongan. Kenapa malah nekat melawan mereka sendiri?”
“Apa Mas Wira lihat disana ada orang yang mau membantu? Apa ini kota yang kamu bilang memiliki kekerabatan kental dan keamanan terbaik?”
“Kamu seharusnya memberitahu Tegar. Kamu tahu kan ada pengawal yang selalu ngawasin kamu?”
Alih-alih menjawab pertanyaan Wira, Ajeng memilih untuk memungut outernya lalu bergegas pulang. Ia baru tahu kalau selama ini Wira tetap saja mengirimkan pengawal untuk mengawasinya bahkan di luar jam kerja. Dan itu membuat Ajeng kecewa karena Wira sudah melanggar klausul tentang privasi yang ditambahkannya dalam kontrak.
Selama perjalanan pulang, keduanya saling membisu dan suasana di dalam mobil menjadi sangat canggung. Sesampainya di rumah, Ajeng turun lebih dulu dan membanting pintu mobil dengan kasar. Sementara Wira masih berdiam diri di dalam mobil ditemani Abdi.
“Saya sudah mengumpulkan informasi di sekitar TKP. Menurut mereka, Bu Ajeng sempat berkeliling mencari pertolongan. Tapi karena mereka tahu siapa penjahat itu, mereka tidak berani mengambil resiko.” Jelas Abdi. “Tapi sekarang, berkat Bu Ajeng kedua penjahat itu berhasil diamankan.”
Wira mengacak-acak rambutnya sendiri karena frustasi.
“Cari mereka dan habisi sampai ke akar-akarnya!” ujar Wira sebelum menutup pintu mobil dan masuk ke dalam rumah.
“Tapi Pak –“
__ADS_1
********************************