
Pagi itu Wira dan Ajeng benar-benar mendatangi para pedagang di pasar sayur Kalijaten. Mereka berbelanja dan berinteraksi dengan para pedagang, membagikan bingkisan dan bertukar pendapat tentang rencana relokasi. Wira juga membelikan sebuah gelang dari anyaman benang wol beraneka warna untuk Ajeng dan sebagai gantinya Ajeng membelikan Wira sepasang kaos kaki.
Sebenarnya isi pembicaraannya sangat klasik, persis sama dengan ulasan dalam laporang yang terlah di susun tim monitoring. Tapi yang berbeda adalah, respon dari para pedagang terhadap kedatangan Ajeng dan Wira. Para pedagang yang awalnya membenci Wira dengan segala track record dan citra buruknya, tiba-tiba saja merasa nyaman dan akrab berkomunikasi dengan pemimpin kota mereka itu.
Bahkan tidak sedikit dari para pedagang yang mengeluhkan masalah pribadinya dan Wira dengan sabar mendengarkan sambil memberikan saran. Dan tiba-tiba saja Ajeng mempunyai sebuah ide cemerlang di kepalanya.
Wira kemudian menceritakan tentang maksud dan tujuannya merelokasi mereka ke sisi dalam pasar yang lebih aman dan nyaman. Dengan kesungguhannya, Wira berhasil meyakinkan para pedagang tentang niatnya menjaga keselamatan para pedagang dari resiko kecelakaan lalu lintas, baik di jalan raya maupun perlintasan kereta yang ada di depan pasar Kalijaten.
Ajeng menggunakan kamera barunya untuk memotret Wira diam-diam. Ketika Wira tertawa dan bercanda bersama para pedagang, saat Wira menyalami seorang nenek pedagang tempe dan saat Wira menyerahkan bingkisan kecil untuk mereka yang berkumpul di sekelilingnya. Ia bahkan mendapatkan jepretan langka saat Wira memeluk seorang kakek tua yang kakinya lumpuh sebelah tapi masih mau berjualan jagung dan kangkung di pasar Kalijaten.
“Bu, kapan hari kenapa pada dateng ke seminar?” tanya Ajeng kepada salah satu pedagang sayur wanita yang waktu itu datang ke acara seminarnya.
“Oh, itu.... Karena Pak Wali yang minta.”
“Apa? Pak Wali?” tanya Ajeng tidak percaya. “Bukannya diundang sama Pak Rega?”
Selama ini itulah yang Ajeng pikirkan. Bahwa Regalah yang mengundang mereka seperti yang ditulis para wartawan di harian Suara Warga.
“Eh bukan, Bu.... Pak Wali yang datang kesini dan meminta agar kami semua bersedia hadir dan mendengarkan ibu. Katanya memberikan dukungan moral buat ibu.”
Ajeng terkesima sesaat lalu merasa malu dan bersalah. Ia bisa membayangkan betapa kecewanya Wira mengetahui bahwa dirinya tidak jauh berbeda dengan orang-orang yang meremehkan dan menusuknya dari belakang.
“Oh ya, Bu. Kenapa ibu-ibu semalam ngga datang ke rumah saya?” tanya Ajeng lagi.
__ADS_1
“Lah, emangnya ada acara apa, Bu?” tanya para pedagang balik.
“Loh, bukannya ibu-ibu sudah dapat info dari pengurus pasar kalau saya dan Pak Wali mengundang ibu-ibu semua ke rumah saya?”
“Masa sih, Bu. Ngga ada info apa-apa tuh.” Jawab salah satu pedagang. “Tunggu sebentar, biar saya tanyakan sama Pak Umar, pengurus pasar di sini.”
Pedagang itu kemudian memanggil Pak Umar yang sedang berbicara dengan Wira. “Pak Umar! Apa kemarin Pak Umar dapat undangan dari balai kota?”
“Undangan? Undangan apa? Ngga ada. Saya ngga nerima apa-apa.” Sahut Pak Umar.
“Tuh kan, Bu. Ngga ada yang ngundang kita.”
‘Jadi Rega benar-benar ngebohongin gue dan ngga pernah ngirim undangan yang gue minta?’ batin Ajeng kesal pada kebodohannya sendiri.
Wira menghampiri Ajeng dan menepuk pundaknya perlahan untuk menenangkannya. Ajeng yang merasa malu berpaling menghindari tatapan Wira. Wira kemudian menyodorkan permen sugus kepada Ajeng dan gadis yang hampir menangis itu kembali tersenyum.
****************
“Bu Ajeng?” sapa Rega ketika Ajeng datang menemuinya dengan nafas terengah-engah. “Ada perlu apa?”
“Saya mau bicara sama Pak Rega.”
Rega memerintahkan para pegawai untuk mengosongkan ruangan. Dan dalam sekejap saja ruangan itu sudah kosong.
__ADS_1
“Ada apa?”
“Apa sebenarnya niat Pak Rega sama saya? Kenapa Pak Rega membohongi saya soal undangan itu?”
“Oh, undangan kemarin yah? Itu, bagian yang bertugas mengurus undangan sedang sibuk menyelesaikan undangan rapat yang saya minta. Jadi mereka tidak sempat membuatkan punya Bu Ajeng?”
“Pak Rega pikir saya bakal percaya sama alasan konyol yang Pak Rega buat?”
“Ngga sih. Saya ngga ada masalah kalau Bu Ajeng ngga percaya.”
“Kenapa Pak Rega ngga ngabarin saya kalau undangannya tidak jadi disebar?”
“Karena saya tidak menyetujui apa yang Bu Ajeng rencanakan.”
“Maksud Pak Rega apa? Saya ini istrinya Walikota loh Pak, atasan anda. Apa hak anda bicara seperti itu sama saya?”
Rega tertawa terbahak-bahak. “Saya patut memuji keberanian Bu Ajeng menikahi pria yang sama sekali tidak Bu Ajeng kenal latar belakangnya. Bu Ajeng bisa tanyakan sendiri kepada Pak Wira kenapa saya tidak perlu merasa takut kepada beliau. Saya permisi. Masih banyak urusan yang lebih penting.”
“Jadi benar bahwa Pak Rega juga yang menyabotase acara pasar wisata?” Ajeng melemparkan fotokopi undangan penyuluhan yang ia dapatkan waktu itu kepada Rega.
Rega memungut kertas itu lalu tersenyum. “Benar. Memang saya yang merancang acara penyuluhan itu supaya tidak ada UMKM binaan yang mau datang ke pasaw wisata. Kenapa? Apa yang bisa Pak Wira lakukan pada saya?”
Rega kembali tertawa culas. “Pak Wira itu hanya boneka bagi saya. Boneka yang bisa saya permainkan sesuka hati saya. Kenapa? Bu Ajeng kecewa karena ternyata Pak Wira tidak sekeren tampangnya?”
__ADS_1
Rega tersenyum sambil berlalu dari pandangan Ajeng. Ajeng mengepalkan kedua tangannya. Ia berjanji akan membalas semua perbuatan Rega kepadanya dan Wira. Orang licik seperti dia tidak boleh didiamkan terlalu lama. Karena itu Ajeng pergi untuk bicara dengan Wira.
***********************************