8 To 4 : Istri Kontrak Sang Walikota

8 To 4 : Istri Kontrak Sang Walikota
Pengawalan Khusus


__ADS_3

Keesokan paginya, Ajeng pergi ke beranda kamarnya untuk menyaksikan matahari terbit yang sangat indah. Ia berkali-kali tersenyum dan mengucapkan rasa syukurnya karena memiliki kesempatan untuk menikmati hal mewah seperti itu.


Puas menikmati matahari terbit, Ajeng cepat-cepat mandi, berganti baju lalu keluar untuk berjalan-jalan pagi di pantai.


Ia melewati sebuah di pasar kecil yang ada di dekat pantai, jadi memutuskan untuk mampir dan berkeliling sebentar untuk melihat-lihat. Mereka menjual pakaian khas daerah karang, topi, sandal dan benda-benda kerajinan tangan buatan warga sekitar. Ada juga aneka makanan dan jajanan tradisional yang sangat menggugah selera. Saking fokusnya menikmati keramaian pasar pagi itu, Ajeng sampai tidak sadar bahwa sebuah sepeda sedang melaju ke arahnya dan hampir saja menabraknya.


Untung saja Tegar dengan sigap menghalau sepeda itu dan menyelamatkan Ajeng dari bahaya untuk kesekian kalinya. Meskipun ia masih kecewa karena Wira masih saja mengirimkan pengawal untuk mengawasinya, Ajeng tetap merasa berterima kasih. Jadi ia menawari Tegar untuk menemaninya berjalan-jalan di pasar pagi itu.


“Sejak kapan kamu datang?”


“Saya selalu mengikuti kemanapun Bu Ajeng pergi.”


“Memangnya Mas Wira ngga bilang kalau saya ngga suka dikawal?”


“Pak Wira sangat khawatir karena ibu pergi sendirian. karena itu beliau mengirim saya ke sini.”


Tahu bahwa ia sudah kelewatan karena berbicara keras kepada Tegar, ia berinisiatif untuk membelikan Tegar segelas kopi sebagai permintaan maaf.


“Terima kasih, Bu.”


Mereka ngobrol santai dan akrab karena Ajeng memang sosok yang sangat pandai bergaul. Mereka melanjutkan perjalanan dan Ajeng membelikan sebuah baju atasan untuk Tegar sebagai rasa terima kasih. Awalnya pria kekar itu menolak, tapi karena Ajeng mamaksa, jadi ia akhirnya menerima pemberian Ajeng.


Pria itu terus berjalan di belakang Ajeng, mengikuti kemanapun Ajeng pergi dengan senyum merekah. Ajeng terus berjalan hingga menuju ke pantai.


Meskipun ombaknya tidak sebesar pantai selatan, tapi pantai Karangan memiliki hamparan pasir pantai yang putih bersih ditambah batu karang yang menjulang indah. Airnya berwarna biru kehijauan dengan ombak kecil yang membuat candu para penikmatnya.


Dari informasi yang diperolehnya dari sesama pengunjung, Ajeng mengikuti jalan berkelok dan menanjak untuk tiba di sebuah air terjun yang airnya sangat bersih dan sejuk. Perjalanan panjang dan melelahkan demi menemukan air terjun itu seakan terbayar dengan keindahan yang dinikmatinya di sana. Ajeng segera berbaur dengan pengunjung lain untuk merasakan dingin dan segarnya air terjun Karangan itu.


Lalu tiba-tiba saja seorang pengunjung pria yang sedang mandi di bawah air terjun, tidak sengaja menyenggol tubuh Ajeng dan membuat Ajeng jatuh terpeleset dan kakinya membentur batu besar yang ada di bawah air terjun. Tegar yang sedari tadi mengikuti dan selalu mengawasi Ajeng langsung datang menghampiri pria itu dan menghajarnya habis-habisan.

__ADS_1


**************


Ajeng kaget melihat Tegar yang tiba-tiba saja menghampiri pria itu dan membuat keributan.


“Tegar stop!” teriak Ajeng yang kesulitan berdiri karena kakinya kerkilir dan terantuk batu.


Tapi seolah tak mendengar, Tegar terus saja menghajar pria itu meskipun sudah meminta maaf berkali-kali. Sontak semua pengunjung berusaha melerai mereka dan menjauhkan Tegar dari pria malang itu.


Setelah puas melampiaskan kekesalannya, Tegar menghampiri Ajeng dan membantunya berdiri tapi Ajeng menepis dan menolaknya.


“Bu Ajeng ngga papa?” tanya Tegar cemas.


“Tinggalkan saya sendiri!”


“Bu!” Tegar memegang tangan Ajeng dan memaksa untuk menggendong Ajeng.


Ajeng kembali berteriak dan menolak, tapi pria kekar itu tetap saja memaksa untuk menggendongnya. Dan tiba-tiba saja seseorang menarik krah bajunya dan meninjunya dengan keras.


“Mas Wira?!”


“Tapi Pak. Ini adalah tugas dan tanggung jawab saya untuk menjaga Bu Ajeng.”


“Atas dasar apa?! Ini namanya pemaksaan dan perbuatan tidak senonoh. Omong kosong dengan tanggung jawab. Bukannya sudah saya bilang kalau hari ini kamu ngga bertugas tapi kenapa kamu masih aja ngikutin istri saya?”


“Karena saya tidak percaya kepada siapapun.” Jawab Tegar lantang.


Wira kembali meninju Tegar. “Jadi menurut kamu, cuma kamu yang bisa dipercaya?”


Tegar terdiam dengan tangan mengepal dan nafas terengah-engah.

__ADS_1


“Kamu pikir saya ngga tahu semua yang udah kamu lakuin ke istri saya? Kamu pikir saya buta? Bego? iya?!” maki Wira lagi. “Ini kesempatan terakhir kamu buat pergi.”


“Ngga Pak. Saya ngga akan pernah ninggalin Bu Ajeng. Saya akan selalu menjaga dan melindungi Bu Ajeng.”


Wira kembali melayangkan bogem mentahnya ke wajah Tegar. Tapi kali ini Tegar tidak tinggal diam. Ia berusaha melawan Wira habis-habisan. Mereka saling pukul, saling tendang dan saling lempar satu sama lain.


Ajeng yang menyaksikan kejadian itu hanya bisa berteriak meminta keduanya berhenti. Tapi seolah tak seorangpun yang mendengarnya, keduanya malah bergulat makin seru. Tegar mencoba menyerang Wira berkali-kali tapi Wira selalu berhasil mengelak dan malah membalas dengan lebih keras. Wira melempar tubuh Tegar ke tanah lalu menindihnya dengan tubuhnya. Wira bersiap menghajar wajah Tegar yang mulai tak berdaya melawannya. Tapi ia mendengar suara Ajeng berteriak memohon agar Wira berhenti.


“Mas, Stop!! Aku mohon stop!” teriak Ajeng sambil menangis.


Wira mengurungkan niatnya menghabisi Tegar, melepaskan pria itu dan menghampiri Ajeng. “Kamu ngga papa?”


Ajeng menggeleng sambil menangis. Wira memeluk dan menenangkannya. Tak lama kemudian, Abdi datang untuk membereskan kekacauan yang dibuat Tegar hari itu.


Wira memerikas kondisi kaki Ajeng dan membantunya berdiri lalu menggendong Ajeng di punggungnya untuk menuruni bukit dan kembali ke penginapan. Ajeng mengeratkan pegangannya di dada Wira dan itu membuat jantung Wira berdebar-debar kencang hingga nyaris copot.


“Masih sakit?” tanya Wira mengalihkan pikiran kacaunya.


Ajeng menggeleng. “Kenapa Mas Wira bisa ada di sini dan bukannya Mas Wira yang mengirim Tegar buat ngawasin aku?”


Wira menggeleng. “Hari ini dia libur dan aku sengaja ngga nugasin siapapun buat ngawal kamu. Karena itu aku sendiri yang datang ke sini.”


“Tapi bukannya hari ini Mas Wira ada jadwal bersepeda sama Pak Kapolres?”


“Pak Parto tiba-tiba aja pengen ketemu sama Pak Kapolres. Jadi aku kasih dia kesempatan.”


“Nanti malam kan juga masih harus datang ke nikahan anaknya Pak Camat Lontar?” tanya Ajeng lagi.


“Abdi sudah lama banget pengen nikah, jadi dia pengen datang kesana supaya cepet ketularan nikah.”

__ADS_1


Wira cukup puas karena kemampuan mengarang indahnya kian berkembang pesat.


*********************


__ADS_2