
Wira kembali teringat perkataan Galang ketika menemaninya membereskan masalah Tegar waktu itu.
“Lang, apa sudah ada kabar soal Pak Edi? Kapan dia akan dibebaskan? Berapa jaminan yang mereka minta?”
“Lapor Pak! Pak Edi akan diadili dan ditahan.”
“Bukannya Pak Rega sudah ke kantor polisi?”
“Benar Pak, Pak Rega memang datang ke kantor polisi sesuai permintaan Bapak. Tapi bukan untuk membebaskan Pak Edi, melainkan memberikan kesaksian yang memberatkan Pak Edi.”
“Sial! Keterlaluan banget tuh orang.”
“Apa ada yang perlu kami lakukan, Pak?”
“Jangan! Kalian tidak boleh terlibat dalam masalah ini. Tetap bersikap normal seperti biasanya. Jangan memicu kecurigaan apapun dan tetap awasi dia!”
“Baik, Pak.”
***********
Sore itu, Ajeng duduk termenung di dalam kamarnya, memikirkan kembali kenapa ia sampai berbuat sejauh itu hanya demi uang yang tidak seberapa, jabatan yang semu dan status yang palsu. Ia meringkuk di atas kursi sambil meneggelamkan wajahnya ke dalam lengannya. Ia seolah lupa siapa dirinya dan untuk apa dia berada di sana.
Ajeng tahu bahwa ia sudah cukup puas menikmati semua kebebasan yang diinginkannya. Tapi sekarang, ia malah merasa enggan untuk kembali pulang dan berkumpul dengan keluarganya. Terlebih lagi harus menikahi orang yang tidak dikenal dan dicintainya.
Hari berlalu dan rasa penasaran orang-orang terhadap Ajeng juga semakin besar. Isu tentang latar belakang Ajeng dan hubungannya dengan Wira jadi kian melebar kemana-mana. Ajeng bahkan tidak sengaja mendengar para pegawai yang mempertanyakan kenapa Ajeng dan Wira tidur di kamar terpisah.
(Apa kamu ngga mau ninggalin dia karena cinta?)
__ADS_1
Pertanyaan Dito itu terus saja terngiang-ngiang di telinga Ajeng. Ia sendiri penasaran dengan jawabannya. Untuk seorang gadis bangsawan dan terdidik seperti Ajeng, terlalu tidak masuk di akal untuk mencintai orang asing yang baru saja dikenalnya. Dengan dalih dan alasan apapun itu sungguh tidak masuk akal. Apalagi mereka bersama hanya karena ikatan kontrak pernikahan yang semu dan penuh kepura-puraan.
Tapi semakin hari, bukan amarah ayahnya yang justru ditakutkan Ajeng, melainkan hari dimana ia harus pergi meninggalkan Wira dan berpisah untuk selamanya. Ajeng merasa tidak memiliki tujuan hidup lain setelah itu. Entah apa yang dipikirkannya, tapi semua rencana yang ada di benak Ajeng dipenuhi dengan nama dan kehadiran Wira.
“Ini gila.” Gumam Ajeng sambil memukul-mukuli kepalanya sendiri. “Lo ngga boleh sebego ini Ajeng. Sadar! Sadar! Wira itu bukan siapa-siapa elo dan dia ngga ada perasaan apa-apa sama elo.”
Ajeng bangun dan beralih ke tempat tidur. Tidak seperti biasanya yang selalu saja punya acara untuk bersenang-senang setelah jam kerjanya berakhir, sore itu Ajeng hanya ingin menenggelamkan dirinya di tumpukan bantal sambil meratapi betapa bodoh dan malangnya ia sekarang.
“Ngga Jeng! Lo ngga boleh kaya gini! Lo harus kuat dan lo harus profesional. Lo hanya perlu berbuat yang terbaik untuk banyak orang sampai saatnya lo pergi.” Ujar Ajeng menyemangati dirinya sendiri.
“Ngga masalah kalau besok pelarian lo berakhir. Lo tetap harus kasih yang terbaik buat mereka. Mereka harus inget kalau lo pernah ada dan memberikan banyak manfaat untuk mereka.” Ajeng kembali meyakinkan dirinya sendiri.
Ia kemudian bangun dan mulai mengambil kertas dan pena, menulis materi yang ingin disampaikannya, menuangkan semua gagasan yang ia ingin semua orang dengar dan pahami.
“Gue Ajeng. Gue ngga perlu menunggu dan bergantung sama siapapun.” Gumam Ajeng sambil menulis ide-idenya di atas kertas.
Ajeng berkali-kali melakukan revisi dan mengetik ulang makalahnya yang tidak bisa di delete, copy dan paste seperti ketika menggunakan komputer. Jadi dengan segenap kesabaran yang masih tersisa, Ajeng menulis lagi dan lagi, menghapu, lalu mengulang lagi dan lagi sampai ia merasa puas dengan apa yang dikerjakannya.
*****************
Wira baru saja pulang dan menanyakan keberadaan Ajeng kepada Bi Sumi.
“Bu Ajeng dari tadi di ruang kerja, Pak.”
“Makasih ya, Bi.”
Wira mengintip keberadaan Ajeng dan cukup tercengang melihat Ajeng bersedia bekerja di luar jam kerjanya. Wira kemudian mengetuk pintu dan meminta ijin Ajeng untuk masuk.
__ADS_1
“Lagi ngapain Jeng?” tanya Wira ketika melihat kertas dan pita mesin bekas mesin ketik berserakan di lantai.
“Nanti aku beresin.” Celetuk Ajeng sambil terus fokus menulis.
Wira tersenyum lalu menggulung lengan kemeja panjangnya dan mulai memungguti kertas-kertas yang berserakan di lantai. Ia membaca potongan ide yang Ajeng tuangkan di sana dan sangat takjub mengetahui wawasan gadis tengil itu ternyata seluas dan sedalam itu.
Saking fokusnya menulis, Ajeng tidak sadar bahwa lantai ruang kerjanya sudah kembali rapi dan bersih.
“Diminum dulu, Jeng.” Ujar Wira sambil membawakan jus buah tanpa gula kesukaan Ajeng.
“Eh, Mas Wira. Bikin kaget aja.” Sahut Ajeng yang baru menyadari bahwa Wira sudah membantunya berberes dan bahkan membuatkan minuman untuknya.
Ajeng mengambil gelas yang disodorkan Wira, menyeruputnya sedikit lalu kembali melanjutkan pekerjaannya. Sementara itu, Wira yang tidak ingin mengganggu, hanya duduk tenang sambil bersendekap di samping Ajeng dan mengamati semua yang gadis itu sedang lakukan.
Tak hanya yang Ajeng lakukan saja, tapi bagaimana ekspresi dan kecantikan Ajeng yang terpancar indah di matanya setiap kali gadis itu bicara dengan wajah berbinar dan penuh semangat mendiskusikan isi pikirannya dengan Wira. Juga bagaimana ia menggelung rambut panjangnya dan menusuknya dengan pensil yang tergeletak di meja. Semua hal kecil yang Ajeng lakukan membuat hati Wira bergetar dan senyum Wira merekah.
Setelah puas memandangi Ajeng yang menggeliat sambil menguap, Wira beranjak mandi dan beristirahat.
“Mas Wira mau kemana?”
“Mandi. Ikut?”
“Tunggu sampai aku selesai! Dikit lagi kok.”
Wira terpaksa kembali ke tempat duduknya dan melakukan hal yang sama seperti yang ia lakukan sebelumnya, memperhatikan Ajeng, pemandangan paling indah di matanya, dengan seksama.
*****************
__ADS_1