8 To 4 : Istri Kontrak Sang Walikota

8 To 4 : Istri Kontrak Sang Walikota
Cinta yang Salah


__ADS_3

Setelah melakukan pemeriksaan menyeluruh dan bisa berjalan perlahan, Ajeng akhirnya dipindahkan ke rumahnya di istana Kenanga. Kesempatan yang Ajeng tunggu-tunggu akhirnya datang juga. Malam itu, ayahnya kembali mengunjungi kamarnya dan membawakannya oleh-oleh dari Afrika.


“Gimana keadaan kamu, Jeng?”


“Baik. Makasih oleh-olehnya.”


“Pa, apa ngga ada cara supaya Ajeng ngga harus nikah sama Bara?”


Suryo menggeleng. “Bara pemuda yang sangat mapan dan brilian. Masa depannya cerah dan asal-usul keluarganya jelas. Dan yang pasti mereka adalah sekutu abadi kita. Kalau saja kamu ngga pake acara kabur dan pura-pura nikah sama pejabat rendahan itu, kalian pasti sudah nikah dan bahagia sekarang.”


“Tentu, tanpa Papa jelasin sekalipun Ajeng paham kalau Bara memiliki semua sumber daya yang Papa butuhin untuk menangin pemilu.”


“Papa sedang membicarakan kamu, Jeng. Kamu putri papa satu-satunya dan kamu harus hidup bersama pria yang bisa menjamin kehormatan dan kebahagiaan kamu.”


“Bagaimana kalau Mas Wira juga bisa melakukan hal yang sama, Pa? Ajeng bahagia dan merasa terhormat hidup sama Mas Wira. Apa papa bakal ijinin Ajeng nikah sama Mas Wira?”


“Lintah yang hanya menghisap keuntungan dari kamu dan keluarganya yang bisa menusuk Papa dari belakang kapanpun mereka mau?”


“Pa –“


Suryo mengangkat tangannya tanda Ajeng harus berhenti.


“Baik Pa. Ajeng janji ngga akan nemuin Mas Wira lagi. Ajeng bakal lupain Mas Wira dan nikah sama Bara.” Ajeng menyeka air matanya yang mulai deras menetes. “Tapi Ajeng mohon Papa bebasin Mas Wira dan orang-orang di sana! Mereka ngga salah apa-apa, Pa. Ajeng yang salah.”


Suryo masih bergeming.


“Kalau papa mau, Ajeng bisa menebus kesaahan Ajeng dengan semua cara yang Papa mau. Ajeng akan pergi menjadi relawan kemanusiaan di Palestina, atau Simbabwe, atau kemanapun dan berapa lamapun Papa mau untuk menebus kesalahan Ajeng. Tapi Ajeng mohon lepasin mereka, Pa. Ajeng ngga sanggup hidup dihantui rasa bersalah seperti ini.” Ujar Ajeng sambil menangis dan bersimpuh di kaki ayahnya.


“Bangun!”


“Ajeng mohon, Pa. Ajeng ngga sanggup lihat Mas Wira menderita sendirian di penjara. Dia ngga salah, Pa. Bukan dia pelakunya. Kesalahan terbesar kami hanyalah saling mencintai." air mata Ajeng berderai diantara kalimat yang tulus keluar dari bibirnya yang tengah bergetar menahan pilu.


Karena tidak menuruti perintahnya, Suryo memilih untuk meninggalkan Ajeng yang masih bersimpuh di lantai seorang diri.


******************


Ketika keluar dari kamar Ajeng, Alvin sudah menunggunya di depan pintu.


“Pa, apa harus Papa bertindak sejauh ini kepada Ajeng?”

__ADS_1


“Urus urusan kamu sendiri!”


“Pa, sejak Papa bawa Ajeng, dia ngga pernah minta apapun sama Papa. Bahkan saat dia baru berumur dua belas tahun dan papa mengirimnya belajar seorang diri ke Madrid, dia juga tidak pernah menolak. Dia menghabiskan lima belas tahunnya hanya ditemani Bibi tapi dia tidak pernah mengeluh. Ini adalah kali pertama ia merasakan ada orang yang mencintai dan dicintainya, apa Papa tega memperlakukan dia seperti ini? Dia sampai memohon-mohon sama Papa bahkan rela untuk dikirim ke daerah konflik yang berbahaya dan negara tertinggal yang mungkin akan membuatnya sulit kembali pulang. Apa Papa masih belum tergerak sama sekali?”


“Cukup Alvin!”


“Pa, Alvin juga ngga suka sama Ajeng. Alvin juga benci karena dia lahir dari rahim wanita lain yang papa cintai selain mama. Tapi Alvin ngga tega ngelihat dia diburu-buru bahkan hampir mati terbunuh di jalanan. Papa berhutang budi sama Wira yang sudah menyelamatkan putri kesayangan papa. Tapi apa yang Papa lakukan?”


“Alvin!” Bu Suryo tiba-tiba datang dan menyela Alvin. “Sudah berani yah kamu menentang omongan Papa?!”


“Ma Alvin bukannya menentang papa, Alvin cuma nyampein kenyataan yang sebenarnya.”


“Cukup! Mama ngga suka kamu ikut campuri urusan orang lain.” Selena tiba-tiba datang dan menyela perdebatan Alvin dan Suryo.


“Ma, Ajeng bukan orang lain!”


“Cukup Vin!”


Suryo pergi lebih dulu karena enggan mendengarkan perdebatan istri dan putra keduanya itu. Tapi apa yang Alvin katakan masih saja mengganggunya.


(dia diburu-buru bahkan hampir mati terbunuh di jalanan. Papa berhutang budi sama Wira yang sudah menyelamatkan putri kesayangan papa)


“Andre!” Suryo memanggil salah satu orang kepercayaannya.


“Selidiki sekali lagi semua kejadian selama Ajeng berkeliaran di luar. Alvin bilang ada orang yang berniat mencelakainya, tapi tidak ada seorangpun yang melaporkan hal itu. Segera cari tahu!”


“Baik, Pak.”


****************


Keesokan paginya ketika bangun, Ajeng sudah mendapati bros pemberian Wira yang dicarinya ada di atas meja kamarnya.


‘Kak Alvin?’ gumam Ajeng.


Ia buru-buru menggedor pintu dan seorang paspampres wanita mendatangi kamar Ajeng.


“Ada apa, Non?”


“Dimana Kak Alvin?”

__ADS_1


“Beliau sudah berangkat ke Rusia.”


“Rusia?”


“Bapak meminta Den Alvin menyelesaikan beberapa urusan disana sebelum ke Hungaria.”


“Hungaria?”


“Den Alvin akan melamar Nona Irene di sana.”


“Irene?”


“Anak Pak Menko Polhukam yang pernah menjadi putri Indonesia.”


Ajeng kembali ke kamarnya dengan perasaan cemas. Ia tahu betul bahwa kakaknya itu sangat mencintai Mona, teman masa kecilnya yang pernah sekolah bersama Ajeng di Madrid. Mona lah yang membuat hubungan Alvin dan Ajeng jadi semakin dekat sampai sekarang. Karena Ajeng bersedia menjadi mak comblang mereka.


Tapi tiba-tiba saja ia mau melamar gadis lain yang itu adalah gadis populer yang sedang banyak menyita perhatian karena berbagai aksi sosial dan politiknya akhir-akhir ini. Ajeng curiga bahwa ayahnya juga yang sengaja mengatur semua ini.


‘Tunggu! Apa itu karena Kak Alvin bantuin aku? Tapi kenapa Kak Alvin ngga nemuin aku dulu sebelum pergi?’ gerutu Ajeng pada diri sendiri.


Ia kembali menggedor pintu. “Mana hp aku?”


“Maaf, Non. Bapak yang simpan. Kami ngga berani minta.”


“Kalau gitu bilang Papa kalau aku mau ketemu!”


“Maaf, Non. Bapak sama ibu sudah berangkat ke Papua. Ada acara peresmian balai pemuda di sana.”


“Sial!”


“Maaf Non.”


“Maaf. Bukan kamu –“ Ajeng menyesal karena asal mengumpat. “Tunggu! Kalau gitu, dimana Kak Ardan?”


“Ada di kamarnya. Sebentar lagi berangkat ke kantor.”


“Bilang! Aku mau bicara. Penting !”


***************************

__ADS_1


__ADS_2