8 To 4 : Istri Kontrak Sang Walikota

8 To 4 : Istri Kontrak Sang Walikota
Kenangan yang Membekas


__ADS_3

Keesokan paginya, Bara kembali mengunjungi Ajeng di kamarnya dan kaget melihat Ajeng terkulai lemah dengan tangan diinfus.


“Jeng!”


Ajeng menoleh sesaat lalu kembali tidur memunggungi Bara.


“Apa yang terjadi? Apa kamu benar-benar harus bertindak sejauh ini? Kamu tahu kan kalau semua yang kamu lakuin ini bakal sia-sia?”


Ajeng bergeming. Lalu Bara pindah ke sisi lain ranjang agar Ajeng bisa melihatnya. Ajeng hendak berbalik ke sisi yang berlawanan, tapi Bara buru-buru mencegahnya dengan mempertunjukkan oleh-oleh yang dibawanya dari Carang Sewu. Ada bumbu rujak buah pasar Kalijaten kesukaan Ajeng, daging gimbal dari nasi liwet Bu Jum dan aneka cemilan khas Carang Sewu.


Lalu seorang pelayan mengetuk pintu kamar Ajeng dan membawa nampan berisi nasi bebek goreng beserta babat dan usus goreng jalan gajahmada.


“Darimana ini semua?” tanya Ajeng heran. Ia kemudian bangun dan melihat bahwa isi nampan yang dibawa pelayan adalah hal yang sama sekali berbeda dari biasanya.


“Kamu pasti tahu kalau ini bebek jalan Gajahmada.”


Ajeng menatap Bara tidak mengerti. “Darimana kamu dapat ini?”


“Aku sengaja ke sana untuk membelinya. Supaya kamu mau makan dan ngga drop kaya gini.”


Ajeng sama sekali tidak tersentuh dengan pengakuan Bara. “Katakan darimana kamu tahu ini!”


“Apa? Ini adalah bebek goreng paling terkenal di Carang Sewu.” Elak Bara.


“Dengan jeroan dan sambal tidak pedas?” tanya Ajeng dengan mata berkaca-kaca. Hidungnya kembali memerah.


“Darimana kamu tahu kalau sambalnya tidak pedas? Kamu kan belum cicipi?”


Ajeng menyeka air mata dan ingusnya. “Lalu sambal rujak kalijaten? Empal Gimbal Bu Jum? Apa itu juga sangat terkenal sampai kamu bisa menemukannya dengan mudah padahal mereka ada di dalam pasar dan sudut gang yang ngga bisa didatangi dengan mobil?”


“Jeng –“


“Apa kamu nemuin Mas Wira?” tanya Ajeng dengan berderai air mata.


“Apa hanya dia yang tahu soal ini?”

__ADS_1


“Ngga akan ada orang lain yang tahu kalau aku harus pesan dulu sambal tidak pedas di Bebek Gajahmada.” Jawab Ajeng menahan isak yang membuat dadanya makin sesak.


Bara menyerah. “Oke. Aku memang kesana buat nemuin dia. Dan ini yang aku dapat.”


Ajeng langsung meraih kedua lengan Bara dan menatapnya tajam dengan mata merahnya yang bengkak karena terlalu banyak menangis. “Gimana keadaan Mas Wira?”


“Untuk apa kamu tahu? Toh pada akhirnya akulah yang akan menjadi suami kamu. Bukan dia.”


“Aku ngga peduli. Aku hanya mau tahu keadaan Mas Wira. Aku mohon!” pinta Ajeng sambil menangis dan membentur-benturkan kepalanya ke dada Bara yang berdiri kaku di samping ranjangnya.


“Dia baik-baik saja dan memilih untuk tetap bertahan.”


“Aku tahu dia bakal ngelakuin itu.” jawab Ajeng sambil menunjukkan senyumnya meskipun air matanya masih saja menetes. “Apa dia sehat?”


Bara hanya bisa mengangguk meskipun hatinya hancur. Entah apa yang merasukinya. Ia sendiri juga nyaris tidak percaya bahwa Ajeng benar-benar membuatnya jatuh cinta bahkan sejak pertama kali ia melihat gadis itu sepuluh tahun lalu.


Ajeng kemudian melepaskan tangannya dari lengan Bara lalu mulai meraih tisu dan menyeka air matanya. Ia kemudian mengambil nampan berisi nasi bebek dan memakannya dengan lahap meskipun air matanya masih saja terus menetes.


“Pelan-pelan, Jeng!” pinta Bara karena cemas melihat Ajeng makan seperti pengemis yang sangat kelaparan. Ia terus saja menyendokkan nasi ke dalam mulutnya padahal mulutnya masih penuh dan belum menelan semua makanan yang ada di dalamnya.


Ia geram melihat Ajeng seolah sengaja ingin memamerkan betapa senangnya dia memakan makanan yang sangat dirindukannya itu. Ajeng mengunyah makanan di dalam mulutnya yang penuh sambil terus menangis.


Bara kemudian menyodorkan segelas air putih dan meletakkannya di tangan Ajeng. Ajeng meminumnya perlahan. Bara kemudian meletakkan tisu di hadapan Ajeng. Gadis itu mengambilnya untuk menyeka mata dan hidungnya.


Setelah terlihat lebih tenang, Bara menyuapkan nasi ke mulut Ajeng perlahan, sedikit demi sedikit. Ajeng mulai terkendali dan hati Bara semakin sakit mengetahui betapa Ajeng sangat merindukan pria itu melebihi siapapun.


Setelah selesai memakan nasi bebeknya, Bara menyodorkan irisan buah yang disediakan pelayan di atas meja, lalu menuangkan bumbu rujak ke atasnya. “Coba ini!”


Ajeng kembali mengangguk dan air matanya nyaris menetes di atas rujak buah itu.


“Gimana?”


Ajeng hanya mengangguk dan tidak mengatakan apapun. Tapi itu jauh lebih baik daripada melihatnya terkulai seperti mayat hidup.


“Aku akan meninggalkan empal dan makanan lainnya kepada pelayan. Kamu bisa minta mereka memanaskan kalau mau makan.”

__ADS_1


Ajeng kembali mengangguk. Lalu Bara pamit.


“Tunggu!”


Langkah Bara terhenti di depan pintu. Ia kemudian menoleh kepada Ajeng.


“Makasih.” Hanya itu yang terucap dari bibir indah Ajeng. Tapi bagi Bara itu sudah lebih dari cukup.


“Oke. Aku pergi dulu.”


******************************


Sepuluh tahun lalu....


Hari itu adalah hari ulang tahun bara yang ke tujuh belas tahun. Keluarganya memberinya sebuah hadiah istimewa yakni berlibur ke Madrid untuk menyaksikan pertandingan sepak bola langsung club bola favoritnya. Saat keluar dari stadion, ia salah memilih pintu dan terpisah dari orang tuanya.


Dalam situasi bingung, tiba-tiba seorang gadis membantunya menghampiri dan membantunya. Gadis itu sangat dingin, pendiam dan tidak banyak bertanya. Tapi anehnya ia tahu bahwa saat itu Bara sedang panik dan butuh bantuan. Bahkan setelah membantu Bara bertemu kembali dengan kedua orang tuanya, ia tetap bersikap dingin saat Bara dan keluarganya mengucapkan terima kasih.


"Excuse me!" panggil Bara ketika gadis itu pergi begitu saja.


Gadis itu berbalik. "Kalian pasti orang indonesia. Di ujung jalan sana ada sebuah rumah makan asia yang menyediakan aneka menu makanan yang cocok dengan lidah orang indonesia. Kalian bisa mampir sebelum pulang."


"Kamu juga orang Indonesia?" tanya Papa Bara. "Dimana kamu tinggal?"


"Papa saya Suryo Diningrat, Gubernur Jakarta."


"Wah! Kebetulan sekali. Jadi kamu anaknya Pak Suryo? Saya Taufik dan saya kenal baik sama Papa kamu. Ini." papa Bara menyerahkan kartu namanya kepada Ajeng. "Saya adalah pendukung setia papa kamu. Saya yakin beliau akan berhasil menjadi presiden berikutnya."


"Saya permisi." Ajeng tiba-tiba saja kembali dingin lalu pergi begitu saja.


"Kenapa tu anak? Memangnya ada anak yang ngga seneng kalau orang tuanya jadi bakal capres? Hah?" gerutu Taufik setelah gadis itu benar-benar pergi.


Tapi tidak demikian dengan Bara. Setiap senyum dan ekspresi datar gadis itu begitu membekas di benaknya. Ia yakin tak akan pernah melupakan wajah gadis itu sekalipun ia mengencani banyak gadis lain setelah ini.


"Dia mungkin hanya kesepian, Pa." gumam Bara sambil tersenyum menatap tempat Ajeng menghilang dari hadapannya.

__ADS_1


**************************


__ADS_2