
Ajeng sudah berada di atas kapal yang akan membawanya menuju dermaga seperti yang Wira jelaskan. Setelah mendapatkan sinyal, ia juga bergegas menghubungi Abdi dan meminta ia membawakan semua keperluan yang ada dalam daftar permintaan dr. Husein ke tempat Boni.
Setelah kapal merapat, Ajeng turun dan berjalan sejauh lima ratus meter ke arah kota. Dan tepat seperti yang Wira katakan, ada sebuah toko kelontong kecil yang bertuliskan nama Boni di bannernya. Itu adalah satu-satunya toko kelontong terdekat dari dermaga.
“Permisi. Saya mencari Boni.”
“Anda?” tanya pria bertubuh tinggi dan kekar mirip Ade Rai.
“Saya Ajeng. Wira menyuruh saya kesini.”
“Oh, Bu Ajeng?” Pria itu langsung membungkuk memberi hormat lalu mempersilakan Ajeng masuk ke rumah kecilnya yang berada di belakang tokonya. “Apa yang bisa saya bantu?”
“Ada wabah cacar di pulau. Mas Wira sedang diisolasi di klinik karena terpapar virus dan harus membantu dokter di sana. Abdi akan datang untuk membawa semua keperluan kami. Dan Wira menyuruh saya tinggal di sini sampai kapal kembali.”
“Siap! Saya mengerti.”
“Jangan terlalu formal. Kita baru bertemu dan agak aneh kalau kamu bersikap seperti itu kepada saya.” Elak Ajeng sungkan.
“Maaf, Bu. Tapi anda adalah istri bos saya. Mana mungkin saya berani bersikap kurang ajar.”
“Bos?”
Boni menggaruk-garuk kepalanya salah tingkah. Ia takut kalau-kalau salah bicara. “Apa Mas Bos belum cerita tentang saya?”
“Situasinya mendesak jadi kami belum sempat membicarakan banyak hal.”
“Oh, Bu Ajeng pasti lapar kan? Biar saya siapkan makanan. Silakan ibu beristirahat di sini.” Toni menunjukkan sebuah kamar untuk Ajeng.
“Ini kamar kamu?” tanya Ajeng melihat sebuah kamar kecil yang tertata sangat rapi dan wangi.
Boni menggeleng. “Saya terbiasa tidur di toko. Itu adalah kamar yang sengaja dipesan Pak Wira. Awalnya saya juga bingung kenapa Pak Wira meminta saya mencari ruko disini. Dia juga memesan satu kamar khusus yang tertata rapi seperti ini. Dia bahkan minta saya untuk selalu membersihkan dan menjaganya tetap harum meskipun tidak pernah dipakai. Tapi hari ini saya baru tahu kalau beliau mempersiapkan ini untuk anda.”
Ajeng mengalihkan padangannya dari Boni, kembali ke dalam kamar. tatanannya sangat mirip dengan kamar Ajeng di rumah dinas Wira. Hanya saja ukurannya lebih kecil dan warna catnya dibuat lebih ceria dengan warna hijau dan orens muda.
Ia masuk ke dalam kamar itu dan merebahkan dirinya di ranjang sambil menatap ke langit-langit kamar. Sudah lama ia tidak tidur di ranjang nyaman dan bangunan permanen seperti itu. Selama beberapa bulan ini, ia hanya bisa tidur di kasur lipat tipis yang diletakkan di atas ranjang kayu berukuran kecil, yang kadang membuat otot-ototnya sakit semua saat bangun. Tapi terlepas dari semua itu, ia tetap bersyukur karena Wira selalu setia menemani dan menjaganya.
Menjelang malam, Toni mengetuk pintu kamar Ajeng karena Abdi sudah datang dengan membawa semua keperluan Ajeng.
__ADS_1
“Saya sudah memasukkan semuanya ke dalam kotak ini.” Ujar Abdi ketika bertemu dengan Ajeng.
“Darimana kamu mendapatkan obat-obatan sebanyak ini?” tanya Ajeng sambil membuka kardus yang dibawa Abdi.
“Carang Sewu.”
“Apa Pak Rega tahu?”
Abdi mengangguk yakin. “Justru dia yang mengumpulkan semua obat-obatan ini dari semua puskesmas dan rumah sakit.”
Ajeng memasang wajah heran. “Kok bisa?”
“Pak Wira sudah memperlihatkan kartu As-nya dan sekarang giliran dia yang tidak bisa berkutik. Untuk saat ini dia tidak punya pilihan lain selain menuruti semua keinginan dan perintah Pak Wira."
“Kartu As?”
“Jadi kapan Bu Ajeng akan kembali?” tanya Abdi mengubah topik pembicaraan.
“Besok siang.”
“Kalau begitu saja akan pulang dulu. Besok saya akan kembali dan pergi bersama Bu Ajeng.”
“Bukannya Bu Ajeng bilang Pak Wira sedang dikarantina?”
Ajeng mengangguk.
“Jadi, beliau pasti ingin salah satu dari kami menjaga Bu Ajeng sampai dia kembali.”
“Abdi bisa kita bicara sebentar?”
Abdi mengangguk lalu mengajak Ajeng berjalan-jalan di luar sebentar.
**************************
“Apa yang sebenarnya terjadi kepada Mas Wira setelah aku pergi?” tanya Ajeng ketika mereka sudah berjalan cukup jauh dari ruko Boni.
“Pak Wira ditahan atas tuduhan membunuh Tegar.”
__ADS_1
“Tapi kalian pasti tahu kalau itu tidak benar kan? Kenapa Mas Wira diem aja? Kenapa kamu ngga bantu Mas Wira?
“Pak Wira meminta kami melihat dan menunggu. Dia bahkan menolak bantuan dari papanya dan juga Pak Bara.”
“Hah?”
“Dan sepertinya dugaan Pak Wira benar. Dia dibebaskan begitu saja tapi dipaksa untuk pergi ke tempat yang sangat jauh dan terpencil. Karena itu, dia lebih dulu meminta kami menyiapkan ruko itu sebagai pusat pertukaran informasi bisnis kami. Pria yang bersama ibu tadi namanya Toni. Dia yang bertugas mengelola semua keperluan di sini. Sementara saya fokus menggantikan tugas Pak Wira di kantor pusat."
“Lalu apa rencana Mas Wira sekarang?”
“Tidak ada. Beliau hanya ingin bersantai di pulau bersama Bu Ajeng. Sementara kami menangani semua urusan mendesak menggantikan beliau. Oh ya, besok pagi akan ada satu kapal kecil yang dioperasikan di selat Beringin. Pak Wira ingin kapal itu beroperasi setiap hari untuk memback up kapal pemerintah yang beroperasi tiga hari sekali itu."
“Kapal?”
“Hanya kapal kecil. Anggap saja seperti mobil pribadi."
“Tapi untuk apa berbuat sejauh itu?”
"Pak Wira bilang kalau kondisi di sana sangat memprihatinkan dan keberadaan kapal itu akan sangat berguna terutama dalam kondisi darurat wabah seperti saat ini."
"Masuk akal. Tapi Mas Wira ngga berencana menetap di sana kan?"
“Saya tidak yakin. Pak Wira bilang, beliau hanya ingin selalu bersama Bu Ajeng kapanpun dan dimanapun. Jadi mau tinggal dan menetap dimana, sepertinya bukan Pak Wira yang akan memutuskan."
Tiba-tiba saja wajah Ajeng bersemu merah dan tersipu-sipu.
“Saya belum pernah melihat Pak Wira segila itu mencintai seorang wanita. Dia bahkan rela mendekam lama di penjara, dipecat jadi walikota, dijauhi keluarganya dan sekarang hidup serba keterbatasan di pulau terpencil. Dia sama sekali berbeda dengan Pak Wira yang saya kenal dulu.”
“Jadi kamu mau bilang kalau dia menderita karena saya?!” hardik Ajeng kesal.
“Bu..bu..bukan gitu maksud saya, Bu.”
“Jadi apa? Kamu mau bilang kalau Wira lebih baik nikah sama adik kembar kamu gitu?” tanya Ajeng sambil memukul-mukul tubuh Abdi dengan tangannya.
Abdi terus berusaha menghindar. “Maksud saya, dia menjadi jauh lebih baik dan lebih manusiawi.”
Ajeng menghentikan aksi brutalnya. “Apa dulu dia seperti monster?”
__ADS_1
Abdi kembali mengangguk. “Monster berdarah dingin yang sangat mencintai kemewahan.”
***************************