8 To 4 : Istri Kontrak Sang Walikota

8 To 4 : Istri Kontrak Sang Walikota
Tugas Akhir Pekan


__ADS_3

Setelah memastikan kepada Abdi bahwa jadwal Wira pada hari sabtu dan minggu itu sangat padat, maka malam itu, Ajeng memutuskan untuk pergi sendiri ke sebuah desa di daerah pesisir utara Kota Carang Sewu. Ia mendapatkan referensi tempat wisata itu dari para pedagang di pasar dan pegawai di kantor pemerintah kota tempatnya dan Wira bekerja. Ia sama sekali tidak menyesal mempercayai cerita mereka karena pantai di Desa Karangan memang sangat indah meskipun malam hari.


Ajeng berjalan untuk mencari penginapan dan menemukan sebuah penginapan tua yang terlihat unik dan menarik di mata Ajeng. Penginapan tua itu bernama Sudi Mampir, terletak tidak jauh dari pantai dan menghadap langsung ke pantai, mayoritas bangunannya terbuat dari kayu termasuk dinding dan lantainya sehingga serasa berada di cabin mewah yang nyaman dan menenangkan.


Ajeng masuk ke dalam penginapan Sudi Mampir dan disambut oleh seorang kakek tua di meja resepsionis. Penginapan itu terlihat sepi meskipun kata orang-orang yang Ajeng tanyai di jalanan sudah penuh.


“Selamat malam, Kek. Apa masih ada kamar kosong?” tanya Ajeng ramah.


Kakek tua itu hanya menatap Ajeng sesaat lalu menggeleng.


“Apa benar-benar tidak ada tempat lain untuk saya malam ini? Saya sudah berkeliling ke beberapa tempat dan semuanya penuh.” Rayu Ajeng tak mau menyerah begitu saja. Ia sudah terlanjur sangat menyukai penginapan misterius itu.


Ajeng menyodorkan buku nikahnya dan kakek tua itu hanya membaca sekilas. Pria tua itu kemudian mengenakan kacamatanya dan membaca lagi tulisan di buku nikah Ajeng, lalu kembali melirik ke arah Ajeng dan kembali membaca data diri di buku nikah Ajeng lagi.


Pria itu menggeleng-geleng jadi Ajeng menebak bahwa sudah benar-benar tidak ada lagi kamar kosong di penginapan itu. Ajeng berjongkok untuk mengambil ranselnya yang tergeletak di lantai dan tanpa sengaja sebuah cincin yang dikalungkannya dileher keluar. Ketika Ajeng kembali berdiri di depan meja resepsionis untuk berpamitan, raut wajah kakek tua itu tiba-tiba saja berubah. Antara kaget atau takut sulit untuk Ajeng terjemahkan.


“Kalau begitu saya permisi, Pak.”

__ADS_1


“Tunggu!” kakek tua itu mengamati wajah Ajeng dengan seksama. “Masih ada satu kamar yang bisa anda sewa.”


Ajeng melonjak kegirangan. Ia berkali-kali mengucapkan terima kasih kepada kakek tua itu. Sembari menunggu sang kakek mempersiapkan kamar untuknya, Ajeng duduk di lobi dan melihat beberapa orang berseliweran keluar masuk penginapan itu. tak banyak hal lain yang Ajeng pikirkan tentang tempat itu dan orang-orang yang ada di sana. Yang ada di kepalanya hanyalah menikmati keindahan alam dengan bebas sepuasnya.


Tiba-tiba saja seorang wanita tua berdiri di samping Ajeng dan mengagetkan gadis yang tengah melamun itu.


“Aduh kaget! Nenek kok ngga bilang-bilang kalau ada di sini sih? Saya kan jadi kaget.” Gerutu Ajeng.


“Maaf Den Ayu, kamarnya sudah siap.” Ujar si nenek.


“Panggil Ajeng aja Nek! Nama saya Ajeng bukan Ayu.”


Ajeng mendapatkan sebuah kamar berukuran besar yang bersih dan nyaman. Kamar itu memiliki jendela kaca yang menghadap ke pantai dan kamar mandi gayung batok kelapa kesukaan ayahnya. Entah kenapa Ajeng merasa sangat familiar dengan tempat itu dan ia benar-benar merasa nyaman tinggal disana.


Tok..Tok...


Nenek tua itu kembali dengan membawa nampan berisi makanan dan minuman hangat yang diracik khusus menggunakan rempah-rempah seperti yang biasa ia minum ketika ayahnya berkunjung ke Bandar Sri Begawan.

__ADS_1


“Silakan dinikmati, Den Ayu!”


“Terima kasih, Nek. Tapi saya masih kenyang. Sebaiknya nenek saja yang makan makanan ini, sayang kalau dibuang.” Tolak Ajeng halus.


Tapi bukannya marah atau tersinggung, Nenek tua itu malah tersenyum dan berkata, “Den Ayu tenang saja! Besok pagi akan nenek buatkan makanan yang lebih enak dari ini.”


“Makasih ya, Nek. Saya akan minum wedangnya.” Ujar Ajeng sambil mengambil gelas minuman yang ada di nampan yang dibawa nenek tua itu.


*************


Malam itu Wira tiba di rumahnya larut malam. Ia mendatangi kamar Ajeng tapi gadis itu sedang tidak berada di kamarnya. Wira membuka ponselnya dan membaca sms dari Ajeng yang belum sempat dibacanya tadi.


(Aku pergi ke Karangan sampai hari minggu.)


Wira menghela nafas, kembali ke kamarnya, mandi lalu mencoba untuk tidur. Sejak kedatangan Ajeng, Wira tidak pernah lagi mengalami kesulitan tidur. Tapi entah kenapa, malam itu Wira kembali tidak bisa terlelap meskipun sudah berkali-kali berusaha untuk tidur.


Ia memutuskan untuk bangun dan berjalan-jalan sebentar di teras rumahnya. Ia melihat koran yang sudah koyak tengah tergeletak di lantai. Wira memungutnya dan membaca judul artikelnya. Ia tersenyum membayangkan bahwa Ajeng-lah yang membuang dan menginjak-injak artikel itu.

__ADS_1


Wira membuka kembali ponselnya, berniat menghubungi Ajeng tapi segera mengurungkan niatnya begitu melihat jam sudah menunjukkan pukul satu dini hari. Karena sudah terlanjur membuka ponsel, Wira memeriksa kembali jadwal kegiatan yang Abdi kirimkan melalui sms kepadanya pagi tadi. Ia mengetuk-ngetukkan jarinya ke meja sambil menimbang sesuatu. Setelah memutuskan, Wira langsung bangun dari duduknya dan masuk ke dalam kamar untuk berkemas.


********************************


__ADS_2