8 To 4 : Istri Kontrak Sang Walikota

8 To 4 : Istri Kontrak Sang Walikota
Cinta Sepihak


__ADS_3

Wira bergegas membawa Ajeng pergi jauh dari Graha Mukti sebelum Rega berhasil mengejarnya.


“Kamu ngga papa?” tanya Wira setelah Ajeng terlihat lebih tenang. Ia juga menyodorkan segelas air mineral dan permen sugus kepada Ajeng.


Ajeng tersenyum lalu membuka bungkus permen dan memakannya. “Makasih. Kalau bukan karena Mas Wira aku pasti sudah pingsan dan bikin malu di sana.”


“Maaf karena aku ngebiarin kamu datang ke tempat seperti itu bersama bajingan itu.”


“Ngga papa. Aku tahu Mas Wira ngelakuin itu karena terpaksa.”


Wira merasa tidak enak mendengar pembelaan dari Ajeng. “Apa maksut kamu?”


“Ka Nia sudah menceritakan semuanya.”


“Soal apa?”


“Kalau Pak Rega mungkin mengancam Mas Wira dengan informasi yang dimilikinya.”


“Sial! Ngapain sih Ka Nia bahas itu segala?!” rutuk Wira kesal.


“Apa Mas Wira berencana ngerahasiain ini selamanya dari aku?”


“Kita sudah sepakat untuk tidak mencampuri urusan pribadi masing-masing.”


“Oh ya? Terus kenapa Mas Wira ngikutin aku sampai ke sini?”


“Karena ini masih jam kerja dan kamu berada pada posisi yang tidak aman.”


Ajeng menghembusakan nafas kasar. Ia tahu bahwa seharusnya ia merasa senang karena Wira begitu berpegang teguh pada komitmen yang sudah mereka sepakati. Tapi entah kenapa ia justru merasa kesal setiap kali Wira menjadikannya sebagai alasan atas semua perbuatan baiknya terhadap Ajeng.


“Aku juga ngelakuin itu karena ngga mau kamu pulang sebelum proyek Mr. Suzuki terealisasi.” Wira merebut botol minuman sisa di tangan Ajeng dan meminumnya sampai habis.


Ajeng menyeringai lalu membuang pandangannya keluar jendela. “Segera hubungi perusahaan Mr. Suzuki dan minta mereka mempercepat realisasinya. Melihat situasi yang ada sekarang, aku ngga yakin bisa bertahan lebih lama lagi di sini.”

__ADS_1


Wira mengeratkan pegangan tangannya di kemudi. Ia sama sekali tidak tahu bagaimana cara menunjukkan agar wanita di sampingnya itu tahu betapa ia sangat mengkhawatirkan dirinya.


“Baiklah. Aku akan segera mendesak mereka agar kamu bisa segera pulang.” Ujar Wira sambil menambah laju kendaraannya.


"Aku tahu, itu pasti satu-satunya hal yang paling kamu inginkan sekarang." gumam Ajeng kecewa.


Jika dipikir-pikir lagi, segera kembali pulang adalah keputusan terbaik yang bisa Ajeng ambil saat ini. Selain dapat menghindari ketegangan diantara dua capres mendatang, ia juga tidak melihat sedikitpun tanda bahwa cinta sepihaknya akan berbalas. Pria itu semakin hari justru semakin dingin dan acuh kepadanya. Semua hal bail yang dilakukannya hanya karena kontrak semata. Dan hubungan sepihak seperti itu hanya akan melukainya lebih dalam jika dibiarkan lebih lama lagi.


Bruk!


“Apa itu?”


Wira melirik dari kaca spion. “Sepertinya kotak bekal kamu.”


“Kotak bekal?”


“Bi Sumi bilang kamu belum makan dari kemarin.”


“Makasih. Tapi aku ngga laper.” Tolak Ajeng sambil bersengut-sengut.


**************


Rega merasa sangat marah setelah mengetahui bahwa Wira-lah yang diam-diam membawa Ajeng pergi dari Graha Mukti dan mengacaukan semua rencana yang sudah disusunnya. Ia sama sekali tidak bisa berkonsentrasi selama acara konfrensi berlangsung. Jadi ia memutuskan untuk keluar sebentar dan menghirup udara segar agar lebih tenang.


“Selamat siang Pak Rega!”


“Abdi! Ngapain kamu disini?”


“Maaf Pak, saya datang untuk mengambil barang-barang Bu Ajeng.”


“Dimana mereka?” tanya Rega sambil menarik krah baju Abdi.


“Saya ngga tahu, Pak. Mereka sudah pergi.”

__ADS_1


Rega menghempaskan tubuh Abdi dengan kasar. “Dasar kurang ajar! Berani-beraninya dia merusak rencanaku. Awas! Lihat aja, dia harus tahu apa yang bakal dia terima setelah mempermalukan aku seperti ini.”


Rega melemparkan kunci mobilnya kepada Abdi dan pria kurus itu buru-buru pergi untuk mengambil tas pakaian Ajeng di dalam mobil Rega. Setelah Abdi pergi, Rega menghubungi seseorang untuk dimintai bantuan.


***************


“Bos, ada telpon dari Pak Rega.” Ujar pria bertato kepada pria lain yang memiliki bekas luka sayat di wajahnya.


“Baron! Apa kabar? Lama tidak bertemu.”


“Langsung saja!” tukas Baron dengan tegas.


“Apa kamu tahu kalau Wira sedang berada di Batang Hulu sekarang?”


“Wira?”


“Kabar yang lebih bagus lagi adalah, dia tidak sendiri. Dia sedang bersama istrinya.”


“Istri?”


“Haha.. Sepertinya kalian belum tahu kalau perempuan yang menghajar kedua anak buah kamu malam itu adalah istrinya Wira.”


“Apa?!” mata Baron terbelalak, rahangnya bergemertak dan nafasnya mulai menderu.


“Sedan hitam dengan Nopol C1234DE. Kalau bisa menemukan mereka, maka kamu bisa menuntaskan dendam lama yang belum kelar.”


Rega memutus sambungan telpon. Baron mengepalkan tangannya dan meninjukannya pada dinding dengan sangat keras.


“Kali ini kamu ngga bakalan bisa lolos, Wir! Kamu harus membayar dengan sangat mahal.” Gumam Baron.


Ia kemudian mengumpulkan anak buahnya dan mulai menyusun rencana untuk menangkap Wira.


“Kali ini sasaran utama kita bukan Wira, melainkan perempuan yang sedang bersamanya. Perempuan yang membuat Wira berani menghancurkan markas kita. Kalian harus membawanya hidup-hidup!”

__ADS_1


“Siap Bos!”


*********************************


__ADS_2