8 To 4 : Istri Kontrak Sang Walikota

8 To 4 : Istri Kontrak Sang Walikota
Kambing Hitam


__ADS_3

Dua hari kemudian, Alvin pulang dari Dubai dan langsung mengunjungi Ajeng di rumah sakit. Ajeng langsung berhambur ke pelukan Alvin sambil menangis.


“Kenapa bisa seperti ini, Jeng?”


“Aku ngga tahu, Kak. Aku mengalami kecelakaan tapi tiba-tiba saja aku sudah ada di sini.”


“Maaf kakak baru sempat nengokin kamu. Setelah Papa tahu kita bertemu di Batang Hulu, Papa sengaja mengirim kakak ke luar negeri untuk menangani banyak urusan bisnis. Kakak penasaran dengan rencana Papa, jadi kakak kirim orang buat ngawasin kamu dan Papa.”


“Lalu apa yang Kak Alvin dapat?”


“Waktu itu, hari dimana berita tentang Wira dan komplotan mafia tersebar, ada orang yang menghubungi kantor sekretariat negara dan menanyakan tentang kebenaran status dan hubungan kamu sama Papa.”


“Lalu?”


“Sepertinya Papa melacak dan mendapatkan petunjuk yang membawanya ke Carang Sewu.”


“Carang Sewu? Tapi siapa, Kak? Siapa orang Carang Sewu yang tahu identitas aku?” cerca Ajeng.


“Kakak belum tahu, tapi kakak janji akan segera menyelidiki soal itu.”


“Lalu bagaimana kabar Mas Wira, Kak?”


“Wira ditangkap atas tuduhan pembunuhan mantan pengawalnya yang sudah menusuk kamu.”


“itu ngga mungkin kak! Mas Wira ngga mungkin ngelakuin itu. Setelah Tegar nusuk aku, Mas Wira langsung lari bawa aku ke rumah sakit, Kak. Mas Wira ngga mungkin membunuh Tegar.”


“Entahlah, Kakak juga belum tahu persis kejadiannya. Tapi semua saksi memberikan pernyataan yang memberatkan Wira dan meyakinkan penyidik bahwa memang Wiralah yang melakukan pembunuhan itu. Penyidik juga sudah mengamankan barang bukti dan katanya, ada sidik jadi Wira yang ditemukan di pisau itu.”


“Ngga mungkin! Ini fitnah. Dia pasti sengaja dijebak, Kak.” Ujar Ajeng sambil menangis meraung-raung. “Mas Wira dijebak, Kak.”


“Tenang Jeng! Tenang!”


“Ini pasti ulah Papa.”


“Kita tidak bisa menuduh tanpa bukti. Tapi kalaupun itu benar, saat ini kita tidak bisa berbuat banyak. Kondisi kamu masih kaya gini dan papa ngawasin kita dua puluh empat jam.”


Ajeng menggenggam tangan Alvin. “Kak, aku adalah saksi kunci. Aku bisa memberikan keterangan kau buat bantu Mas Wira.”


“Apa kamu gila?! Kamu pikir Papa bakal biarin kamu terlibat dalam masalah ini? Papa mati-matian menutup semua informasi tentang keterlibatan kamu dengan Wira. Papa ngga mau masalah ini merusak reputasinya.”

__ADS_1


Tangis Ajeng kian menjadi. Dan Alvin hanya bisa memeluk untuk menenangkannya.


************


Hari itu Prabu mendatangi kantor polisi untuk menemui Wira sebelum ia resmi ditetapkan sebagai terdakwa. Meskipun berkali-kali menolak kunjungan itu, tapi siang itu Wira akhirnya bersedia menemui pria yang sudah membesarkannya selama lebih dari tiga puluh tahun itu.


“Gimana kabar kamu, Wir?”


“Baik. Mama gimana, Pa?”


“Sudah baikan. Sekarang mama sudah dirawat di rumah meskipun masih harus sering diperiksa sama Dokter Antoni.”


“Jadi apa yang mau Papa omongin sama Wira?”


“Wir, coba kamu ingat-ingat lagi apa tidak ada saksi yang bisa meringankan tuduhan kamu?”


Wira tersenyum sambil menggeleng. “Pa, hari ini Wira mau nemuin Papa buat minta supaya Papa ngga ngelakin apa-apa lagi untuk membantu Wira keluar dari sini. Kalaupun bisa keluar dari sini, Wira pengen itu karena Wira memang terbukti tidak bersalah, bukan karena bantuan Papa.”


“Wir –“


“Wira tahu, Pa. ini pasti sangat berat buat Papa dan Mama. Terlebih lagi untuk pencalonan Papa. Tapi Wira sudah putuskan untuk tidak melibatkan Papa dalam hal ini. Ini masalah Wira dan Wira akan hadapi semuanya sendiri sehingga Papa bisa fokus pada pencalonan Papa sebagai presiden tahun depan.”


“Wira! Kamu pikir Papa ngelakuin ini semata-mata karena pencalonan Papa?” Prabu menyeringai. “Papa kecewa sama kamu.”


“Wira!” Prabu menghentikan langkah Wira yang hendak meninggalkannya begitu saja. “Mereka sengaja menjebak kamu! Mereka sudah memanipulasi semua saksi dan bukti untuk menjebak kamu. Papa datang hanya untuk menanyakan siapa gadis itu sebenarnya? Dan kenapa keluarganya tega melakukan ini kepada kamu?”


Langkah Wira terhenti. Ia kemudian membalikkan badannya dan kembali menghampiri ayahnya. “Ajeng berasal dari keluarga baik-baik. Mereka tidak mungkin melakukan perbuatan keji seperti itu tanpa alasan.”


“Wir!”


“Maaf, Wira harus kembali ke sel, Pa. Permisi.”


“Wira!”


*********************


Perkataan papanya tadi terus saja terngiang-ngiang di telinga Wira. Sebenarnya ia juga bertanya-tanya kenapa semua orang yang ada di tempat kejadian yang melihat Tegar menusukkan pisau kepada Ajeng justru menuduhnya membalas Tegar, padahal ia langsung membawa Ajeng ke rumah sakit dan sama sekali tidak tahu kondisi Tegar setelah itu.


Ia bahkan tidak pernah menyentuh pisau yang dijadikan barang bukti itu, lalu bagaimana sidik jarinya bisa ditemukan disana. Padahal pisau itu masih menancam di perut Ajeng saat ia melarikannya ke rumah sakit. Ia memang sudah menyadari kejanggalan itu sejak awal. Tapi ia tidak menyangka bahwa ada yang mendalangi semua kebetulan itu seperti yang papanya katakan tadi.

__ADS_1


Tiba-tiba saja Wira teringat hari dimana Ajeng bertemu dan berbincang dengan Mr.Suzuki seolah sudah lama saling mengenal. Mr. Suzuki yang sudah lama dikenalnya sebagai orang yang tidak mudah percaya dan akrab dengan orang yang baru ditemuinya, tiba-tiba bisa seakrab itu dengan Ajeng.


Ia juga ingat hari ketika seorang pria tengah berusaha memukul Ajeng dengan balok kayu berukuran besar. Juga hari ketika ia pertama kali bertemu dan diburu oleh para pengawal itu. Ajeng terlihat begitu ketakutan bahkan setuju begitu saja untuk membantunya memenangkan hati Mr. Suzuki. Ditambah lagi fakta tentang bagaimana Alvin mendapatkan data yang sangat tepat dan akurat tentang Baron dan komplotannya yang berbisnis prostitusi dan human trafficking, hanya dalam waktu yang begitu singkat.


Ia juga teringat perkataan kakeknya Dito bahwa ia telah salah memilih yang tidak seharusnya ia pilih. Dan tiba-tiba saja semuanya menjadi jelas.


Tentu saja bukan hal sulit untuk membuat statusnya berubah dari korban menjadi saksi, kemudian tersangka dan sebentar lagi terdakwa. Tapi untuk apa mereka melakukan perbuatan seperti itu? Semata-mata menghukum dan menutup mulutnya demi menjaga identitas Ajeng? atau untuk menjatuhkan ayahnya yang akan segera menjadi pesaing ayah Ajeng dalam pilpres tahun depan? Semua pertanyaan itu datang silih berganti di benak Wira.


Tak lama kemudian, Wira kembali mendapat kunjungan dan kali ini Abdi yang datang untuk menemuinya.


“Bagaimana, Di? Apa kamu menemukan petunjuk lain?”


“Maaf Mas, tapi semua fakta sepertinya sudah dihapus begitu saja. Sekarang yang tersisa adalah semua bukti dan saksi palsu yang berbalik memberatkan Mas Wira.”


“Sial!”


“Ada satu lagi yang ingin saya laporkan, Mas. Dito dipecat tidak hormat atas tuduhan pemalsuan dokumen dan sekarang keluarganya juga diisolir oleh masyarakat karena isu yang sangat menyudutkan dan merugikan Dito.”


“Sial!” Wira berkali-kali mengumpat sambil menghentakkan tinjunya ke meja. “Apapun yang terjadi, kamu harus tetap menjaga Sudi Mampir. Jangan sampai ada orang yang memanfaatkan kesempatan ini untuk membelinya dengan harga murah.”


“Pak Rega?”


Wira mengangguk. “Ayahnya sudah lama menginginkan penginapan itu.”


“Baik, Mas. Mas Wira tenang aja! Kita masih bisa mengatasi masalah itu.”


“Lalu apa rencana Mas Wira selanjutnya. Sepertinya ini memang sengaja dirancang untuk menjebak Mas Wira.”


“Ini satu-satunya cara terbaik untuk membuat kita diam dan tidak ikut campur soal Ajeng. Juga untuk mengalahkan papa secara telak dalam pemilu tahun depan.”


“Mas Wira ngga bakal ngebiarin mereka gitu aja kan?”


"Ini hanya hukuman dari seorang ayah kepada pria yang telah berani main-main dengan perasaan dan martabat putrinya."


“Penjara dengan tuduhan pembunuhan?" tanya Abdi sambil bergidik ngeri.


"Ini bukan apa-apa. Kalau aja aku bukan pejabat publik, mereka mungkin bisa berbuat lebih dari ini."


"Menghilang tanpa jejak?" tanya Abdi sambil menggoreskan tangannya di leher.

__ADS_1


Dan Wira hanya tersenyum kecut melihat betapa tanggapnya sahabatnya itu.


*************************************


__ADS_2