8 To 4 : Istri Kontrak Sang Walikota

8 To 4 : Istri Kontrak Sang Walikota
Surat Rahasia


__ADS_3

Hari senin kembali tiba dan Ajeng harus kembali ke kantor tepat pukul delapan pagi seperti biasanya. Pagi itu ia berangkat sendiri karena kebetulan Wira sudah pergi lebih dulu untuk menyelesaikan urusan di tempat lain. Saat hendak masuk ke dalam kantor, Ajeng berpapasan dengan Pak Parto, kepala bidang humas dan protokoler pemerintah kota Carang Sewu, yang terlihat berjalan sambil sempoyongan.


“Pagi Pak Parto.”


“Eh, Bu Ajeng.. Selamat pagi, Bu!”


“Pak Parto kenapa? Kok jalannya sempoyongan gitu?”


“Capek Bu, habis bersepeda seharian sama Pak Kapolres.”


“Loh bukannya Pak Parto sendiri yang pengen ketemu dan nemenin Pak Kapolres bersepeda?” tanya Ajeng lagi.


“Siapa bilang, Bu? Saya ini sudah ngga muda lagi, mana kuat bersepeda sama Pak Kapolres? Kalau bukan karena Pak Wira yang maksa saya, ngga bakalan saya naik sepeda lagi. Naik mobil aja bisa ambeyen apalagi naik sepeda.” Gerutu Pak Parto.


Ajeng berusaha menahan tawa geli mendengar penjelasan Pak Parto.


‘Dasar Mas Wira! Iseng banget ngerjain orang tua.’ Batin Ajeng.


Tapi jauh di dalam hatinya, ia merasa senang karena hari itu Wira lebih mementingkannya daripada pekerjaan. Meskipun pada akhirnya Wira malah mengorbankan orang yang salah.


“Mau saya ambilkan salep pereda nyeri di klinik?” tawar Ajeng demi menebus rasa bersalah atas tindakan iseng Wira.


“Ah, ngga usah, Bu. Tadi sudah diobatin sama istri saya. Bentar lagi juga baikan.”


“Syukurlah kalau begitu.”


“Pagi Bu!” Sapa Dito yang baru saja tiba. “Pagi Pak!”


“Pagi! Sini-sini!” Pak Parto yang merupakan atasan Dito langsung meminta bantuan Dito untuk memapahnya masuk ke kantor mereka yang kebetulan berada dalam ruangan yang sama.


Dito tersenyum lalu berpamitan kepada Ajeng.

__ADS_1


Melihat Dito, Ajeng jadi teringat kembali akan janjinya untuk menunjukkan kebenaran tentang Wira. Tapi belum sempat ia memikirkan langkah pertamanya, Manda sudah lebih dulu menghampirinya dan mengajaknya rapat untuk membahas agenda peringatan ulang tahun dharma wanita.


*******************


“Saya sudah menjatuhkan harga diri saya di mata Bu Gubernur demi memenuhi permintaan Pak Wali supaya Bu Wali menjadi pembicara utama menggantikan Bu Gubernur.” Ujar Manda dramatis mengawali rapat hari itu. “Jadi, kami mohon dengan hormat agar Bu Ajeng mau bekerjasama dengan baik demi menjaga keharmonisan hubungan vertikal dan horisontal yang baik antar semua pihak.”


Seorang pegawai humas mengangkat tangan. “Mohon ijin, Bu. Tapi apa yang disampaikan Bu Manda benar adanya. Kita harus segera menyepakati soal itu supaya kami, bisa segera mempersiapkan dan menyusun bahan untuk materi seminar ibu.”


Seorang anggota panitia juga mengangkat tangan untuk menyampaikan pendapatnya. “Bu Manda benar, Bu. Tidak hanya materi, kami juga harus mengatur susunan dan jalannya acara supaya lancar dan tidak mempermalukan nama kota kita di tingkat provinsi.”


Seorang peserta rapat lain tak mau ketinggalan. “Benar sekali. Karena masih baru, Bu Ajeng mungkin belum paham bahwa akan ada perwakilan dari banyak kota yang hadir di Carang Sewu nantinya. Tentu saja kita tidak bisa meremehkan acara ini. Karena akan sangat menentukan baik dan buruknya citra kota kita di luar sana.”


Ajeng mulai kesal dengan celotehan sarkas mereka. “Baiklah. Silakan lakukan tugas kalian! Saya akan menjadi pembicara utama dengan satu syarat.”


“Apa?”


“Tidak ada sesi foto.”


“Tapi Bu –“


Ajeng mengangkat tangannya tanda mereka harus berhenti. “Mari beralih ke persoalan berikutnya!”


“Karena waktu pelaksanaan acara sudah semakin dekat, maka kami akan mulai melaksanakan rencana pembauran.” Ujar Manda membuka persoalan lain.


“Pembauran?”


“Mungkin Bu Ajeng belum tahu soal ini. Jadi biar saya jelaskan detailnya. Karena even ini sangat besar, maka kami merasa perlu persiapan yang matang. Agar persiapan matang, kami memerlukan kerjasama tim yang baik. Kerjasama tim akan terbangun kalau kamu sering bertemu sekaligus bersinergi dengan pegawai balai kota lainnya. Jadi mulai besok, ibu-ibu panitia dharma wanita akan datang ke kantor dan bekerja mendampingi suami-suami mereka supaya terjalin ikatan kuat dan saling menguntungkan.” Jelas Manda panjang lebar.


Ajeng tersenyu, “Maaf, tapi saya sama sekali tidak menemukan korelasi antara kedatangan ibu-ibu kesini dengan ikatan batin dan suksesnya acara.”


“Bu Ajeng meremehkan ide saya?” todong Manda kesal.

__ADS_1


“Bukan. Saya hanya berfikir karena waktunya sudah dekat dan persiapan belum rampung, kita hanya perlu fokus pada pekerjaan dan tugas kita masing-masing. Tidak perlu mengganggu dan mencampur adukkan acara ini dengan pekerjaan di balai kota. Selain demi menjaga kondusifitas lingkungan kerja suami-suami kita, juga untuk menunjukkan kesan profesionalisme kita sebagai panitia penyelenggara.”


Manda makin kesal mendengar penjelasan dari Ajeng. “Kami sudah merencanakan ini dari lama.”


“Tapi itu bukan alasan bahwa rencana itu harus dijalankan padahal tidak berguna.”


“Anda benar-benar keterlaluan.” Hardik Manda. “Anda pikir anda siapa? Baru datang sudah berlagak sok pintar dan sok tahu.”


“Maaf, kalau begitu mari kita perjelas lagi. Apa posisi saya di dalam tim panitia ini?” tanya Ajeng kepada moderator.


“Ketua panitia.” Jawab moderator ragu.


“Sudah jelas kan?” tukas Ajeng penuh kemenangan. “Sekarang mari kita lebih perjelas lagi. Apa ada yang sependapat dengan saya? Jika tidak, maka saya ingin mendengar alasan dari anda semua, satu per satu.”


Lalu satu per satu peserta mengangkat tangan sampai hanya menyisakan Manda saja.


Manda marah besar karena merasa dipermalukan di depan semua peserta rapat. Ia bergegas pergi meninggalkan rapat tapi Ajeng mencegahnya.


“Maaf Bu Manda. Tapi anda belum bisa meninggalkan forum karena kita harus segera membicarakan anggran dan realisasi. Kecuali, anda berniat melimpahkan tugas anda sebagai bendahara kepada orang lain.” tegur Ajeng tegas.


Dengan wajah penuh amarah dan nafas menderu, Manda terpaksa kembali ke tempat duduknya semula. Ia mengepalkan kedua tangannya dan bertekad dalam hati untuk membalas perlakuan Ajeng kepadanya hari itu. ia tidak terima diremehkan dan direndahkan oleh gadis ingusan yang baru saja datang dan ditemuinya.


Pembahasan selanjutnya berkutat tentang pembagian tugas dan hal tehnis lainnya yang sama sekali tidak terdengar menarik bagi Ajeng. Alih-alih membahas masalah detail seperti itu, Ajeng justru minta untuk diberikan daftar tamu undangan yang akan hadir pada seminarnya nanti.


Ajeng membaca daftar itu dengan seksama kemudian melirik ke arah kalender dan tersenyum karena merasa memiliki waktu yang cukup untuk mengenal semua calon tamunya itu. Tapi kemudian matanya kembali tertuju ke arah kalender. Hari itu tanggal tujuh belas. Senyum Ajeng jadi semakin lebar. Ia tidak sabar menunggu acara rapat itu akan berakhir.


************


Setelah rapat berakhir, Ajeng bergegas pergi ke ruangan Wira dan mulai menulis surat untuk kakak keduanya. Ia menulis dengan penuh semangat sampai tidak sadar bahwa air matanya ikut menetes dan membasahi kertas suratnya. Ia kemudian membaca kembali isi suratnya dengan seksama. Ia tidak ingin ada kata-kata yang salah dan menyinggung perasaan kakak keduanya itu.


Setelah merasa cukup, Ajeng melipatnya lalu memasukkannya ke dalam amplop. Ia kemudian pergi sendiri ke kantor pos yang terletak tidak jauh dari komplek perkantoran pemerintah kota dengan berjalan kaki. Setelah membubuhkan perangko, Ajeng mengirimkannya dan berharap bahwa suratnya itu akan tiba dengan selamat di tangan yang tepat.

__ADS_1


*********************


__ADS_2