
Ketika kembali ke balai kota, Ajeng tidak sengaja mendengar para pegawai yang sedang beristirahat sambil ngobrol di bawah pohon besar yang ada di samping kantor balai kota. Awalnya Ajeng tidak tertarik, tapi kemudian Ajeng tidak bisa pergi begitu saja ketika mendengar mereka membawa-bawa namanya dan Wira.
“Bu Ajeng itu belagu banget yah? Sok tahu dan sok pintar. Padahal kan dia orang baru dan masih ingusan. Mana tau dia urusan di tempat kita?”
“Iya bener. Mana dia berani ngelawan Bu Manda lagi. Padahal Pak Wira aja ngga berani sama Pak Rega dan Bu Manda.”
“Namanya juga masih ingusan. Belum tahu apa-apa. Bisanya cuma sembunyi di bawah ketiak suaminya.”
“Eh, menurut kalian kira-kira kenapa Bu Ajeng tidak pernah mau tampil di depan umum?”
“Apa mungkin karena demam panggung?”
“Kalalu hanya karena demam panggung, dia tidak akan takut untuk difoto dan diliput.”
“Jadi? Apa mungkin karena dia sedang menyembunyikan sesuatu?”
“Heem, bukankah aneh kalau kita tidak bisa menemukan informasi apapun tentang latar belakang seorang ibu walikota?”
“Iya benar. Gelagat Bu Ajeng dan Pak Wira juga sangat aneh. Mereka suami istri tapi jarang terlihat bersama.”
“Apa mungkin Bu Ajeng itu selingkuhan Pak Wira?”
“Atau malah sebaliknya, Pak Wira yang mencuri Bu Ajeng dari suaminya.”
Semua orang yang ada disana terbelalak sambil menutup mulutnya yang menganga.
Tubuh Ajeng lemas seketika. Ia nyaris saja jatuh jika tidak segera bersandar pada sebuah pohon yang ada di dekatnya.
“Bu Ajeng ngga papa?” tanya Dito yang tiba-tiba saja ada di belakang Ajeng.
“Astaga! Ngagetin aja sih!” bentak Ajeng lirih.
__ADS_1
“Maaf Bu, tapi sepertinya Bu Ajeng lagi asyik ngedengerin mereka.” Sindir Dito.
Ajeng bergegas pergi meninggalkan Dito dan tempat bergosip itu. Pikirannya kalut dan sedang tidak ingin bercanda dengan siapapun.
“Apa Bu Ajeng marah mendengar celotehan mereka?”
Ajeng bergeming.
“Saya hampir setiap hari mendengar hal seperti itu. di kota kecil seperti ini tidak mudah untuk menutupi segala sesuatu. Dalam sekejap saja, gosip akan menyebar dan berkembang tidak karuan.”
“Apa yang mau kamu bilang sama saya.”
“Jika tidak tahan dengan cibiran orang lain, ibu sebaiknya menjauh dari Pak Wira dan mencari tempat lain yang lebih tenang. Bagaimanapun juga, Pak Wira itu adalah pejabat paling tinggi dan dihormati di kota ini. Tidak mudah untuk lepas dari perhatian banyak orang begitu saja.”
“Apa tujuan kamu mengatakan hal seperti ini sama saya?”
“Saya tidak punya tujuan apa-apa. Ibu jangan salah paham! Saya hanya merasa kita punya hubungan baik dan kalian adalah orang-orang baik. Jadi saya merasa perlu untuk menunjukkan hal-hal yang baik juga untuk kalian.”
“Apa kamu ngga mau ninggalin dia karena cinta?” tanya Dito begitu Ajeng berpaling meninggalkannya.
Langkah Ajeng terhenti. Ia berfikir sejenak lalu kembali melanjutkan langkahnya meninggalkan Dito.
****************
Ajeng berjalan mondar-mandir di ruangan Wira untuk memikirkan kembali apa yang baru saja didengarnya dari para pegawai dan juga Dito. Mereka benar, Ajeng memang terlalu terlihat mencurigakan karena tidak pernah mau mendampingi Wira tampil di acara-acara yang melibatkan banyak orang. Ia terlalu takut untuk diekspos dan ditemukan. Jadi tidak heran jika mereka semua bertanya-tanya tentang alasan ketakutan Ajeng.
Tapi tuduhan bahwa mereka berdua berselingkuh terlalu kejam untuk Ajeng. Bagaimanapun juga, Ajeng belum berpacaran apalagi menikah. Jadi bagaimana bisa Wira mencurinya dari pria lain? Sungguh tidak masuk akal.
‘Tunggu! Kenapa mereka mengira aku selingkuhannya Mas Wira? Apa mungkin Mas Wira pernah terlibat dalam kasus perselingkuhan?’ gumam Ajeng pada dirinya sendiri.
Tok..Tok..
__ADS_1
“Permisi Bu!”
“Astaga Abdi! Bikin kaget aja.”
“Maaf Bu, tapi saya sudah berkali-kali mengetuk pintu sebelum masuk.”
“Ya sudah. Ada apa?”
“Ini Bu. Saya mau nganter dokumen yang diminta Pak Wira.”
“Ya sudah taruh di situ aja!”
Abdi meletakkan dokumen di meja Wira lalu berbalik untuk keluar dari ruangan Wira.
“Tunggu! Kok kamu ada di sini? Kamu ngga pergi sama Mas Wira?”
Abdi menggeleng. “Pak Wira ngga mau saya ikut.”
“Jadi, Mas Wira pergi sendiri?”
“Ngga Bu. Sama Galang dan Pak Robi, Kabid SDM.”
“Oh, oke.” Ajeng sudah bisa langsung menebak kalau itu berkaitan dengan masalah Tegar.
Tiba-tiba saja Ajeng memiliki ide cemerlang. Meskipun belum bisa percaya sepenuhnya kepada Abdi, tapi hanya dialah orang yang sudah bekerja lama dengan Wira. “Abdi, sudah makan siang?”
“Belum Bu.”
“Bisa temenin saya makan nasi liwet Bu Jum yang terkenal itu?”
“Siap Bu.”
__ADS_1
***********************