
Sejak jalur pelayaran keluar dan masuk pulau Nusa Beringin ditambah, pelabuhan kecil di dekat rumah Ajeng jadi semakin ramai. Warga jadi lebih banyak bepergian untuk menjual barang dagangan mereka ke kota. Para wisatawan pun mulai banyak yang tertarik untuk datang ke pulau yang sudah mengalami perkembangan yang sangat pesat itu.
Melihat animo wisatawan itu, tiba-tiba saja Ajeng mendapatkan ide cemerlang.
“Mikirin apa lagi sih?” bisik Wira yang tiba-tiba saja memeluknya dari belakang sambil mengamati lalu-lalang warga di pelabuhan pulau tidak jauh dari tempat mereka berdiri dan memandang.
“Mas, gimana kalau kita beri pelabuhan kecil kita nama supaya mudah diingat. Selain itu, kita bangun dermaga seperti di dermaga kota supaya lebih banyak kapal yang tertarik untuk singgah kemari.”
“Ide bagus. Aku bakal bicara sama kepala pos penjaga dan tokoh masyarakat soal itu.”
Ajeng mengangguk antusias. “Aku juga bakal buka stand makanan di sana bersama ibu-ibu sini. Kami akan menjual aneka makanan dan cendera mata khas Nusa Beringin. Ini akan menjadi peluang usaha yang sangat menguntungkan. Aku juga bakal membuat jalur dan paket wisata mulai dari kunjungan sekolah, kebun kelapa, pengolahan kelapa, kampung nelayan dan wisata lapas juga.”
“Jeng, ngga bisa apa, sebentar aja otak kamu tuh mikirin soal aku aja? Dan ngga mikirin soal orang lain.”
“Emang Mas Wira bisa?”
Wira menggeleng dengan cepat dan mereka tertawa bersama-sama. Mungkin mereka memang cocok dan bisa bertahan lama dengan hubungan mereka karena alasan itu. Rasa peduli dan pengabdian yang sangat besar terhadap sesama.
******************
Dalam waktu beberapa bulan saja, dengan diiringi kerjasama yang sangat keras dan pantang menyerah, Desa Nusa Beringin akhirnya berdiri dan memiliki pelabuhan bernama Pelabuhan Nusa Beringin yang sudah dibangun, pasar wisata yang mulai ramai oleh para pedagang makanan dan kerajinan khas yang mereka produksi sendiri di bawah binaan Ajeng dan Wira.
Tidak hanya itu, mereka juga membangun secara sederhana tempat-tempat yang bisa dijadikan tujuan wisata seperti sekolah alam milik Ajeng yang sudah dipagar menggunakan kayu, perkebunan kelapa yang tidak pernah sepi dan tempat pengelolahan kelapa sampai dengan lapas yang disulap menjadi wisata edukasi.
Lapas yang pernah terbakar kembali direnovasi tanpa meninggalkan ciri khas lapas Nusa Beringin yang misterius. Tempat terjadinya kecelakan kebakaran yang pada akhirnya menewaskan pria yang berusaha diselamatkan Ajeng, dijadikan museum kecil untuk mengenang peristiwa naas itu. Lahan subur di sekitar lapas disulap Wira menjadi taman bunga yang sangat indah yang membentuk tulisan Nusa Beringin. Tempat itu kemudian berkembang menjadi spot berfoto yang paling diburu oleh para wisatawan.
Berkat trobosan itu, taraf ekonomi warga Desa Nusa Beringin kian meningkat. Lapangan pekerjaan semakin terbuka, mulai dari pemandu wisata, pedagang makanan dan souvenir, tukang foto keliling, persewaan perahu untuk wisata kampung nelayan dan sebagainya.
__ADS_1
Ajeng juga tidak lagi hanya mengajarkan baca dan tulis di sekolahnya, tapi juga cara berkomunikasi dan menyambut tamu dengan baik, etika dan segala soft skill yang dipelajarinya selama bersekolah di luar negeri dulu. Ia bahkan membuka kelas bahasa asing yang bisa dipilih secara bebas oleh warga, mulai dari bahasa inggris, jepang dan mandarin. Tidak heran jika warga asing merasa nyaman dan betah tinggal di desa wisata itu. Terutama, di penginapan yang Ajeng dan Wira bangun dan kelola.
*******************
Penginapan kayu kecil di tepi pantai yang Ajeng dan Wira kelola berkembang dengan sangat pesat. Dari yang awalnya mereka menyewakan satu-satunya kamar milik mereka, akhirnya berkembang menjadi lima cabin cottage yang nyaman dan indah karena dikelilingi taman tematik yang sengaja Wira buat dengan memanfaatkan bunga-bunga yang mampu hidup di iklim pantai dan tanah berpasir.
Hari itu mereka kedatangan tamu yang tak pernah mereka sangka-sangka sebelumnya. Seorang pria masuk dengan mengenakan jaket, kacamata hitam dan topi. Juga membawa sebuah tas ransel dan kamera yang tergantung di lehernya.
“Selamat datang di penginapan 824!” sapa Ajeng ketika ada seorang pria memasuki pintu lobinya.
Pria itu melepas topi dan kacamatanya lalu tersenyum.
“Dito?!!!!” Ajeng langsung reflek memeluk teman lamanya itu.
“Gimana kabar kamu, Jeng?”
“Pulau ini lagi banyak dibicarakan orang di luar sana. Jadi aku datang untuk meliput. Tapi siapa sangka kalau bisa ketemu kamu di sini.” Jelas Dito panjang lebar. “Ngga heran pulau terpencil yang dikenal misterius dan menyeramkan ini berubah sebagus ini. Kalian pasti ngga pernah tidur saking sibuknya menyulap pulau ini.”
Ajeng terkekeh. “Bisa aja kamu.”
“Mana Mas Wira?”
“Mas?” ulang Ajeng.
“Sekarang dia bukan atasanku lagi. Jadi aku bebas manggil dia apa aja.”
“Oke, oke. What ever! Duduk! Aku buatin welcome drink buat kamu.” Ujar Ajeng sambil masuk ke dapur untuk membuat minuman.
__ADS_1
Lalu Wira yang baru kembali dari tempat pembangunan instalasi penyaringan air laut, masuk ke dalam lobi yang juga ruang tamu rumahnya.
“Mas Wira?” sapa Dito.
“Dito?!” sama seperti Ajeng, Wira juga langsung memeluk pria yang pernah menjadi anak buahnya itu dengan erat. “Gimana kabar kamu? Kenapa tiba-tiba menghilang?”
“Panjang ceritanya.”
Ajeng kemudian tiba dengan nampan berisi minuman dingin untuk Dito. “Ngga yangka ya, Mas? Kita bisa ketemu sama dia di sini.”
Wira mengangguk. “Apa yang terjadi? Kenapa kamu malah mengundurkan diri?”
Dito meletakkan minuman yang selesai diteguknya di atas meja. “Setelah aku menolak untuk mengekspos identitas Bu Ajeng, Pak Rega mengajukan pemindahtugasan saya ke sebuah kota kecil di luar pulau. Saya menolak dan memilih untuk mengundurkan diri. Tapi mereka tiba-tiba saja malah menyebar rumor bahwa saya merilis berita bohong yang mencemarkan nama Mas Wira yang waktu itu masih menjabat walikota setelah tragedi dengan Tegar. Saya malah dipecat secara tidak hormat dan diblack list oleh semua kantor penyiaran yang ingin saya datangi. Tidak hanya itu, mereka juga menutup akses wisata ke Pantai Karangan sehingga penginapan menjadi sepi dan terpaksa tutup. Nenek sakit-sakitan dan akhirnya meninggal dunia. Setelah itu, saya meninggalkan kakek untuk membuat liputan saya sendiri seperti ini. Dan bersyukur karena sekarang saya sudah mulai bisa membangun kantor penerbit sendiri.”
“Gimana keadaan kakek?” tanya Ajeng cemas.
“Kakek sudah sering mengalami ketidakadilan seperti ini. Jadi beliau jauh lebih tangguh dari siapapun. Meskipun mulai sakit-sakitan juga, tapi kakek masih tetap kekeh mengurus penginapan dan berkebun.”
“Dimana kantor kamu sekarang?” tanya Wira tak kalah antusias.
“Di dekat penginapan.”
“Hah?! Kan lokasi disana diblokir? Kok malah bangun kantor disana?” tanya Ajeng heran.
“Karena ada terlalu banyak penyimpangan di sana yang harus diketahui dunia.”
*****************************************
__ADS_1