
Meskipun tahu bahwa Monica akan datang, tapi Ajeng tidak tahu kenapa dia memilih waktu itu dan datang dengan membawa begitu banyak wartawan padahal panitia sudah sepakat untuk tidak melibatkan wartawan luar dalam peliputan acara itu. Dan tiba-tiba saja konsentrasi Ajeng buyar, jantungnya berdegup tak karuan, tubuhnya gemetar ketakutan dan nyaris roboh kalau saja ia tidak bertumpu pada tangannya yang bersandar pada meja.
Wira menghampiri Ajeng.
“Kamu ngga papa? Kita keluar dari sini.” Tanya Wira menghadap Ajeng sambil menutupi tubuh Ajeng dari para wartawan yang mulai sibuk memotret.
Ajeng memegang lengan Wira untuk membantunya tenang. Ia menghirup nafas dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan-lahan. Wira membantunya mengatur nafas.
“Kamu ngga harus nyelesaiin ini. Kita pergi sekarang.” Ujar Wira lirih.
Ajeng menatap wajah Wira lalu memeluknya erat.
“Biarkan seperti ini sebentar.” Pinta Ajeng.
Seolah mengerti maksud gadis itu, Wira balas memeluk tubuh dan mengelus rambut panjang Ajeng tepat di hadapan Monica.
“Kamu ngga papa?” tanya Wira lagi.
Dan Ajeng mengangguk di dalam dekapannya. Gadis itu kemudian melepaskan pelukan Wira perlahan. “Aku ngga papa. Tunggu sampai aku selesai yah?”
"Apq kamu yakin?"
Ajeng mengangguk. Ia tahu bahwa momen seperti itu akan terjadi cepat ataupun lambat. Ia hanya perlu mempersiapkan diri untuk menghadapi kenyataan.
Wira tersenyum kemudian meninggalkan Ajeng yang masih ingin menyelesaikan presentasinya. Tapi para peserta seminar sudah mulai gaduh mempertanyakan apa yang terjadi.
Ajeng mengetuk mikrofonnya untuk menarik perhatian. “Ibu-ibu pasti bertanya-tanya apa yang sebenarnya terjadi kan?”
“Iya...”
__ADS_1
“Saya hanya ingin menunjukkan salah satu adegan dimana peran suami itu sangat penting bagi para istri. Ketika seorang istri mengalami krisis, panik, marah, capek, maka yang paling dibutuhkannya lebih dulu adalah perhatian dan pengertian dari sang suami, baru setelahnya adalah solusi seperti uang dan lain sebagainya. Benar tidak Bu?”
“Benar!.....” tepukan riuh kembali bergemuruh.
“Berkat dukungan dan pengertian dari suami saya, saya berhasil melalui masa krisis dan kembali melanjutkan seminar ini.”
Tepuk tangan kembali membahana dan Manda menjadi semakin kesal karena rencana yang sudah disusunnya bersama Monica jadi hancur berantakan.
“Baiklah, tiga poin yang ingin saya sampaikan adalah...........”
************
(Malam sebelum seminar diadakan)
Karena tidak bisa mencegah Wira untuk lebih memilih hadir di seminar daripada mendampingi Pak Gubernur melihat-lihat pameran di alun-alun kota, Rega mengajak Manda menemui Monica yang malam itu sudah tiba dan menginap di Amaris Hotel, salah satu hotel berbintang empat di Carang Sewu.
“Kenapa? Kenapa Wira tidak ingin seminarnya diliput? Bukannya Pak Rega bilang kalau selama ini dia tidak pernah peduli dengan masalah pemberitaan?” tanya Monica.
“Justru itu Bu. Kami juga penasaran kenapa Pak Wira seberani dan senekat itu. Dia biasanya tidak pernah berani menolak atau melawan kemauan saya. Tapi kali ini dia bersikeras dengan pendiriannya tanpa memberikan alasan yang jelas.” Jawab Rega.
Monica menghela nafas.
‘Apa yang sebenarnya berusaha lo sembunyiin, Wir?’ batin Monica.
“Saya sudah mencari informasi tentang Bu Ajeng dari Abdi, Pak Heri dan Pak Akbar. Tapi tidak ada satupun informasi dari mereka yang berguna. Saya jadi semakin penasaran dengan siapa Bu Ajeng sebenarnya.” Imbuh Manda. “Bukannya Bu Monica datang untuk mengacaukan hati Pak Wira? Bukankah ini waktu yang tepat? Karena sepertinya Pak Wira semakin menyukai gadis misterius itu.”
Monica berjalan mondar-mandir di kamarnya sambil memijit pelipisnya yang tidak sakit. “Kenapa Bu Manda bilang kalau Wira suka sama cewek itu?”
“Bu, Bu Monic pasti paling tahu kalau ego dan harga diri Pak Wira sangat tinggi. Tapi dia sampai rela bersusah payah melobi media dan memohon kepada suami saya. Apa itu belum cukup?”
__ADS_1
Tiba-tiba saja Monica merasa terbakar api cemburu. Ia sudah langsung membenci gadis yang bahkan belum pernah ditemuinya itu.
“Asal Bu Monica tahu aja, tadi siang, Pak Wira sampai mentraktir semua panitia dan pengisi acara nasi kotak untuk makan siang hanya demi supaya Bu Ajeng juga bisa menikmati makan siang di tengah acara gladi bersih. Apa Pak Wira pernah berbuat semanis itu kepada Bu Monic?” tanya Manda lagi.
“Tentu saja pernah.” Sahut Monica kesal. Ia terlalu malu untuk mengakui bahwa Manda benar. Wira memang tidak pernah semanis itu terhadapnya.
“Maaf, Bu.”
“Ya sudah. Kalian sebaiknya pulang dulu. Saya akan mencari informasi dan menghubungi kalian untuk rencana selanjutnya.” Tukas Monica.
“Baik, kalau begitu kami permisi dulu.” Ujar Pak Rega.
Sebelum pergi, Manda kembali mendekati Monica dan mengatakan sesuatu. “Oh ya, Bu Monic. Ada satu lagi yang harus Bu Monica tahu. Meskipun begitu mencintai Bu Ajeng, tapi kabarnya sampai sekarangpun mereka masih tidur terpisah."
"Apa?!"
**********
Setelah kepergian Rega dan Manda, suasana hati Monica berubah galau seketika. Ia benar-benar tidak suka mendengar bagaimana Wira bersikap manis dan berbuat banyak untuk gadis itu. Jadi Monica berusaha mati-matian untuk mencari tahu tentang pesaing beratnya itu.
Monica menghubungi salah satu Kepala Polda Provinsi Jala Brata yang kebetulan sangat dekat dengan ayahnya. Ia mencari tahu tentang Ajeng dan mendapatkan informasi bahwa gadis itu masuk dalam daftar pencarian orang hilang (DPO) khusus yang hanya diketahui oleh para pejabat tinggi kepolisian saja karena bersifat sangat tertutup dan rahasia.
Meskipun tidak berhasil mendapatkan informasi pasti tentang siapa yang mencari Ajeng dan untuk apa, tapi Monica sudah cukup merasa puas karena tahu bahwa gadis itu sedang berusaha keras untuk menyembunyikan dirinya. Karena itulah Wira menolak peliutan acara demi melindungi gadis yang dicintainya itu.
Karena merasa sakit hati dan marah, Monica menghubungi kenalannya di beberapa harian lokal dan meminta mereka untuk datang bersamanya untuk meliput seminar itu. Awalnya mereka menolak karena acara itu sama sekali tidak menarik untuk diliput. Dan Monica langsung tahu bahwa upaya Wira menebarkan rumor itu berhasil.
Tapi Monica tak mau berhenti sampai di situ. Ia tetap mendesak agar para pemburu berita itu mau pergi bersamanya. Selain dengan iming-iming sejumlah uang, ia juga berani menjanjikan bahwa akan ada informasi penting dan eksklusif yang akan mereka dapatkan dari acara itu. Dan begitulah asal mula para wartawan itu datang berbondong-bondong ke gedung serba guna tempat Ajeng mengadakan seminar.
***************************
__ADS_1