8 To 4 : Istri Kontrak Sang Walikota

8 To 4 : Istri Kontrak Sang Walikota
Curiga


__ADS_3

Waktu sudah menunjukkan pukul sembilan malam, tapi Wira masih belum juga pulang.


“Bi, emang Mas Wira sering pulang malem gini yah?”


“Iya, Bu. Kata Mas Abdi, Bapak kalau sudah kerja suka susah diberhentiin. Kaya ngga ada capeknya gitu.”


“Bukannya Mas Wira itu lebih sering ngurusin tanaman di kantor yah?”


“Saya juga dengernya kaya begitu, Bu. Tapi kalau denger dari Mas Abdi dan para ajudan yang selalu ngikutin Bapak kemana-mana ceritanya lain. Kata Mas Abdi, pekerjaan Bapak itu adalah yang paling berat diantara lainnya. Jam kerjanya Bapak juga yang paling panjang dari semua pegawainya, termasuk Mas Abdi.”


Ajeng kembali berfikir, ‘Kok bisa?’


Karena sudah malam, Bik Sumi pamit untuk istirahat. Jadi tinggal Ajeng saja yang masih membaca buku di teras seorang diri.


Tak selang lama, mobil Wira memasuki halaman dan Abdi turun mengikuti Wira sambil membawa aneka sayur-mayur di kedua tangannya.


“Belum tidur, Jeng?”


Ajeng menggeleng.


Wira duduk di kursi kosong yang ada di samping Ajeng, melepas sepatunya dan menggantinya dengan sandal. Ia kemudian mencuci tangan dan membuka tudung saji dan melihat makan malamnya masih utuh. “Kamu belum makan?”


Ajeng menggeleng.


“Yasudah, aku mandi dulu yah?”


Ajeng masuk dan mencuci sayur-mayur segar yang dibawa Abdi sebelum dimasukkan ke dalam kulkas. Ia merasa sayang kalau sayuran itu harus dibuang esok pagi karena layu atau busuk.


“Lagi ngapain?” tanya Wira yang baru selesai mandi.


“Oh ini, nyuci sayuran.”


Wira melihat lauk yang disiapkan Bi Sumi sudah mulai dingin. Dan ia tahu dari Bi Sumi kalau Ajeng tidak suka dengan makanan yang sudah dingin.


“Duduk!” titah Wira.


Pria bertubuh gagah itu kemudian meletakkan handuknya disandaran kursi lalu membuka isi kulkas untuk mencari sesuatu. Ia kembali dengan membawa bawang putih dan bombai juga aneka jenis bumbu-bumbu dan bahan lainnya.


“Mas Wira mau ngapain?”


“Katanya lapar?”


“Iya, tapi....” Ajeng menatap Wira penuh ragu. “Emang bisa?”

__ADS_1


“Duduk dan liat!” perintah Wira sambil meletakkan bawang bombay dan brokoli di hadapan Ajeng.


Ajeng membantu Wira mengupas bawang bombai yang karena tidak tahu caranya jadi tinggal sebesar telur ayam kampung karena terlalu banyak yang terbuang. Ia juga mencincang brokoli bersamaan dengan semua batang dan daunnya.


“Kamu ngga pernah ngupas bombay?”


Ajeng menggeleng.


“Ini kenapa brokolinya dicincang kaya begini?” gerutu Wira.


Tapi meskipun kesal, kali ini Wira tidak marah kepada Ajeng. Ia mengambil bawang bombay lain dan mengupasnya sendiri. Wira juga mengajari Ajeng cara memotong sawi putih dan pokcoy, juga jamur kuping dan brokoli. Setelah semua bahan siap, Wira memulai aksi memasaknya. Dalam sekejap saja, sepiring capcay sudah tersaji di atas meja makan.


“Selamat makan!” ujar Wira sambil menyerahkan sendok dan garpu kepada Ajeng.


Ajeng mengamati sejenak makanan karya pertama Wira untuknya itu, tersenyum lalu mulai mencicipinya sedikir demi sedikit.


“Gimana?”


“Enak.”


“Kenapa tadi pake dilihatin dulu?”


“Seneng aja rasanya bisa nikmatin makanan tanpa rasa khawatir dan harus dicicip dulu sama orang lain.”


“Maksud kamu?”


Wira buru-buru mengambilkan air dingin di kulkas tapi Ajeng malah menyemburkannya karena terlalu dingin.


“Kenapa?”


“Dingin banget. Aku ngga bisa minum minuman yang terlalu dingin. Jadi kalau pengen minum dingin, harus dicampur dulu sama air biasa.”


“Yassalam...”


Malam itu adalah kali pertama mereka menikmati makan malam bersama.


"Ngomong-ngomong, gimana soal Ani tadi?" tanya Ajeng membuka obrolan. "Bibi bilang Bu Manda juga ikut ke sini."


"Besok kita urus lagi pada jam kerja." jawab Wira sambil tersenyum dan membuat Ajeng semakin merasa tidak enak hati. "Sekarang habisin dulu aja makanan kamu lalu istirahat. Ini bukan jam kerja."


************************


Keesokan paginya, Ajeng lebih dulu menemui Wira di ruangannya tanpa dipanggil.

__ADS_1


“Ada apa ini? Tumben rajin dan cekatan?” sindir Wira.


“Sudah jam delapan pagi. Waktunya kerja.”


Wira melihat jam weaker di mejanya menunjukkan pukul 08.04.


“Ada apa?” tanya Wira yang beralih dari kursi kerjanya menuju kursi tamu di dekat Ajeng.


Ajeng menyerahkan fotokopi surat ijin penyelanggaraan penyuluhan yang ditemukannya kemarin. “Apa kamu tahu soal ini?”


Wira mengangguk dan meletakkannya kembali di meja. “Aku tahu tapi sudah terlambat.”


“Maksud kamu?”


“Aku ngga tahu kapan mereka minta aku buat tanda tangai surar ijin itu. Ngga ada yang bilang kalau penyuluhan itu akan diadakan bersamaan dengan pasar wisata. Kemarin lusa, aku baru tahu tapi sudah terlambat untuk membatalkannya. Semua persiapan sudah dilakukan dan kerugian akan semakin besar kalau terlalu dipaksakan.”


“Tapi kamu tahu kan ini ulah siapa? Siapa yang harus bertanggung jawab atas semua masalah ini?”


Wira mengulas senyum tipis.


“Dan kamu mau diem aja?”


“Sudahlah, jangan menyelesaikan masalah dengan menambah masalah baru! Yang terpenting sekarang, kita sudah berhasil.”


“Terus gimana ceritanya, pedagang di pasar wisata bisa membludak sebanyak itu padahal mereka sebagian besar memilih datang ke acara itu?”


“Setelah tahu strategi promosi yang kamu lakukan kemarin, aku mendatangi asosiasi pedagang lain yang belum terdaftar dalam lingkup binaan dinkop. Mereka menyambut baik tawaran aku untuk mengisi stand kosong di pasar wisata. Bahkan mereka juga bersedia untuk mendaftar dan bergabung dengan UMKM binaan kita. Jadi tidak hanya pasar wisata yang bisa berjalan sukses, tapi peserat binaan kita juga bertambah banyak.”


“Wah! Tadinya aku pikir aku orang yang paling berjasa. Tapi nayatanya apa?” ujar Ajeng berlagak kecewa.


“Kamu memang sangat berjasa. Berkat keberanian kamu masuk ke pasar induk, aku jadi dapat banyak ide untuk menyukseskan acara pasar wisata ini.”


Dan tiba-tiba saja Ajeng jadi teringat tentang gosip yang beredar di pasar kemarin.


“Oh ya Mas, kemarin aku ke pasar dan orang-orang mulai bergosip tentang bagaimana kita bertemu di Siliwangi. Mereka bahkan tahu bahwa aku bisa berbicara bahasa jepang dengan Mr. Suzuki. Dan anehnya lagi, mereka juga tahu kalau kita tidur di kamar terpisah. Bukankah itu aneh?”


“Dengar, semua orang di Siliwangi sudah tahu kalau kamu tiba-tiba nyium aku di atas bukit jadi apa yang aneh kalau mereka tahu kamu bisa bicara bahasa jepang dengan Mr. Suzuki? Orang Carang Sewu banyak yang bekerja dan berdagang di Siliwangi, juga sebaliknya. Jadi pertukaran informasi secepat itu bukanlah hal yang sulit. Itulah kenapa aku nawarin kontrak sama kamu. Karena aku ngga pengen berita miring itu mengacaukan pekerjaan aku.”


Wajah Ajeng memerah seketika mengingat perbuatan konyolnya mencium Wira hari itu. “Oke. Anggap saja informasi bisa bergerak secepat itu dari Siliwangi ke Carang Sewu. Lalu bagaimana soal kita pisah kamar?”


“Aku percaya sama orang-orang aku. Dan aku ngga suka kamu menuduh mereka sembarangan.”


“Oh ya? Tapi aku ngga percaya sama mereka dan aku mulai ngerasa ngga nyaman tinggal bersama mereka.”

__ADS_1


“Berhenti bersikap kekanak-kanakan!” Wira beranjak keluar dari ruangannya dan meninggalkan Ajeng yang masih belum puas dengan jawaban Wira.


***************************


__ADS_2