
Acara demi acara sudah berlangsung sejak pagi hari. Mulai dari acara pembukaan yang dipimpin langsung oleh Wira dan dihadiri oleh Bapak Susilo selaku Gubernur, acara hiburan pentas rakyat dan festival sayur lombok dan lemper bakar khas Carang Sewu, sampai arak-arakan kreasi pakaian adat yang dibawakan oleh para remaja wanita dan ibu-ibu Carang Sewu. Semuanya berjalan lancar dan sesuai dengan rencana.
Sore harinya, Wira diagendakan menghadiri acara pameran kerajinan dan UMKM di alun-alun kota bersama Bapak Susilo. Tapi ia tidak datang karena memilih untuk menyaksikan seminar yang dibawakan oleh Ajeng, istrinya.
Acara seminar yang diadakan di gedung serba guna itu dihadiri sekitar tiga ratus tamu undangan mulai dari istri bupati dan walikota se-Jala Brata sampai masyarakat umum yang mayoritas adalah wanita. Jumlah itu melebihi perkiraan karena banyak dari pedagang wanita dari pasar sayur Kalijaten yang ternyara ikut hadir meskipun tidak masuk ke dalam daftar undangan.
Moderator membuka seminar dengan menyampaikan tema dan judul yang akan mereka bahas sore itu yakni tentang emansipasi wanita era reformasi. Kesempatan pertama diberikan kepada Ibu Sri Pengestuti yang membagikan fotokopi makalah berjudul ‘Pentingnya Pendidikan dalam Meningkatkan Peran Serta Wanita’.
Beliau banyak membahas tentang pentingnya pendidikan baik formal maupun informal untuk meningkatkan kesadaran kaum wanita bahwa peran serta mereka sangat dibutuhkan dalam kehidupan sosial masyarakat era reformasi. Beliau juga menjabarkan tujuh peran utama yang dapat diambil kaum wanita untuk menyukseskan tujuan pembangunan.
Sayangnya, warga yang mayoritas ibu rumah tangga yang tidak mengenyam pendidikan tinggi malah ngantuk mendengarkan penjelasan panjang beliau.
Sama halnya dengan Bu Sri, Bu Heni Cahyo juga membagikan fotokopian materi tentang ‘Akses Pekerjaan bagi Kaun Wanita di Era Reformasi’. Dalam perspektif Bu Heni, era reformasi memberikan akses lebih besar bagi kaum wanita untuk aktif berperan dalam sektor ekonomi, mulai dari perdagangan, pekerjaan swasta maupun jenjang karir yang lebih tinggi seperti dokter, pegacara maupun profesor. Karena pemerintah mulai memberikan dukungan berupa penambahan kuota beasiswa bagi kaum wanita untuk menamatkan pendidikannya di bangku kuliah.
Tapi lagi-lagi penjelasan yang hampir menghabiskan waktu dua puluh menit itu terasa hambar dan membuat pendengarnya nyaris tertidur pulas. Makalah yang susah payah mereka gandakan dan bagikan malah dijadikan perahu kertas, surat-suratan dan bahkan lap tangan dan liur bagi yang tidak sengaja tertidur.
“Baiklah, dari penjelasan kedua narasumber tadi, apa ada yang ingin di tanyakan?” tanya moderator ketika Heni selesai menyampaikan materinya.
Dan tak satupun dari peserta yang mengangkat tangannya. Mereka malah menguap makin lebar dan ngantuk lebih dalam.
__ADS_1
*************
Moderator kemudian memberikan kesempatan kepada Ajeng. Tapi tidak seperti pembicara lain yang hanya duduk manis di bangkunya, Ajeng memilih untuk berdiri, berkeliling sambil menanyakan banyak pertanyaan kecil yang menggelitik para pendengarnya.
“Bukannya kamu bilang Ajeng kehilangan kertas materinya?” tanya Manda kepada panitia yang bertugas menyiapkan materi Ajeng.”Tapi kenapa dia kelihatan tenang-tenang aja sih?!”
“Iya bu, saya yakin kalau Bu Ajeng ngga punya kertas itu. buktinya dia ngga ngasih fotokopian makalah ke peserta seminar seperti yang lainnya.” Sahut si panitia.
Ajeng memulai pertanyaannya, “Apa ada ibu-ibu dan kakak-kakak yang hadir di sini yang tertarik untuk ikut serta dalam memajukan program pemerintah era reformasi?”
Tidak ada satupun yang mengangkat tangan. Lalu Manda dan kroni-kroninya mulai mengangkat tangan dan peserta yang mengenal Manda mulai mengikuti jejaknya.
“Bagus. Kalau begitu, apakah ada ibu-ibu di sini yang pernah duduk di bangku kuliah?” tanya Ajeng lagi.
“SMA?”
Ada sekitar dua puluh persen yang angkat tangan.
“SMP?”
__ADS_1
Lima puluh persen angkat tangan.
“Ada yang bekerja di kantoran?”
Para pegawai pemkot angkat tangan.
“Bisa disimpulkan kalau selebihnya ibu rumah tangga dan pegawai sektor informal karena karyawan swasta tidak mungkin menghadiri seminar yang dilaksanakan bersamaan dengan jam kerja. Kecuali niat bolos. Ya kan?”
Seisi ruangan mulai tertawa. Sementara Ajeng mengulur waktu, Wira terlihat menyiapkan sesuatu di depan sana. Tak lama kemudian sebuah layar proyektor dari OHP muncul di dinding. Wira meletakkan materi yang sudah Ajeng tulis secara ringkas menggunakan spidol di plastik mika itu di atas proyektor. Dan tulisan tangan Ajeng itu muncul di dinding. Para peserta yang mungkin kebanyakan belum pernah melihatnya pun mulai berdecak kagum dan antusias.
“Seperti yang anda semua lihat di dinding, hari ini saya hanya ingin menyampaikan materi yang sangat sederhana yaitu, ‘Dukungan Suami dalam Mengingkatkan Kualitas Hidup dan Peran Serta Wanita dalam Kehidupan Sosial Masyarakat’. Kenapa dukungan suami? Karena fasilitas pendidikan ada, lapangan pekerjaan ada, tapi dukungan suami tidak ada, maka para istri tidak bisa berbuat banyak. Betul apa betul?”
“Betul!......... “ suara peserta bergemuruh memenuhi seisi ruangan.
“Lalu kenapa saya menulis kualitas hidup lebih dulu daripada peran sosial masyarakat? Karena kalau dirinya sendiri belum bahagia dan berkualitas, bagaimana bisa wanita berperan untuk kehidupan masyarakat? Benar apa benar?”
“Benar!......... “
“Nah masalahnya sekarang, bagaimana sih ibu-ibu, cara supaya para suami ini selalu mendukung keterlibatan istrinya dalam masyarakat bahkan bangsa dan negara? Ada tiga poin yang ingin saya bahas di sini –“
__ADS_1
Tiba-tiba saja penjelasan Ajeng terhenti karena seorang wanita bertubuh langsing dan tinggi, berambut hitam lurus sebahu, datang bersama rombongan wartawan yang ingin meliput acara seminar tersebut. Wanita itu langsung duduk di salah satu bangku kosong yang ada di samping Bu Susilo, istri gubernur. Dan Ajeng langsung bisa menebak bahwa wanita berambut pendek itu adalah Monica, mantan istrinya Wira.
****************************