
“Jeng, makasih yah udah mau nemuin Manda dan Rega tadi.” Ujar Wira setelah kedua tamunya itu pergi.
“Mas, kenapa sih Mas Wira ngga bilang kalau Mas Wira kenal sama Ani?”
“Itu adalah bagian dari cara aku menuntaskan tugas aku dan aku ngga mau kamu terlalu terbebani dengan hal-hal yang beresiko dan berbahaya seperti itu.”
“Tapi Mas Wira seharusnya bilang kalau Mas Wira udah berbuat banyak untuk Ani. Jangan bikin aku salah paham dan berfikir kalau Mas Wira itu orang yang berperasaan.”
“Aku ngga keberatan kalau semua orang berfikir seperti itu. aku sama sekali ngga merasa dirugikan.”
“Termasuk aku? Kamu juga ngga peduli kalau aku salah paham sama kamu?” Ajeng tiba-tiba saja merasa kesal dan memilih untuk kembali ke kamarnya.
“Jeng!”
******************
Keesokan paginya, tidak seperti biasanya yang lebih memilih berjalan kaki bersama menuju kantor balai kota, Wira justru mengajak Ajeng untuk pergi dengan mengendarai mobil dinasnya. Pria itu juga tidak memakai kemeja dinasnya, melainkan mengenakan kaos oblong berwarna putih.
“Loh, mau kemana Mas? Kok ngga belok?” tanya Ajeng ketika mobil yang mereka tumpangi tidak berbelok dan masuk ke halaman balai kota melainkan terus melaju menuju jalan utama pusat kota.
“Nanti juga kamu bakalan tahu.”
Mereka melintasi jalanan kota yang ramai dan padat di pagi hari, memasuki kawasan pemukiman padat penduduk yang jalannya mulai mengecil dan berbelok-belok. Abdi kemudian menepikan mobilnya di sebuah lahan luas di dekat deretan rumah penduduk yang sangat rapat dan padat.
Wira membawa sebuah kantong plastik hitam berukuran besar dan mengajak Ajeng berjalan memasuki gang sempit yang hanya cukup dilalui motor dan berbelok lagi menuju gang yang hanya bisa digunakan untuk pejalan kaki, lalu berhenti di depan sebuah rumah kecil berukuran sekitar tiga kali lima meter yang beralaskan ubin semen berwarna hitam.
Wira mengetuk pintu dan seorang wanita berdaster lusuh keluar.
“Mau cari siapa?” tanya wanita itu.
__ADS_1
“Benar ini rumahnya Pak Edi?” tanya Wira ramah.
“Iya benar. Tapi suami saya tidak ada di rumah.” Jawabnya dengan mata berkaca-kaca.
“Boleh kami masuk?” tanya Wira lagi dan wanita itu terlihat ragu.
“Ngga papa kalau ibu keberatan. Saya cuma mau mengantarkan ini.” Wira menyerahkan kantong plastik yang dibawanya.
Wanita itu menerimanya dan terbelalak melihat beras, minyak, gula dan mi instan yang dibutuhkannya ada di dalamnya.
“Silakan masuk, Pak, Bu!”
Wira melepas sepatunya lalu mengajak Ajeng masuk ke dalam rumah mungil itu.
“Bapak ini siapa?”
“Saya temannya Pak Edi dan ini istri saya. Kami sudah mendengar soal Pak Edi dan turut prihatin atas musibah yang menimpa Pak Edi.”
Ajeng menyeka air matanya yang ikut menetes mendengar cerita wanita malang itu. ia baru menyadari bahwa wanita itu adalah istri dari pria yang mencopetnya waktu itu. “Boleh kami menjenguk anak ibu?”
Wanita itu mengangguk lalu masuk ke dalam kamar dan keluar dengan menggendong gadis kecil yang berusia sekitar dua tahunan. Ajeng menyentuh dahi anak itu dan kaget mendapati suhu tubuhnya yang sangat tinggi.
“Mas, kita harus segera membawa dia ke rumah sakit.”
Wira mengangguk lalu menggendong anak itu berlari ke mobilnya sementara Ajeng membantu Bu Edi untuk mengikuti langkah Wira.
Mereka tiba di rumah sakit dan gadis kecil itu langsung ditangani di UGD. Dokter mengatakan bahwa anak itu menderita demam berdarah dan mungkin akan meninggal kalau tidak segera dilarikan ke rumah sakit. Tubuh wanita lusuh itu lemas seketika hingga melorot dan berimpuh di lantai rumah sakit yang dingin. Ajeng berjongkok untuk membantu wanita itu berdiri kemudian wanita itu mencium tangan Ajeng sambil berterima kasih.
“Kalau bukan karena Ibu dan Bapak, anak saya mungkin sudah meninggal dunia.”
__ADS_1
“Jangan bicara seperti itu, Bu. Kami hanya kebetulan datang kesana. Anak ibu selamat karena doa dan kebaikan kedua orang tuanya.” Timpal Ajeng tulus.
Wira kemudian menyerahkan amplop berisi uang kepada wanita itu lalu pamit karena harus menangani urusan lain yang sudah menunggunya.
Ajeng mempercepat langkahnya agar bisa menjajari langkah Wira menuju tempat mobil mereka terparkir. “Makasih yah?”
“Buat apa?”
“Karena kamu sudah peduli sama mereka.”
“Aku cuma mau nunjukin sama kamu timbangan apa yang aku pakai.”
“Aku suka timbangan kamu.”
Wira tersenyum dan mempercepat langkahnya karena jam kerjanya sudah banyak terbuang pagi itu.
*******************
Malam sebelumnya.
Setelah Rega pulang, Wira menghubungi Tegar dan mencari tahu lebih banyak tentang pria yang mencoba mencopet Ajeng di pasar. Tegar menceritakan kembali detail kejadiannya kepada Wira.
“Kami membawa dia dengan mobil dan Bu Ajeng minta kami untuk melepaskannya setelah menurunkan Bu Ajeng di kantor. Tapi setelah Bu Ajeng turun, Pak Rega datang dan menanyai kami perihal kejadian itu. Pak Rega kemudian memerintahkan kami untuk membawa pria itu ke kantor polisi.” Jelas Tegas.
“Kamu ngga bilang kalau Bu Ajeng meminta kalian melepaskan orang itu?”
“Sudah Pak. Tapi Pak Rega bersikeras bahwa itu adalah kejahatan besar dan harus dihukum berat karena mengancam keluarga pejabat. Jadi kami terpaksa membawa orang itu ke kantor polisi sesuai prosedur yang berlaku.”
“Tolong awasi terus orang itu dan kabari kalau Pak Rega datang ke kantor polisi!”
__ADS_1
“Siap, Pak!”
**********************