
Setelah mengetahui kekacauan di Carang Sewu sore itu, Ajeng berusaha menghubungi Wira, tapi ponselnya masih saja belum aktif. Ia bergegas kembali pulang untuk menemui Alda sambil membawa koran yang baru saja diterbitkan itu.
“Ada apa?” tanya Alda yang sudah menunggu lama sambil bertanya-tanya sejak tadi.
Ajeng memberikan surat kabar itu kepada Alda dan Alda langsung tertunduk lemas setelah membacanya. “Siapa yang tega melakukan ini?”
“Rega. Dia marah karena Mas Wira berani menentangnya.”
“Biar aku habisi tu orang.” Tantang Alda sambil bangkit dari duduknya dan tentu saja Ajeng langsung mencegahnya.
“Jangan gegabah! Kita harus menunggu perintah dari Mas Wira.”
“Nunggu?! Sampai kapan? Itu pun kalau mereka berhasil kembali dengan selamat. Kalau ngga?”
Ajeng melepaskan tangannya dari Alda. “Maksut kamu?”
Alda buru-buru meralat perkataannya. “Maaf Mbak Ajeng. Aku ngga bermaksut bicara seperti itu.”
“Jadi itu alasan Mas Wira minta kita untuk pulang lebih dulu?”
“Ngga, Mbak. Mas Wira pasti menang dan berhasil meringkus Baron. Dia pasti akan pulang dengan selamat.”
Ajeng berpaling dari Alda untuk menyembunyikan tangisnya. Ia tidak kuasa lagi menahan diri. Tubuhnya memang sakit tapi kali ini hatinya jauh lebih sakit. Dia tidak bisa berdiam diri lagi. Ajeng sudah membulatkan tekad untuk menyerahkan diri kepada ayahnya demi mendapatkan bantuan untuk Wira. Dia adalah satu-satunya orang yang bisa membantu Wira saat ini.
“Mbak Ajeng mau kemana?” tanya Alda ketika Ajeng keluar dari rumah.
“Kembali ke kantor.”
“Untuk apa?”
“Meminta bantuan presiden.”
************
__ADS_1
Tak lama setelah Ajeng pergi, Wira datang bersama Abdi. “Dimana Ajeng?”
“Balai kota, Mas?” jawab Alda sambil menyerahkan surat kabar kepada Wira. “Dia bilang mau minta bantuan sama presiden.”
Wira menjatuhkan surat kabarnya lalu bergegas pergi ke kantornya. Ia berlari sekuat tenaga, menaiki puluhan anak tangga demi tiba di depan ruangannya. Ketika membuka pintu, Ajeng sedang berdiri sambil memegang gagang telpon. Wira segera menghampirinya, memutus sambungan telpon lalu memeluknya dengan sangat erat. Ajeng menumpahkan semua air matanya di dalam pelukan Wira.
Ia merasa sangat lega dan bersyukur karena pria itu kembali dengan selamat. Meskipun tidak tahu apa yang akan terjadi kepada mereka selanjutnya, tapi ia jauh merasa lebih tenang sekarang. Wira melonggarkan dekapannya.
“Apa kamu sudah bicara sama Papa kamu?” tanya Wira cemas.
Ajeng menggeleng perlahan. “Mereka sedang menyambungkan telpon ke ruang rapat istana karena beliau sedang rapat dengan para menteri.”
Wira menghembuskan nafas lega. “Syukurklah!”
Ia kembali memeluk Ajeng. “Lain kali jangan melakukan hal gegabah tanpa ijin aku lebih dulu!”
Ajeng langsung mengangguk tanpa perlawanan. Kali ini ia tidak ingin bersikeras lagi. Ia hanya ingin mengatasi semua kekacauan ini bersama Wira.
Wira kembali memeluknya. “Menunggu dan melihat.”
****************
Dalam sekejap saja, berita tentang Wira langsung menyebar dan disiarkan serentak di saluran televisi nasional. Rega sudah siap untuk berpesta untuk merayakan kemenangannya. Sebentar lagi, Wira akan dipecat dan diproses secara hukum sehingga ia akan secara otomatis menggantikan Wira menjadi Walikota Carang Sewu yang paling dicintai warga.
Tapi betapa kagetnya Rega ketika mengetahui bahwa berita itu bukan memberitakan tentang kasus pembunuhan, melainkan mengungkapkan kebenaran bahwa pria yang diduga dibunuh Wira lima tahun lalu itu ternyata masih hidup dan mengalami cacat. Wira dan ayahnya mengaku lega karena akhirnya mengetahui kebenaran itu dan mereka berjanji untuk bertanggung jawab secara moral dan material kepada korban dan keluarganya.
Berkat kasus itu juga, kasus tentang pembunuhan ayah Abdi lima tahun lalu juga terungkap. Pria cacat itu dijadikan tersangka kasus pembunuhan tersebut dan karena pria itu adalah Lukas, kakak Baron. karena itu pula, kasus tentang prostitusi dan human trafficking yang dijalankan Baronpun ikut terungkap. Tidak hanya itu, Wira bahkan disebut-sebut sebagai orang yang paling berjasa dalam penakhlukan komplotan sindikat prostitusi dan perdagangan anak dan wanita itu.
“Sial! Apa-apaan ini?” umpat Rega kesal. “Kenapa bisa jadi seperti ini?”
****************
Hari itu, setelah Ajeng dan Alda pergi dari jembatan Jambon, Wira dan anak buahnya pergi ke markas Baron bersama tim polisi gabungan. Berdasarkan informasi yang diberikan Wira, mereka berencana menggerebek dan menghancurkan sarang kejahatan Baron dan jaringannya.
__ADS_1
Setelah sempat baku hantam karena mereka melakukan perlawanan brutal, Wira dan petugas berwajib berhasil meringkus mereka. Semua anak buah Baron berhasil diamankan, sayangnya Baron berhasil kabur dan sekarang masuk dalam daftar buronan paling dicari di seluruh pelosok negri.
Ketika hendak kembali, Wira mendapat informasi dari Dito bahwa Rega berencana merilis berita tentang kasus pembunuhannya lima tahun lalu. Ia segera menghubungi ayahnya dan mengkoordinasikan penanganan media nasional agar beritanya tidak memburuk dan merugikan mereka.
Bak ketiban durian runtuh, umpan berita yang dirilis Rega, ternyata justru membantunya mengungkap fakta bahwa pria yang dipukul Wira dengan batu lima tahun lalu ternyata tidak mati. Mereka menghubungi Wira dan memberitahukan tentang keberadaan pria itu. Wira segera memerintahkan anak buahnya untuk mengamankan pria itu sebelum Baron lebih dulu menemukannya. Terlebih lagi, pria itu bisa dijadikan umpan untuk memaksa Baron datang dan menyerahkan diri.
***************
Ajeng kembali menangis setelah mengetahui berita yang sedang banyak dibahas televisi nasional tentang Wira. Ia merasa sangat lega karena Wira berhasil keluar dari krisis terberat dalam hidupnya itu.
“Udah dong, jangan nangis lagi!” bujuk Wira.
“Aku bersyukur banget kamu bisa pulang dengan selamat, Mas.”
“Itu bukan apa-apa. Tadi dia menangis lebih kencang gara-gara aku bilang kalau kalian mungkin ngga bisa kembali dengan selamat.” Ledek Alda puas.
“Siapa coba yang ngga bakalan kaget denger kabar kaya gitu?” elak Ajeng menutupi rasa malunya.
Wira menjewer telinga Alda. “Bukannya aku kabarin kamu supaya kasih tahu Ajeng kalau kami berhasil membereskan semuanya. Kenapa malah bohong?”
“Sengaja.. hehe... Pengen tahu aja sepanik apa dia kalau tahu Mas Wira dalam bahaya.” Celoteh Alda enteng.
“Tunggu! Maksut kalian, kalian sengaja mempermainkan aku? Bukannya ngabarin aku duluan, tapi Mas Wira malah ngabarin Alda dan Alda bukannya ngasih tahu aku kalau Mas Wira sudah aman, tapi malah nakut-nakutin aku? Jahat banget sih kalian?!”
Ajeng berputar-putar meja mengejar dan memberi Alda pelajaran karena telah menipunya tapi Wira kemudian menangkapnya dan membiarkan Ajeng jatuh ke pangkuannya. Meskipun pahanya masih sakit, tapi itu tidak ada apa-apanya lagi jika dibandingkan rasa takutnya bahwa Ajeng akan benar-benar pulang dan meninggalkannya demi melindunginya.
Tanpa sungkan dan malu lagi, Wira menarik tubuh Ajeng dan mendekapnya dengan sangat erat seolah tidak pernah ingin melepaskannya lagi demi apapun.
Meskipun akal sehatnya melarangnya untuk menyentuh Ajeng, tapi ia tidak mampu lagi melarikan diri. Ia mencondongkan kepalanya dan memberanikan diri mengecup bibir Ajeng untuk pertama kalinya di hadapan semua orang.
Ajeng yang awalnya terkejut dengan serangan mendadak Wira, kemudian mulai mengikuti kata hatinya. Ia memberanikan diri menatap mata Wira lalu membiarkan pria itu kembali menciumnya hangat dan mesra. Ia tidak peduli lagi dengan dinding dan jurang yang akan mereka hadapi. Ia telah mendapatkan jawaban atas segala tanya yang mengganggunya selama ini. Pria itu mencintainya.
**********************************
__ADS_1