8 To 4 : Istri Kontrak Sang Walikota

8 To 4 : Istri Kontrak Sang Walikota
Makan Malam (2)


__ADS_3

Pramusaji mulai menyajikan selendang mayang, minuman dari kue kenyal yang dipadukan dengan kuah santan, sebagai hidangan pembuka. Tidak seperti selendang mayang pada umumnya, Ajeng menambahkan susu dan aroma pandan untuk menambah rasa guris dan manis pada santannya. Sehingga membuat Pak Susilo terpaksa minta tambah saking sukanya dengan dessert yang Ajeng persiapkan malam itu.


Tak lama kemudian, Wira ikut bergabung bersama mereka. “Jadi, berapa lama Pak Gubernur berniat tinggal di kota kami?”


“Agak aneh rasanya kamu manggil papa dengan sebutan itu, Wir. Seperti biasa ajalah, panggil Mama Papa seperti dulu.” Sahut Bu Susilo.


“Maaf, Bu. Tapi saya merasa lebih nyaman dengan sebutan itu.” jawab Wira tegas. “Oh ya, Mon. Gimana kabar Haris sama Mayang? Kenapa ngga ikut kesini?”


“Mas Haris ada proyek di luar negri dan Mayang tidak bisa jauh-jauh dari Omanya.”


“Aneh yah anak jaman sekarang? Masa lebih dekat sama Omanya daripada Mamanya sendiri?” sindir Ajeng.


"Mayang adalah cucu kesayangan. Orang yang belum punya anak ngga akan tahu gimana dilematisnya posisi seperti itu." balas Monica tak mau kalah.


"Kalau begitu sepertinya saya harus berterima kasih lagi karena kalian mau repot-repot datang kemari di memenuhi undangan kami sampai harus meninggalkan Mayang di rumah." sela Wira.


"Kami sengaja datang ke sini. Mama mau lihat sebaik apa kamu bisa hidup tanpa Monica." cibir Bu Susilo lagi.

__ADS_1


"Jadi gimana menurut anda? Apakah saya jauh lebih baik?" tanya Wira sambil menggenggam tangan Ajeng. "Saya beruntung memiliki wanita hebat seperti Ajeng, ngga cuma cantik tapi juga cerdas dan dicintai warga. Dan yang paling penting, setia."


Tak ingin obrolan itu memanas sebelum waktunya, Ajeng segera memerintahkan pramusaji untuk menghidangkan menu utama lengkap dengan urutan dan tata letak seperti yang Ajeng jelaskan kepada mereka sebelumnya.


“Wah! Apa ini? Kenapa mirip seperti jamuan di istana negara?” puji Bu Susilo terkesima.


“Mama ini apa-apaan sih, bikin malu aja.” Gerutu Monica.


“Loh, emang bener kok... Kamu sih belum pernah diundang ke istana. Kalau pernah makan di sana pasti tahu kalau hidangan seperti ini hanya ada di dalam sana.”


Ajeng terkekeh, “Bu Gubernur terlalu berlebihan. Saya hanya mempersiapkan dari bahan yang ada karena kebetulan acaranya mendadak. Selain itu, tidak ada yang istimewa dari jamuan istana. Anak-anak di sekolah juga pasti tahu dan diajarin sama guru-guru mereka.”


“Memangnya ngga ada? Apa yang istimewa dari makanan seperti ini sampai tidak diajarkan di sekolah-sekolah?” gurau Ajeng yang sebenarnya baru tahu bahwa kehidupan di dalam istana negara ternyata setertutup itu dari masyarakat.


“Bu Wali, meskipun kita ini sudah reformasi, tapi tetap saja tidak bisa sembarangan mencampuri urusan istana. Perlindungan terhadapp kehidupan pribadi presiden dan keluarganya masih saja ketat. Mana mungkin sekolah berani mengajarkan hal seperti itu kepada murid-muridnya?” imbuh Pak Gubernur.


“Gitu yah? Saya pikir tidak ada hal baik yang perlu disembunyikan. Bukankah lebih baik jika kita sebagai masyarakat lebih mengenal pemimpin kita?” gurau Ajeng lagi.

__ADS_1


Pak Susilo mulai mencicipi ayam bakar taliwang yang ada di hadapannya. “Memang benar. Seharusnya memang seperti itu. tapi siapa yang berani melawan aturan hanya demi memuaskan segelintir warga?”


“Silakan dicicipi!” ujar Wira mempersilakan.


“Heemmmm, ayam bakarnya enak.” Puji Pak Susilo lagi.


“Itu Pak Gik yang masak, juru masak senior di rumah ini. Beliau asli Lombok, jadi sangat familiar dengan resep yang satu ini. Kalau Pak Gubernur suka, kapan-kapan boleh undang beliau secara khusus buat masakin.” Jelas Ajeng panjang lebar sambil melirik Wira yang memindahkan ayam kalasan dari hadapan Monica dan menggantinya dengan daging yang ada di hadapan Ajeng.


Dan itu justru membuat Wira, Bu Susilo dan Pak Susilo terbelalak. Karena mereka sebagai pejabat biasanya selalu mengedepankan diri mereka sendiri dan hampir tidak pernah menyebutkan orang-orang kecil di belakang mereka dalam pembicaraan.


“Kalian pasti merasa aneh karena kita membahas orang-orang yang seharusnya tidak muncul dalam pembicaraan seperti ini. Tapi saya rasa itu tidak sepenuhnya benar. Meskipun peran mereka tidak selalu di depan, tapi mereka memiliki andil yang sangat penting dan patut kita hargai. Rumah ini ditata indah dan rapi oleh Abdi dan Bi Sumi. Dan saya secara pribadi merasa sangat senang dan berterima kasih kepada mereka.” Imbuh Ajeng tulus dan penuh percaya diri.


Pak Gik, Bi Sumi dan Abdi yang diam-diam mendengar pembicaraan mereka dari dalam melompat kegirangan. Itu adalah kali pertama ada atasan mereka yang tidak malu menyebutkan nama dan peran mereka kepada tamu penting. Ketiga pegawai itu merasa sangat senang dan bangga dengan pekerjaan mereka berkat Ajeng.


“Jadi berkat mereka kamu bisa membuat semua ini? Ternyata kamu sama aja sama Monic, ngga bisa apa-apa selain mengandalkan para pelayan di rumah. Bedanya, dia bisa ngelakuin itu karena keluarga kami mampun dan kamu karena kebetulan dinikahi dadakan sama Wira.”


“Maaf, Bu. Bukankah tidak seharusnya anda berbicara kasar seperti itu kepada istri saya?” tegur Wira yang tidak bisa lagi tinggal diam. “Apa anda pikir mudah memikirkan dan menyiapkan semua ini dalam waktu sesingkat itu seorang diri?”

__ADS_1


“Mas.....” Ajeng menggenggam tangan Wira guna mencegahnya bicara lebih banyak. Tidak menyenangkan bagi Ajeng untuk menyerang orang yang dari cara bicaranya saja sudah menunjukkan bahwa kelasnya berada jauh di bawahnya. Jadi Ajeng sengaja membiarkannya menang dan merasa puas kali ini.


**********************************


__ADS_2