8 To 4 : Istri Kontrak Sang Walikota

8 To 4 : Istri Kontrak Sang Walikota
Rasa Penasaran Monica


__ADS_3

Selesai menyantap hidangan utamanya, pramusaji kembali keluar dengan membawa gelas berisi teh hangat. Ajeng bangun dari duduknya dan membantu pelayan itu menyajikan minuman penutup itu dengan cara yang juga di luar kebiasaan.


Alih-alih menyajikan dari tempatnya berdiri dan membiarkan gelasnya dioper dari satu tangan ke tangan lainnya, Ajeng malah memilih untuk berpindah dari sisi kanan Wira menuju sisi kanan Pak Susilo, sisi kanan Bu Susilo, sisi kanan Monica lalu sisi kanannya tempat duduknya sendiri.


Ajeng kemudian duduk kembali di kurisnya lalu menggenggam tangan Wira yang ada di atas meja sambil berkata dengan manis, “Ayo diminum tehnya, Mas!”


Wira tersenyum sambil menatap Ajeng penuh makna kemudian mulai mencicipi tehnya dan mempersilakan yang lain mencicipinya juga.


Bu Susilo kembali tertegun melihat cara penyajian Ajeng lalu mencicipi teh yang membuatnya penasaran itu.


“Hemmm, ini bukan teh biasa. Apa ini?” tanya Bu Susilo.


Karena ikut penasaran, Pak Susilo ikut mencicipinya. “Hemmm, iya benar. Ini juga teh kesukaan Pak Presiden. Ini kali kedua kami minum teh seperti ini dan kita tidak bisa menemukan minuman seperti ini di sembarang tempat.”


“Itu teh gaharu.” Tukas Ajeng.


“Darimana Bu Ajeng mendapatkan teh ini?” tanya Bu Susilo penuh selidik.


“Seorang kenalan memberikan saya teh ini sebagai oleh-oleh.”


“Siapa kenalan Bu Ajeng? Orang istana?”


Ajeng tersenyum, “Bukan. Hanya seorang nenek pemilik penginapan.”


Meskipun kedua orang tuanya terlihat sangat menyukai teh gaharu yang Ajeng sajikan, tapi Monica tidak merasa begitu. Teh itu terasa sepat dan pekat di lidahnya, jadi ia memanfaatkan kesempatan itu untuk melaksanakan rencananya.


*************


Tepat saat ibunya hendak bicara, Monica pura-pura hendak meminum tehnya dan kaget sehingga tehnya tumpah ke bajunya.


“Aduh! Gimana nih?”


“Maaf, Mon. Mama ngga sengaja.” Ujar Bu Susilo merasa bersalah karena merusak gaun cantik putrinya.


“Ngga papa, Ma. Boleh saya permisi ke kamar mandi sebentar?” tanya Monica kepada Ajeng.

__ADS_1


“Boleh. Mari saya antar!.” Ajeng membawa Monica menuju kamar mandi utama yang ada di dekat dapur tapi wanita itu menolak dengan alasan ingin tempat yang lebih privat karena hendak mengganti pakaian.


Ajeng terpaksa membawanya ke kamar mandi yang ada di dalam kamar Wira dan membiarkannya melihat sebuah handuk yang dipikirnya digunakan bersama oleh Ajeng dan Wira. Juga berbagai produk perawatan kecantikan miliknya dan Wira yang bercampur di dekat wastafel. Ajeng tidak ingin hanya masuk dan terjebak dalam rencana Monica saja. Tapi ia juga ingin Monica menikmati permainan yang sama yang juga telah ia persiapkan.


Tak lama kemudian Monica keluar dengan mengenakan dress biru sepaha yang ketat membentuk lekuk tubuh indahnya dan terbuka di kedua bahunya. Ajeng tersenyum melihat penampilan baru Monica tapi ia sengaja menahan komentarnya dan membiarkan wanita itu puas melihat-lihat isi kamar Wira yang sudah disulapnya menjadi kamar suami istri. Ia bahkan sengaja meletakkan buku nikahnya di atas meja.


“Apa kalian tidur bersama di sini?” tanya Monica sambil mellihat buku nikah Ajeng.


“Apa kamu juga percaya kalau kami tidur terpisah?” cibir Ajeng yang menyadari bahwa Monica juga termakan gosip murahan yang sedang marak dibicarakan orang-orang di sekelilingnya balakangan ini. “Ayolah! Mana ada wanita yang mau melewatkan kesempatan langka tidur bersama pria sepanas Mas Wira?!”


Monica tiba-tiba saja menjadi kikuk. Dan sekarang giliran Ajeng berjalan perlahan sambil mengelilingi kamarnya dan menjelaskan satu per satu detail tentang kamar yang baru beberapa saat lalu diciptakannya itu.


“Ini adalah kursi yang biasa kami gunakan untuk bercumbu dan melakukan pemanasan. Lalu Mas Wira biasanya lebih suka membawaku ke dinding dulu sebelum ke tempat tidur ini.” Ujar Ajeng sengaja membuat gerakan lambat yang sedikit nakal sambil menunjukkan tempat-tempat yang dimaksutnya. “Tapi kami biasanya tidak langsung mengakhirinya di sini. Apa kamu tahu? Kadang bath up jauh lebih menantang dan menyenangkan.”


“Cukup! Apa kamu tidak malu menceritakan hal seperti itu kepada mantan istri suami kamu?” bentak Monica.


“Untuk apa harus malu. Karena kalian sudah menikah, makanya lebih enak bicara dengan orang yang sudah sama-sama paham dan pernah merasakan pengalaman yang sama.” Balas Ajeng enteng. “Apalagi, kamu juga pasti tahu kalau Mas Wira itu luar biasa hebat di ranjang. Tidak pernah sekalipun kami lolos kurang dari tiga putaran.”


“Cukup!” Monica menahan nafasnya yang tiba-tiba saja terengah-engah.


“Apa maksut kamu?”


“Kamu pikir saya ngga tahu kalau ide makan malam ini ide kamu? Kalau kamu sengaja ingin masuk ke kamar kami?”


“Jangan sembarangan menuduh!” elak Monica.


“Oh ya?! Mana ada tamu yang siap dengan pakaian gantinya dan menolak kamar mandi utama rumah dinas yang hanya digunakan tamu-tamu penting?”


“Kamu salah paham! Aku tidak biasa berganti pakaian di sembarang tempat karena aku ini seorang model terkenal. Aku-“


Ajeng mengangkat tangannya tanda Monica harus berhenti. “Aku sama sekali ngga tertarik tahu siapa kamu meskipun kamu sudah mencari tahu terlalu banyak tentang aku.”


“A-a-apa maksut kamu?” tanya Monica mulai gagap.


Ajeng tersenyum, “Kamu mestinya sudah tahu kalau kamu tidak seharusnya berani berurusan sama aku.”

__ADS_1


Monica menatap Ajeng ketakutan karena gadis itu terus saja berjalan mendekatinya. Tapi Ajeng tiba-tiba berpaling dan kembali duduk di tepi ranjang sambil tertawa terbahak-bahak.


“Kenapa kamu setakut itu? Aku kan cuma becanda.” Ujar Ajeng sambil meninggalkan Monica di kamarnya. Dengan itu saja, Ajeng sudah yakin bahwa Monica belum tahu banyak tentang latar belakang dan identitasnya.


Tubuh Monica melorot ke lantai. Jantungnya hampir saja copot karena mengira Ajeng benar-benar orang penting yang sangat berpengaruh. Tapi sekarang ia bisa bernafas lega karena tahu gadis itu sedang bergurau. Monica kemudian keluar dari kamar dan kembali ke ruang tamu tempat kedua orang tuanya bercengkrama dengan Wira.


'Awas lo, Jeng! Lihat aja! Besok wajah lo bakal ada di semua urat kabar dan lo bakal tahu apa yang bisa gue lakuin buat ngehancurin hidup lo!' batin Monica geram.


***************************


Ketika kembali, Monica sudah melihar Ajeng duduk di sofa samping Wira sambil bersandar di lengah Wira. Keduanya sesekali saling tatap dan tersenyum ketika menimpali perkataan kedua tamunya itu. Wira bahkan tidak sungkan sesekali membelai rambut Ajeng dan mengecup keningnya ketika mengatakan bangga dan mencintai gadis itu.


Dan tentu saja itu adalah pemandangan yang sangat memuakkan bagi Monica. Seharusnya ialah yang berada di sana, di samping Wira. Dan bukannya Ajeng yang baru saja ditemui dan dikenal Wira.


“Monic?! Sudah ganti baju?” tanya Bu Susilo ketika menyadari kedatangan Monica. “Ayo kita pulang!”


Sepertinya Bu Susilo juga tak kalah gerahnya dengan Monica ketika melihat adegan mesra tipis-tipis yang sedang dimainkan Ajeng dan Wira.


Wanita itu kemudian duduk di sebrang Wira seolah sengaja mempertontonkan pahanya yang mulus tanpa noda. Sebelum berpamitan Monica mengatakan bahwa maksut kedatangannya ke rumah itu adalah untuk mengundang Wira ke acara ulang tahun pernikahannya dengan Haris bulan depan.


“Kalau bagitu, kami permisi dulu.” Ujar Monica menyudahi pertemuan malam itu.


Wira mengantar Pak Susilo dan istrinya menuju mobil sementara Ajeng mengucapkan selamat kepada Monica.


“Selamat yah? Kalau tidak ada halangan, kami pasti datang.”


“Selamat juga untuk pernikahan kalian. Mudah-mudahan kamu ngga nyesel setelah tahu seperti apa Wira yang sebenarnya.” Jawab Monica.


Ajeng terlihat penasaran dengan apa yang Monica katakan.


“Maaf, aku hanya ngga yakin kalau kamu akan bisa menangani pria seperti Wira.” Ujar Monica sebelum berjalan meninggalkan Ajeng dan masuk ke dalam mobilnya.


‘Seperti apa Mas Wira sebenarnya? Kalau Monica masih begitu mencintainya, lalu kenapa mereka harus bercerai? Apa yang sebenarnya Mas Wira berusaha sembunyikan dari semua orang? Apa ini ada kaitannya dengan kenapa ia begitu tunduk kepada Pak Rega?’ guman Ajeng dalam hati. ‘Ah iya. Pak Rega. Orang itu pasti tahu sesuatu tentang Mas Wira.’


***********************************

__ADS_1


BAB


__ADS_2