8 To 4 : Istri Kontrak Sang Walikota

8 To 4 : Istri Kontrak Sang Walikota
Kabar dari Desa


__ADS_3

Karena Dara adalah orang yang enak untuk Dito ajak bicara, maka pagi itu ia kembali mendatangi Dara di klinik dan minta agar gadis itu mau menemaninya berkeliling Nusa Beringin untuk mengumpulkan banyak gambar dan informasi tentang pulau terpencil yang sangat eksotis itu.


Setelah mendapat ijin dari dr. Husein, Dara mengajak Dito berkeliling ke semua tempat wisata yang ada di sana dan menceritakan semua yang diketahuinya tentang pulau itu, termasuk peran pasutri paling populer, Ajeng dan Wira.


“Mereka yang bejasa besar dalam perkembangan pulau ini. Sejak mereka tiba di sini, Nusa Beringin banyak berubah. Sekarang anak-anak sudah pandai membaca dan bicara bahasa asing. Padahal dulu, untuk memberikan resep saja kami kesulitan karena warga kebanyakan tidak bisa membaca.” Jelas Dara panjang lebar.


“Mereka memang seperti itu. Selalu menjadi inspirasi dan memberi manfaat untuk banyak orang. Ngga bisa tidur nyenyak kalau belum mencampuri masalah orang lain hehe...” Gumam Dito.


“Mas Dito sudah lama kenal sama mereka?”


Dito mengangguk. “Tidak perlu waktu lama untuk mengenal orang baik dan tulus seperti mereka. Mereka selalu membuka diri kepada semua orang, meskipun harus selalu berusaha lari dari kebenaran tentang diri mereka sendiri.”


“Oh ya, ada satu lagi yang sangat menarik dari Mbak Ajeng. Dia dinikahi oleh Mas Wira di klinik setelah mengalami kecelakaan akibat kebakaran lapas.”


“Kebakaran?”


“Tunggu! Jangan kaget dulu! Ada lagi yang lebih menarik dari berita kebakaran itu. Papanya Mbak Ajeng datang ke sini dan langsung menikahkan mereka begitu Mbak Ajeng sadar. Dan Mas Dito tahu? Wajah papanya Mbak Ajeng sangat mirip sama Pak Presiden. Hanya saja waktu itu saya tidak bisa melihat dengan jelas dari dekat karena beliau dikelilingi para ajudan.”

__ADS_1


Dito berusaha menyembunyikan ketertarikan sekaligus keterkejutannya dari Dara.


‘Pak Presiden datang ke sini?’ gumam Dito dalam hati.


“Mas!” panggil Dara ketika melihat Dito bukannya kaget tapi malah melamun.


“Eh, iya. Apa tadi kamu bilang? Presiden? Ngga mungkinlah. Beliau sedang sibuk kampanye untuk pemilu. Ngga mungkin dia datang ke tempat seperti ini.”


“Aku kan cuma bilang mirip, Mas. Kenapa Mas Dito malah seserius itu nanggapinnya?” balas Dara heran. “Ya nggak mungkinlah Mbak Ajeng itu anaknya presiden. Presiden kan ngga punya anak perempuan dan lagian ngapain Mbak Ajeng tinggal di sini kalau dia anak presiden. Iya kan?”


Dito pura-pura tertawa. “hahaha... iya, bener juga. Ngapain tuan putri malah tinggal di tempat kaya gini. Ngga mungkin banget.”


**********************


“Dito, kamu harus segera pulang. Kakek kamu sedang kritis di rumah sakit.”


“Apa?! Darimana Mbak Ajeng tahu?”

__ADS_1


“Abdi mengirimkan pesan lewat kapal yang baru singgah.” Ajeng menyodorkan secarik kertas kepada Dito.


Pemuda itu langsung berkemas dan bersiap pulang dengan kapal yang sudah menunggunya di dermaga Nusa Beringin. Wira dan Ajeng menghampiri Dito dengan membawa ransel.


“Kami akan pergi bersama kamu.” Kata Wira saat Dito menatap mereka penuh tanya.


“Tapi kenapa?”


Ajeng menyeret Dito menuju dermaga dan naik ke atas kapal. Tidak baik membuang-buang waktu pada saat kritis seperti itu.


“Jadi, apa rencana kalian sekarang?” tanya Dito penuh curiga saat berada di atas kapal.


“Kami hanya sudah lama tidak berkunjung.” Jawab Wira asal sambil menghindari tatapan Dito.


“Kami kangen makan nasi bebek gajahmada.” Jawab Ajeng tak kalah asal.


Karena sedang malas berdebat, Dito memilih untuk membiarkan saja kedua pasutri itu menjalankan rencana mereka. Toh cepat atau lambat ia akan tahu apa yang sebenarnya mereka inginkan.

__ADS_1


*************************


__ADS_2