8 To 4 : Istri Kontrak Sang Walikota

8 To 4 : Istri Kontrak Sang Walikota
Menguak Tabir


__ADS_3

Malam harinya, mereka mengdakan pesta kecil untuk menyambut kedatangan Dito. Seperti yang mereka lakukan di Sudi Mampir dulu, malam itu mereka juga membakar ikan di depan penginapan sambil bercengkrama. Bedanya, malam ini tidak hanya ikan, tapi juga udang, kerang dan kepiting yang sudah dimasak aneka menu juga siap menemani makan malam mereka. Dito yang sudah lama tidak makan makanan laut sebanyak itu akhirnya gatal-gatal karena alerginya.


Mereka akhirnya membawa Dito ke klinik untuk mendapatkan obat dari dr. Husein.


“Dia Dito, dok. Teman kami yang tinggal di Desa Karangan, Carang Sewu.”


Dr. Husein yang menuliskan resep untuk Dito tiba-tiba saja berhenti dan menurunkan sedikit kacamatanya agar bisa melihat wajah Dito secara langsung.


“Desa Karangan? Apa kamu tahu penginapan Sudi Mampir?” tanya dr.Husein sambil melanjutkan menulis resepnya.


Dito mengangguk. “Itu adalah penginapan milik kakek dan nenek saya.”


“Jadi kamu cucunya pemilik penginapan Sudi Mampir?” tanya dr. Husein lagi.


“Dokter kenal sama mereka?”


“Tentu, mereka tahu banyak soal ibu kamu, Jeng.” Jawab dr. Husein sambil menyerahkan resep kepada Dito. “Mereka hanya tidak berani bicara, sama seperti yang lain.”


“Tapi kenapa, dok? Saya kan anaknya, tapi tidak ada seorangpun yang mau memberitahu saya tentang ibu saya.”


“Bukan ngga mau, Jeng, tapi takut. Mereka diancam supaya mau tutup mulut.” Sahut Dito.


Ajeng menghampiri Dito. “Apa yang kamu tahu tentang ibu saya? Apa benar dia sudah meninggal? Kenapa?”


Dito mengangguk. “Sudah waktunya kamu tahu yang sebenarnya. Kamu bukan anak haram dan ibu kamu bukan simpanan. Ayah kamu menikahi ibu kamu di Karangan diam-diam tapi keluarganya tidak setuju dan memaksa dia menikah dengan Selena, istrinya yang sekarang. Meskipun sudah menikah, ayah kamu menolak untuk menceraikan ibu kamu. Demi keamanan ibu kamu, ayah kamu membawa dia kembali ke kampung halamannya dan sebagai gantinya, dia sering datang kesana untuk berkunjung. Setelah memiliki anak Ardan dan Alvin, ibu kamu melahirkan kamu. Warga yang tidak tahu, menganggap ibu kamu wanita simpanan dan bahkan berzina. Untuk meredam rumor, ayah kamu mengancam warga agar tidak lagi membahas tentang ibu kamu. Tapi beberapa tahun kemudian, tiba-tiba saja dia dilarikan ke rumah sakit karena keracunan. Dan tidak lama kemudian dia meninggal di rumah sakit. Tapi jenazahnya tidak pernah dibawa kembali ke Karangan.” Jelas Dito panjang lebar.


“Jadi dia meninggal dunia?” tanya dr. Husein kaget. “Saya yakin kondisinya sudah pulih total saat saya pergi. Kenapa dia bisa meninggal?”


“Kabar yang beredar, tetap karena keracunan yang terjadi sebelumnya.” Imbuh Dito.


“Ngga mungkin.” Gumam dr. Husein.


“Apa dokter curiga ada yang sengaja membunuh beliau dan memanfaatkan isu keracunan itu sebagai penyebabnya?” sela Wira penasaran.


Dan mereka semua terlarut dalam pemikiran masing-masing.


*****************


Meskipun sudah larut, baik Ajeng, Wira maupun Dito sama-sama tidak bisa tidur. Ajeng keluar untuk berjalan-jalan sebentar dan ternyata Wira dan Dito juga sedang duduk bersama di teras rumah mereka.

__ADS_1


“Belum tidur, Jeng?” tanya keduanya bersamaan.


“Sejak kapan kalian jadi sekompak itu?” ledek Ajeng.


“Dia yang ngikutin aku.” Ujar Dito tak mau kalah.


“Enak aja? Yang ada kamu yang dari tadi ngikutin aku ke sini.”


Mereka akhirnya duduk sambil menikmati dinginnya angin laut malam dan aroma air laut yang selalu membuat mereka candu. Tiba-tiba saja Dara datang membawa salep untuk Dito.


“Dara?! Ngapain kamu kesini malam-malam gini?” tanya Ajeng kaget.


“Ini aku baru nemuin salep yang ada di resep dr.Husein.” ujar Dara sambil menyodorkan salepnya kepada Dito.


“Ya tapi kan ngga harus diantar sekarang juga, Dara. Toh Dito juga udah minum obat dari dr.Husein tadi.” Imbuh Ajeng.


Lalu Wira menyenggol lengannya untuk memberitahunya bahwa gadis itu pasti memiliki niat lain. Wira mengerlingkan matanya dari Dara menuju Dito lalu kepada Dara lagi. Dan Ajeng sudah langsung paham bahwa Dara sedang berusaha mendekati temannya itu.


"Saya juga mengantar paket buat Mbak Ajeng. Kemarin ngga sengaja nemuin pas lagi bongkar-bongkar barang di klinik." imbuh Dara.


“Ah, makasih yah?" jawab Ajeng setelah menerima kotak berbungkus kertas coklat bertuliskan namanya. "Oh ya, karena sudah sampai sini, duduk dulu Dara!”


Ajeng membuka paketnya dan menemukan sebuah ponsel lama miliknya, pakaian terakhir yang dikenakannya ketika pulang dari Carang Sewu dalam keadaan terluka dan sebuah kalung dengan liontin yang di dalamnya terdapat foto ibunya.


"Ini?....." suara Ajeng tercekat.


"Apa artinya ini, Jeng? Kenapa papa kamu ngirimin barang-barang seperti ini?"


"Ini adalah salam perpisahan Papa, Mas. Mulai hari ini Papa sudah bener-bener ngelepasin aku. Aku bukan lagi anak presiden."


Wira lansung memeluk Ajeng dan membiarkan istrinya itu menangis di dalam dekapannya.


********************


“Kamu sudah lama kerja di sini?” tanya Dito membuka obrolan di tengah perjalanan menuju klinik.


“Sudah lima tahun lebih.”


“Kenapa kamu bisa ada di sini?”

__ADS_1


“Dimutasi.”


Dito menatap Dara sejenak. Lalu gadis itu mulai melanjutkan ceritanya.


“Saya yatim piatu sejak kecil. Saya tinggal bersama kakak saya dan berkat dia, saya berhasil menjadi perawat di RSUD Kota Batang Hulu. Tapi setahun setelah saya bekerja di sana, ada seorang korban luka yang dibawa ke rumah sakit. Denger-denger, dia adalah korban kebrutalan anak pejabat tapi saya tidak tahu lengkapnya. Saya bertugas merawat pasien itu bersama salah seorang dokter spesialis bedah syaraf. Setelah lebih dari dua bulan koma dan dirawat disana, pasien hari itu sadar dan keluarga langsung membawanya pulang paksa. Entah apa yang terjadi, keesokan harinya saya dan semua staf yang merawat pasien itu dimutasi terpisah.”


“Apa kamu ingat siapa pasien yang kamu rawat? Seperti ciri-ciri dan juga latar belakang keluarganya?”


Dara menggelengn. “Kami diperingatkan untuk tidak pernah lagi mengingat soal itu.”


“Bagaimana keadaan pasien ketika tiba di sana?”


“Dia tidak sadarkan diri dan mengalami luka di kepala belakang. Sepertinya bekas pemukulan dengan benda tumpul yang sangat keras. Kalau dilihat dari tampang dan penampilannya, dia terlihat seperti preman. Ada banyak tato dan bekas luka di tubuhnya. Nama pasien itu adalah Kohar dan walinya bernama Baron.”


"Apa? Baron?!"


*************************


Dito bergegas kembali ke penginapan dan menceritakan apa yang baru saja didengarnya dari Dara.


"Jadi mereka memang sengaja menyembunyikan Kohar untuk menyudutkan dan menuduh aku sebagai pembunuh." gumam Wira.


"Mereka pasti benar-benar ingin menghancurkan reputasi Mas Wira saat itu. Tapi siapa yang sangka dalam situasi krisis seperti itu, Mas Wira masih saja berhasil memenangkan pilwali. Mas Wira emang keren." timpal Dito sambil mengacungkan kedua jempolnya.


"Rega benar-benar licik. Dia tahu bahwa aku dan Haris mendapat banyak dukungan politik dari atas, karena itu dia tidak berani mengambil resiko untuk kalah bersaing melawan kami. Dia lebih memilih untuk menjadi wakil wali dan menggunakan kasus Baron sebagai senjata untuk menekanku. Dengan begitu, jalannya untuk maju ke pilwali mendatang akan semakin mulus. Ckckckck...."


"Mas, jangan-jangan dia juga yang bersekongkol dengan Baron saat mereka berusaha menculikku di Batang Hulu waktu itu." sahut Ajeng.


"Bisa jadi."


"Apa? Mbak Ajeng mau diculik?" Dito kaget mendengarnya.


Ajeng mengangguk. "Tapi itu sudah lama dan Mas Wira berhasil membereskan mereka semua."


"Jadi apa yang mau Mas Wira lakuin ke Pak Rega sekarang? Apa Mas Wira bakal tetep biarin dia berkuasa dan semena-mena di Carang Sewu yang sudah susah payah kalian bangun seperti sekarang?"


Wira tersenyum. "Hanya ada satu pembalasan yang paling menyakitkan untuk Rega......."


**************************

__ADS_1


__ADS_2