
Setelah kembali ke rumah, Ajeng langsung menyambut Wira dengan pelukan hangat dan Abdi buru-buru menjauh agar tidak diprotes karena dianggap mengganggu.
“Aku seneng kamu pulang.”
Wira tersenyum lalu mengecup kening Ajeng. “Aku kangen banget sama kamu.”
Tapi bukannya merespon kemesraan yang Wira tunjukkan, Ajeng justru terdiam sambil menatap wajah Wira. "Siapa yang ngebantu Mas Wira bercukur?"
“Kok malah bahas itu sih?"
"Mas Wira kan paling males bercukur sendiri. Kenapa malah pulang dalam keadaan bersih? Padahal kan aku sudah beliin pisau dan krim cukur di toko Boni. Apa jangan-jangan Dara yang bantu cukurin semua jambang Mas Wira?" gerutu Ajeng sambil merajuk.
“Gimana makan kamu selama di sana? Dia juga yang suapin? Terus kamu tidurnya dimana? Di pangkuannya dia?” cerca Ajeng bertubi-tubi. “Jadi karantina itu cuma alasan kamu aja supaya bisa deket sama Dara? Berduaan terus sama dia gitu? Dasar buaya!”
“Jeng! Tunggu! Maksud kamu apa sih?”
Brak! Ajeng membanting pintu rumah tepat di hadapan Wira.
Abdi yang melihatnya dari jauh hanya senyum-senyum saja.
“Itu adalah jenis virus yang paling berbahaya, Bos. Namanya virus cemburu.”
“Sialan lo! Bukannya disambut mesra setelan lama ngga pulang, eh... Malah diambekin cuma gara-gara bercukur."
"Bukan soal bercukur yang jadi masalah di sini tapi rasa cemburu dan kecewa istri kepada suaminya yang sudah lama ngga pulang. Wajar sih kalau Mba Ajeng marah kaya gitu. Keliatan banget kok kalau Dara itu emang suka sama Mas Wira.”
“Jangan sok tahu!”
“Waktu aku antar obat pertama kali, aku sudah bisa langsung tahu karena dia terus-terusan mepetin Mas Wira dan pura-pura bantuin bawa kardus padahal di dalem dr. Husein manggil-manggil dia terus. Waktu aku disuruh Mba Ajeng antar makanan kemarin lusa juga sama. Dia yang datang ngambil dengan penuh semangat supaya bisa nyuapin Mas Wira yang lagi sibuk ngolesin salep di tangan pasien. Untung aja Mbak Ajeng ngga lihat langsung.”
Wira menjitak kepala Abdi. Dan bocah itu langsung nyengir kuda.
“Wajar juga sih kalau Mas Wira beneran kepincut sama si suster itu. Cantik.”
Wira langsung melempar Abdi yang kabur dengan biji kelapa yang jatuh di tanah tapi meleset karena Abdi berhasil menghindarinya dengan gesit.
******************
Malam itu, karena Ajeng masih marah, Wira terpaksa menjamu Abdi di luar rumah. Mereka menangkap ikan dan membakarnya.
__ADS_1
“Apa bener Mas Wira jadi nelayan sekarang?”
“Bisa jadi apa lagi di pulau sekecil ini?”
“Kenapa ngga balik ke kota aja sih, Mas? Mas Wira ngga perlu repot-repot hidup susah kayak gini kan?”
Wira menggeleng. “Kami masih harus menunggu sampai situasi kondusif. Lagipula sampai hari ini aku belum berhasil menemukan orang itu meskipun sudah berkeliling pulau. Satu-satunya tempat yang belum aku periksa adalah lapas dan tidak mudah untuk bisa masuk ke sana tanpa surat ijin.”
“Kalau benar dia ada di dalam lapas, bukankah itu lebih baik? Mbak Ajeng benar-benar aman sekarang. Lagian kan Mas Wira ada di samping Mba Ajeng terus.”
“Aku ngga bisa tenang sebelum mastiin semuanya sendiri. Oh ya, gimana Dito?”
“Belum ada kabar. Pak Rega juga tidak bisa membantu banyak meskipun sudah kami desak dan ancam. Sepertinya akses informasi tentang dia benar-benar ditutup rapat.”
“Ya sudah segera kabari kalau mendengar info tentang dia!”
“Siap Mas Bos!”
“Gimana kabar mama?”
“Sudah jauh lebih baik. Beliau sering ikut bepergian menemani Bapak. Oh ya, Mas, Mbak Ajeng kan sudah dapat salinan surat perceraiannya sama Bara. Jadi kapan kalian akan benar-benar menikah?”
*****************
Keesokan harinya, Wira meminta ijin Ajeng untuk pergi ke dermaga bersama Abdi dan kembali esok hari. Tapi Ajeng masih saja bersengut-sengut marah dan bersikap tak acuh.
Wira menarik tangan Ajeng dan memeluknya. “Aku ngga peduli kalau Dara atau siapapun suka sama aku. Toh aku ngga bakalan bisa bales perasaan mereka Karena aku adalah pria beristri.”
Ajeng akhirnya sedikit melunak mendengar gombalan Wira itu. “Siapa yang bakalan percaya kalau kamu sudah beristri? Semua orang tahu kalau kita belum menikah.”
“Gimana kalau kita nikah sekarang? Aku mau kamu jadi istri aku sekarang juga.” Tantang Wira cepat.
Tapi Ajeng malah menghindar dan menyuruh Wira untuk bergegas pergi sebelum ketinggalan kapal.
“Malam ini kamu tidur di klinik aja! Aku ngga mau kamu di rumah sendirian.” titah Wira saat Ajeng mengantarnya naik ke kapal.
Ajeng mengangguk setuju lalu Wira kembali mengecup keningnya kemudian naik ke atas kapal.
Setelah Wira pergi, Dara datang untuk menemui Ajeng.
__ADS_1
“Ada apa?”
“Dokter Husein minta saya untuk menjemput Pak Wira.” Kata Dara lembut.
“Mau ngapain?”
“Kami akan melakukan kunjungan ke lapas dan kemarin Pak Wira bilang mau ikut kami kesana.” Jelas Dara.
“Ya sudah. Biar aku aja yang gantiin.” Sahut Ajeng yang menduga Wira menawarkan itu sebagai bantuan karena dr. Husein kekurangan tenaga.
Setelah melakukan pemeriksaan kepada beberapa napi, mereka pergi meninggalkan lapas. Meskipun sebentar, Ajeng sudah langsung hafal tata letak lapas yang tidak terlalu besar itu. Tapi ada satu hal yang mengganggunya. Ia merasa mengenal salah satu dari napi yang ada di sana tapi sama sekali tidak ingat kapan dan dimana pernah bertemu dengannya.
Belum terlalu jauh mereka berjalan meninggalkan lapas, sebuah ledakan terdengar dan tiba-tiba saja api sudah berkobar dari dalam lapas. Para petugas pos penjagaan langsung mengamankan para napi.
“Dokter, cepat kembali ke klinik dan persiapkan pertolongan pertama untuk korban luka bakar! Dara, segera hubungi pemadam dan minta warga untuk membantu proses pemadama segera!” titah Ajeng tegas.
Dr. Husein dan Dara langsung melakukan tugas mereka. Warga datang berbondong-bondong untuk membantu memadamkan api. Lalu tak lama kemudian, para napi keluar bersama para petugas.
“Bagaimana? Apa sudah berhasil dikeluarkan semuanya?” tanya Ajeng kepada ketua pos jaga yang keluar paling akhir.
Pria itu menggeleng. “Ada satu napi yang terjebak di dalam tapi api sudah mulai membesar dan terlalu beresiko untuk masuk lebih dalam.”
Ajeng langsung mengambil kunci di tangan kepala pos lalu meraih kain yang ada di jemuran warga, mencelupkannya kedalam air yang dibawa warga untuk memadamkan api, menutupkan kain basah ke kepala dan wajahnya kemudian masuk ke dalam lapas yang sudah dilalap si jago merah.
Ajeng mencari ke semua ruangan sambil berusaha menghindari reruntuhan kayu yang mungkin jatuh dari atap.
“Tolong!!!”
Ajeng mendengar suara minta tolong lalu bergegas mendatangi arah datangnya suara. Ia membuka kunci.
“ Aaaauuu!” kunci terlepas dari tangan Ajeng karena ia kaget dan tanpa sengaja memegang gembok yang panas terkena api. Ajeng kembali memungut kuncinya dan berusaha membuka gembok dengan segera.
Gembok akhirnya berhasil terbuka meskipun tangan kiri Ajeng melepuh terkena panas. Mereka akhirnya keluar dari sel. Pandangan Ajeng berkurang karena asap yang semakin tebal dan pria itu juga mulai lemas karena terlalu lama menghirup asap kotor.
Ajeng melebarkan kainnya dan menutupkannya ke kepala pria itu juga. Saat hendak melewati pintu keluar, tiba-tiba saja ada bongkahan kayu yang jatuh dan hampir menimpa Ajeng.
Bruk!
*********************************
__ADS_1