
Keesokan paginya, Wira mendatangi kamar Ajeng dengan membawa kotak p3k untuk merawat luka Ajeng. Wira meletakkan tangan kiri Ajeng di pundaknya lalu mulai mengganti perban dan membersihkan luka di lengan kiri Ajeng. Merasa tidak enak, Ajeng menarik tangannya dari bahu Wira tapi pria beralis tebal itu menahannya.
“Jangan salah paham! Aku ngelakuin ini karena ngga mau kamu cuti terlalu lama. Kamu harus selalu aman karena keselamatan kamu penting untuk warga saya.”
Ajeng langsung menjauhkan tangannya dari pundak Wira. “Jadi kamu repot-repot ngelakuin ini karena tugas kamu sebagai walikota?”
Wira mengalihkan pandangannya dari luka ke mata Ajeng sambil mengangguk. “Investasi dari perusahaan Mr. Suzuki akan mengatasi krisis ekonomi kota ini dan membawa kesejahteraan bagi semua warga kota. Karena itu kamu harus tetap sehat sampai proyek itu terealisasi."
Ajeng merebut obat dan perban dari tangan Wira. “Mas Wira pergi aja! Aku bisa lakuin sendiri.”
Wira merebut kembali perbannya dan mulai memasangnya di atas luka Ajeng. “Gimana cara kamu memasang perban dengan satu tangan?”
Wira menyelesaikan tugasnya dengan baik lalu berkata, “Hari ini kamu boleh cuti."
**************
Abdi mendatangi ruangan Wira sambil membawa laporan ketika Wira berdiri termenung di depan jendela ruangannya. Ia mengingat kembali betapa panik dan khawatirnya ia ketika Ajeng menghilang semalam, betapa marahnya ia mengetahui ada orang yang berani melukai Ajeng dan betapa kesalnya ia ketika Ajeng tidak mengindahkan laranngannya. Padahal ia sadar bahwa itu terlalu berlebihan hanya untuk memenuhi sebuah kontrak pernikahan yang mereka sepakati.
“Selamat siang, Pak!”
“Oh, siang!” tiba-tiba saja lamunan Wira buyar ketika mendengar suara Abdi. “Ada kabar apa? Oh ya, apa kamu tahu apa yang dilakuin Ajeng seharian ini?”
“Tadi Bibi bilang Bu Ajeng berolahraga seharian, Pak. Tadi lari pagi, tennis kemudian siang ini beliau pergi ke gedung olahraga.”
“Oke. Jadi ada kabar apa?”
“Kami sudah membereskan preman-preman itu.”
“Bagus.”
“Tapi masih ada satu orang yang berhasil lolos.”
“Ngga masalah. Dia pasti akan segera membawa kita kepada dalang yang kita cari.”
****************
__ADS_1
Seorang pria dengan bekas luka sayat di wajahnya sedang menerima panggilan telpon dari anak buahnya.
“Lapor Bos!” ujar si anak buah dengan nafas tersengal-sengal. “Markas kami baru saja digrebek, kami dihajar dan dibawa ke kantor polisi.”
“Apa?!”
Pria itu kemudian menceritakan kejadian yang dialaminya sejak bertemu Ajeng dan Wira malam itu sampai bagaimana mereka digrebek dan dihajar lalu diseret paksa ke kantor polisi.
“Wira.” Gumam pria itu dengan gigi bergemertak dan tangan mengepal.
“Saya berhasil kabur tapi tidak bisa meninggalkan Carang Sewu. Mereka memperketat penjagaan di perbatasan kota.”
“Tahan! Untuk sementara waktu kamu harus bersembunyi sampai situasi mereda. Setelah itu, aku akan mengirim bantuan untuk mengeluarkan kamu dari sana. Sementara itu, cari tahu siapa wanita itu dan apa hubungannya dengan Wira! Sudah waktunya kita membuat perhitungan.”
“Baik Bos.”
*************
Satu-satunya cara yang Ajeng bisa lakukan untuk mengatasi kekesalannya adalah dengan menghabiskan semua sisa tenaganya untuk berolahraga. Dengan begitu, ia tidak memiliki banyak waktu untuk melamun dan memikirkan hal yang tidak penting. Karena terlalu lama bermain basket sendirian, Ajeng merasa lelah dan akhirnya terduduk di lantai lapangan basket yang berdebu.
“Tegar?”
“Bu Ajeng pasti capek.” Ujar Tegar sambil membukakan botol air mineral dan menyodorkannya kepada Ajeng.
Ajeng menerima dan meneguknya hingga tinggal separo. “Makasih yah? Sejak kapan kamu di sini?”
“Sejak Bu Ajeng datang.”
“Jadi kamu ngikutin saya dari rumah?”
“Saya bahkan berjaga semalaman di rumah ketika Bu Ajeng tidur.”
“Makasih yah?
“Itu adalah pekerjaan saya, Bu.”
__ADS_1
“Kuat bertanding?” tawar Ajeng sambil menunjukkan bola basket kepada Tegar.
Tegar melepaskan jasnya, melipat lengan bajunya dan bersiap untuk melawan. “Siapa takut?”
Ketika Wira tiba di gedung olahraga, keduanya sedang asyik bermain basket berdua. Mereka terlihat akrab dan menikmati permainan.
“Ehem...” dehem Wira untuk menghentikan pemandangan yang tidak sedap di matanya itu.
“Pak Wira?!” Tegar buru-buru merapikan pakaiannya, mengenakan kembali jasnya lalu menghadap Wira. “Maaf, saya tidak tahu kalau Bapak datang.”
Wira menatap Tegar lekat, lalu menyuruhnya untuk pulang. “Biar saya yang mengurus Bu Ajeng.”
“Tapi Pak –“
Wira kembali menatapnya dan Tegar buru-buru meralat ucapannya, “Baik Pak.”
“Mas Wira ngapain di sini? Bukannya ini masih jam kerja?” tanya Ajeng setelah Tegar meninggalkan mereka berdua.
Wira menyodorkan makan siang yang dibawanya kepada Ajeng. “Ini jam istirahat.”
Ajeng mengelap keringatnya dengan handuk. “Mas Wira ngga perlu ngelakuin hal kaya gini. Rasa lapar aku ngga akan merugikan warganya Mas Wira.”
Ajeng mengambil sisa air minum yang diberikan Tegar lalu keluar meninggalkan gedung olahraga. Wira mengikuti langkah Ajeng dan menghentikannya tepat di depan pintu gedung olahraga. Ia kemudian meletakkan makan siang yang dibawanya ke tangan Ajeng.
“Makan ini supaya nanti malam bisa menyambut kedatangan Rega dan Manda ke rumah!”
“Tunggu! Untuk apa mereka ke rumah dan kenapa aku harus ikut menyambut mereka?"
Wira membalikkan badannya menghadap ke arah Ajeng. “Karena mereka datang untuk menengok kamu.”
“Tapi aku ngga mau menjamu mereka. Itu sudah di luar jam kerja aku.”
“Jeng!”
**********************************
__ADS_1