8 To 4 : Istri Kontrak Sang Walikota

8 To 4 : Istri Kontrak Sang Walikota
Perang Terbuka


__ADS_3

Ketika hendak pulang, Bara melihat mobil orang tuanya terparkir di tempat parkir VIP istana Kenanga. Bara mengurungkan niatnya lalu kembali masuk untuk mencari keberadaan orang tuanya.


Seorang pengawal membawanya ke sebuah ruangan yang terlihat seperti ruang santai karena dilengkapi sofa ranjang yang nyaman. Ruangan itu adalah ruangan khusus yang biasa digunakan Suryo untuk menjamu tamu-tamu pribadinya.


“Bara?!” Sapa Bu Taufik, ibu Bara, ketika melihat putra tunggalnya itu masuk bersama pengawal. “Kamu disini juga?”


“Iya, Ma. Habis nengokin Ajeng.”


Bu Taufik tersenyum senang mengetahui Bara dan Ajeng semakin dekat satu sama lain. "Mama seneng deh kalian jadi semakin dekat saja."


“Oh ya, Om. Ada yang mau Bara sampeiin sama Om.”


“Ada apa Bar?”


“Bara!” Pak Taufik memperingatkan Bara agar tidak asal bicara.


“Bara mau pernikahan kami dipercepat. Bara ingin membawa Ajeng berbulan madu di Sumbiling. Mungkin dengan begitu Ajeng mungkin bisa lebih relaks dan lebih cepat pulih.”


“Sumbiling? Itu tempat bagus dan cocok untuk bulan madu kalian.” Pak Taufik dan Bu Taufik terlihat sangat senang mendengar permintaan Bara.


“Oke. Om setuju.”


******************


Setelah kesepakatan Bara dan Suryo semalam, pagi itu Ajeng akhirnya dibawa keluar dari kamarnya menggunakan kursi roda. Ia dibawa masuk ke sebuah sedan hitam menuju sebuah butik tempat Bara sudah menunggunya.


“Ada apa ini?” tanya Ajeng setelah bertemu dengan Bara di butik yang dipesannya secara khusus hari itu.


“Seperti yang kamu lihat. Kita harus memilih gaun pengantin karena pernikahan kita akan dipercepat.”

__ADS_1


“Apa?!” tanya Ajeng sambil mendelik. Ia merasa sangat marah karena Bara sangat egois. “Kenapa?”


“Karena aku ingin kita segera menikah.”


“Kenapa kamu memutuskan seenak kamu sendiri? Apa kamu mau nikah sendirian?”


“Jeng! Aku adalah calon kepala keluarga dan semua keputusan ada di tanganku. Jadi apapun keputusan kamu tidak akan berarti apa-apa.”


“Susi!!!”


Susi buru-buru masuk ke dalam ruangan dan menghampiri Ajeng.


“Bawa saya keluar dari sini!” titah Ajeng dengan mata terbakar amarah.


Susi memegang kursi roda Ajeng tapi Bara menghentikannya. “Tinggalkan kami!”


“Susi!!!!” Ajeng kembali berteriak. Tapi Susi tetap bergeming dan meninggalkan ruangan.


“Kamu lihat kan? Bahkan para pengawal kamu pun tunduk kepada saya.” Ujar Bara sambil mengambil sebuah gaun lalu melemparnya kepada Ajeng. “Kita tidak akan keluar sebelum mendapatkan gaun.”


“Aaaaaaaaaargh!!! Sial!” Ajeng terus berteriak dan mengumpat setelah Bara meninggalkannya sendiri di dalam ruangan.


Beberapa pelayan butik datang setelah mendengar teriakan Ajeng. “Ada yang bisa kami bantu, Non?”


Dada Ajeng naik-turun tidak karuan. Ia melempar gaun yang dilemparkan Bara padanya ke lantai. Lalu seorang dengan takut-takut memungutnya dari lantai dan mengembalikannya lagi ke tempatnya.


“Saya mau pergi.”


“Maaf, Non. Tapi Tuan Bara bilang anda tidak boleh keluar sebelum menentukan gaunnya.”

__ADS_1


“Aaaaaaaargh!!!!” Ajeng kembali mengamuk dan berteriak-teriak membuat para pelayan ketakutan. “Aku ngga butuh gaun! Aku mau pergi dari sini!”


Para pelayan yang ketakutan buru-buru keluar untuk memberi tahu Bara tentang keinginan Ajeng. Lalu tak lama kemudian Bara masuk lalu mengunci pintu ruangan itu dari dalam.


“Apakah belum cukup jelas kalau kita tidak akan pergi sebelum mendapatkan gaun?”


“Aku ngga butuh gaun. Kalau kamu mau, pilih aja sendiri!”


Bara memasukkan kunci ke dalam saku celananya. Ia kemudian melepaskan jasnya dan merebahkan diri di sofa. “Kalau gitu, kita terpaksa harus bermalam di sini nanti malam.”


“Dasar gila?! Ngga mau! Aku mau pulang!”


“Bukannya kamu sendiri yang bilang kalau kamu mau pergi dari rumah. Lalu kenapa sekarang berubah pikiran dan malah mau pulang?” Cibir Bara sambil menutup wajahnya dengan lengan.


“Aku mau pergi tapi bukan sama kamu. Aku ngga sudi pergi apalagi nikah sama cowok gila kaya kamu!”


Bara bergeming. Ia membiarkan Ajeng ngomel sepuasnya. Ia juga membiarkan gadis itu menggedor-gedor pintu sekuat tenaganya. Merasa putus asa dan marah, Ajeng bangun dari kursi rodanya lalu dengan segenap kekuatan yang dimilikinya, ia mengangkat kursi rodanya untuk dilemparkan ke arah pintu agar bisa keluar.


Menyadari apa yang hendak gadis itu lakukan, Bara menghampirinya dan merebut kursi roda itu dari tangan Ajeng. Karena masih sangat lemah, Ajeng kemudian oleng dan nyaris jatuh kalau saja Bara tidak lebih dulu menangkap tubuhnya. Bara kemudian mendudukkan kembali Ajeng di kursi rodanya, membuka pintu lalu menyuruh seorang pelayan masuk.


“Saya akan membeli semua gaun yang ada di sini.”


“Apa?!” tanya si pelayan kaget. “Semua?”


Bara tidak menjawab dan hanya mendorong kursi roda Ajeng kembali ke mobil sementara Dimas membereskan sisa urusannya di dalam butik.


Ada sedikit rasa bersalah dalam hati Ajeng karena Bara harus membeli semua gaun pengantin edisi terbatas yang harganya tidak murah itu. Padahal mereka hanya akan mengenakan salah satu saja dari mereka. Tapi mengingat bagaimana pria itu memaksanya menikah, membuat Ajeng kembali memantapkan hati untuk melakukan konfrontasi terang-terangan kepada Bara. Ia sudah mengibarkan bendera perangnya tinggi-tinggi kepada Bara.


*****************************

__ADS_1


__ADS_2