8 To 4 : Istri Kontrak Sang Walikota

8 To 4 : Istri Kontrak Sang Walikota
Sang Penolong


__ADS_3

Mereka tiba di sebuah rumah besar yang dijaga dengan sangat ketat mulai dari depan sampai ke dalam rumah. Ada banyak petugas yang siaga berjaga di setiap titik. Ajeng dan Wira dibawa ke sebuah ruangan besar dan ada seorang pria yang tengah berdiri di dalam ruangan dengan posisi memunggungi mereka.


“Mereka sudah tiba, Den.” Ujar si pengawal setelah mengantarkan Ajeng dan Wira.


Pria itu membalikkan badannya, menghadap Ajeng dan Wira.


“Ka Alvin?!” teriak Ajeng sambil berlari memeluk Alvin. “Makasih udah nolongin aku.”


“Kok Ka Alvin ada di sini?” tanya Ajeng lagi.


“Ada urusan bisnis.”


“Terus, kok Ka Alvin tahu kalau aku ada di sini?”


“Dasar ceroboh! Nama kamu ada di daftar tamu Graha Mukti.”


“Tapi gimana Ka Alvin tahu kalau itu aku? Ada banyak Ajeng di negri ini.”


“Tapi hanya kamu yang terus berjalan sambil menundukkan kepala di belakang pria itu dan berusaha kabur.”


“Darimana Ka Alvin tahu?” tanya Ajeng panik. “Ka Alvin ada di sana?”


Alvin menggeleng. “Ada orang yang sengaja mengekspos kamu. Tapi Kaka sudah atasi semuanya. Untuk sementara ini kamu aman.”


Ajeng tersenyum dan kembali memeluk kakak keduanya itu dengan erat. “Makasih.”


“Oh ya, Ka. Kenalin ini Mas Wira. Dan Mas Wira, ini Ka Alvin, kakak aku.”


“Wira.”


“Alvin. Jadi ini suami kamu?” sindir Wira.


Ajeng menggeleng. “Cuma sandiwara.”


Dan entah kenapa Wira merasa tidak senang dengan jawaban Ajeng itu.


Sementara Alvin yang merasa penasaran, memandangi Wira yang berdiri di samping kiri Ajeng, dari ujung rambut sampai ujung kaki. Lalu pandangannya terhenti pada darah yang menetes ke lantai dari kaki Wira. Melihat Wira sedari tadi berusaha menutupi lukanya dari Ajeng, Alvin kemudian memeluk Ajeng, memutarnya ke arah kanan agar tidak melihat Wira dan mengajaknya kembali ke kamar untuk beristirahat.


Ia kemudian memberikan kode kepada para pengawalnya untuk merawat Wira sementara ia mengantar Ajeng ke kamarnya.


**************


“Jadi gimana kabar papa?”


“Papa baik.”

__ADS_1


“Apa papa masih nyariin aku?”


“Tentu saja. Papa sudah memasukkan kamu dalam DPO khusus agar bisa menemukan kamu tanpa menimbulkan keributan.”


“Apa mereka bakal segera nemuin aku, ka?”


“Apa kamu ngga pengen pulang? Sudah hampir dua bulan kamu lari dari rumah.”


“Kasih aku waktu sedikit lagi, ka! Ada hal penting yang harus aku lakuin sebelum pulang.”


Alvin tersenyum. “Kamu ngga papa? Ada yang luka?”


Ajeng menggeleng. “Aku ngga papa.”


“Ya sudah. Buruan mandi dan ganti baju. Kalau sudah ngga capek, kamu bisa turun buat makan malam.”


*************


Setelah membereskan masalah adik bungsunya, Alvin mendatangi kamar tempat Wira dirawat oleh dokter pribadinya.


“Bagaimana keadaannya, Dok?”


“Luka di pahanya cukup dalam tapi tidak berbahaya karena tidak mengenai titik vitalnya. Saya sudah menjahit dan memberikan obat pereda nyeri. Tapi pasien tetap harus banyak beristirahat.”


“Baik, saya permisi.”


“Terima kasih.” Ujar Wira setelah dokter dan para pengawal meninggalkannya berdua saja dengan Alvin. “Jadi anda –?“


“Apa anda mengenal saya?”


“Alvin Diningrat, putra bungsu Bapak Presiden.”


Alvin manggut-manggut. “Bukan bungsu, tapi putra kedua karena papa saya masih mempunya satu putri lagi.”


“Ajeng?”


Alvin kembali mengangguk. “Ajeng yang kamu nikahi pura-pura itu adalah adik saya, putri bungsu bapak presiden.”


Wira terbelalak tidak percaya. “Tapi, bukankah Bapak Presiden hanya mempunyai dua orang putra? Bagaimana bisa –“


“Dia anak dari istri pertama papa yang tidak pernah terekspos. Itulah kenapa tidak ada satupun orang yang tahu bahwa Ajeng adalah putri kesayangan papa satu-satunya.”


Tiba-tiba saja Wira merasa dadanya sesak. Bagaimana mungkin ia berani mengajak seorang putri presiden untuk berpura-pura menikah kontrak. Ia tidak bisa membayangkan hukuman apa yang akan diterimanya setelah ini.


“Tenang aja! Melihat bagaimana Ajeng menolak untuk pulang, saya yakin kamu memperlakukan dan menjaganya dengan baik. Dia juga sudah banyak berubah meskipun kalian baru dua bulan bersama. Dia terlihat jauh lebih ceria dari terakhir kali kami bertemu sebelum dia pulang ke Indonesia.”

__ADS_1


“Saya minta maaf. Saya benar-benar ngga tahu kalau Ajeng –“


“Jangan minta maaf sama saya! Bagi saya yang terpenting Ajeng bahagia.”


“Tapi apakah Pak Presiden tidak tahu kalau Ajeng ada di tempat saya?”


“Sepertinya Papa sudah mengendus sesuatu. Papa tahu kalian ada di Siliwangi dan getol membawa Ajeng pulang waktu itu. Tapi setelah itu, papa terlihat lebih mengendurkan pencarian. Akhir-akhir ini, seseorang sedang berusaha mencari tahu tentang latar belakang Ajeng. Orang itu ada di Batang Hulu. Dan sepertinya papa mendapatkan sedikit petunjuk dari itu.”


“Orang? Siapa? Kenapa dia menyelidiki Ajeng?”


“Anak Bapak Gubernur Jala Brata.”


“Monica?”


Alvin mengangguk. “Tapi kalian tenang aja. Untuk sementara ini dia tidak akan punya waktu mengusik kalian karena pasti sibuk mengurusi kekacauan di perusahaan suaminya."


Wira mendongak. "Apa yang terjadi pada perusahaan Haris?"


Alvin mengutas senyum tipis. "Perempuan itu terlalu berani mengganggu adik saya. Jadi saya rasa sedikit kejutan pantas untuk diberikan sebagai hadiah."


Wira teringat bagaimana Monica berusaha mengekspos Ajeng saat puncak perayaan hut dharma wanita waktu itu. Dan tiba-tiba saja ia punya firasat buruk tentang Monica dan Haris.


"Karena ulah perempuan itu, Papa mulai curiga dan mengarahkan pencarian ke Jala Brata.” imbuh Alvin.


“Jadi mereka akan segera menemukan dan membawa Ajeng pulang?”


“Masih ada waktu. Saya akan mencari cara untuk mengalihkan pencarian papa ke tempat lain. Ajeng memohon dan mengatakan bahwa ia harus menyelesaikan sesuatu sebelum pulang. Bantu dia! Pastikan dia tidak menyesali apapun ketika harus kembali!”


Wira mengangguk.


“Saya akan meminta pelayan membawakan makan malam untuk anda. Sebaiknya anda beristirahat di sini.”


“Ngga perlu. Saya akan makan malam bersama kalian. Saya ngga mau Ajeng tahu kalau saya sakit.”


“Baiklah.” ujar Alvin santai sambil melenggang pergi keluar dari kamar Wira.


“Mau dibawa kemana?” tanya Wira ketika para pelayan membawa sepatunya keluar.


“Den Alvin minta kami untuk membuang ini dan menggantinya dengan yang baru.” Jawab si pelayan sambil menunjukkan sepatu Wira yang dipenuhi noda darah dari luka di pahanya.


“Tunggu!” Wira bangun kemudian pelayan itu mendekatkan sepatu itu kepada Wira. Ia kemudian mengambil kaos kaki berlumuran darah itu dari dalam sepatu. “Kalian boleh buang itu. Tapi jangan yang ini.”


Para pelayan itu heran melihat Wira bersusah payah mengambil kaos kaki yang sudah berlumur darah itu. “Kalau begitu, kami permisi.”


******************************

__ADS_1


__ADS_2