8 To 4 : Istri Kontrak Sang Walikota

8 To 4 : Istri Kontrak Sang Walikota
Makan Malam (1)


__ADS_3

Ketika Ajeng tiba di rumah bersama Abdi, Wira masih belum pulang. Ajeng bergegas mandi dan menjalankan rencananya. Berkat bantuan Abdi, Bi Sumi dan pegawai lainnya, Ajeng berhasil menyulap rumahnya menjadi lebih nyaman dan mirip tempat tinggal pasangan yang baru menikah.


Ada sebuah foto pernikahan terpasang di dinding, vas bunga di atas meja, mug dan alat makan pasangan di dalam lemari kaca, sebuah handuk yang dipakai bersama di dalam kamar mandi pribadi, juga sandal rumah pasangan berwarna silang yang menggemaskan. Sandal di kaki kiri Ajeng warnanya sama dengan sandal di kaki kanan Wira dan sebaliknya. Ia yakin Wira sekalipun tidak sempat terpikir untuk menukar sandal mereka agar terlihat seperti sandal pasangan.


Malam itu, Ajeng sengaja menyiapkan kemeja untuk Wira. Ia memilih warna yang senada dengan gaun selutut yang dikenakannya. Ia juga menggelung rendah rambutnya dan menyematkan jepit bunga cantik sebagai hiasan. Ia ingin terlihat serasi seperti tuan dan nyonya muda era dua ribuan yang anggun dan berkelas di hadapan Monica dan keluarganya.


Gubernur datang bersama istri dan anaknya tepat di waktu yang mereka sepakati. Monica terlihat sangat glamor dengan balutan sackdress panjang berwarna hitam dengan belahan selutut dan bagian atas asimetris yang mempertontonkan bahu kanan kanannya yang bidang dan mulus. Lebih mirip artis yang mau konser daripada sekedar makan malam sederhana di rumah dinas walikota.


Ajeng menyambut tamunya itu dengan hangat, saling jabat tangan dan berpelukan layaknya keluarga yang sangat akrab.


“Selamat datang di kediaman kami.” Sambut Ajeng sambil menjabat tangan Monica dan kedua orang tuanya secara bergantian.


“Dimana Wira?” tanya Pak Susilo


“Oh, Mas Wira belum pulang, Pak. Dia kalau sudah kerja memang suka lupa waktu. Sampai-sampai dia lupa kalau ada tamu penting yang akan datang.” Cerocos Ajeng panjang lebar.


“Kalau sibuk ngapain ngundang orang?” celoteh Bu Susilo tampak kesal.

__ADS_1


“Saya yang minta Abdi untuk mengundang Bapak dan Ibu. Sebagai istri, saya merasa tidak enak membiarkan suami saya menolak permintaan atasannya.” Jelas Ajeng. “Mari silakan masuk!”


Pelayan datang dan menyuguhkan minuman dan makanan ringan untuk mereka.


“Silakan dicicipi!” ujar Ajeng


“Denger-denger kalian baru aja nikah.” Tanya Bu Susilo sinis.


“Benar, belum genap dua bulanan.” Jawab Ajeng santai.


“Ma!” tegus Pak Susilo yang tidak ingin kenyinyiran istrinya merusak suasana.


Ajeng hanya tersenyum menanggapi rasa penasaran mantan mertua suaminya itu.


Alih-alih duduk manis, Bu Susilo lebih memilih untuk berkeliling rumah Wira sambil melihat-lihat. Ia melihat alat makan pasangan di dalam lemari kaca kemudian tidak sengaja melihat sandal pasangan yang Ajeng kenakan sama dengan sandal yang tergeletak di depan pintu. Lalu ia buru-buru berpaling seolah tidak melihat apapun.


“Mama ngga nyangka Wira betah juga tinggal di tempat kumuh seperti ini. Emang bener sih kata orang, kalau udah kepepet apapun bisa.” Sindir Bu Susilo lagi. “Kalau aja dia masih sama Monica, dia mungkin sudah jadi menteri sekarang dan tinggal di rumah mentereng.”

__ADS_1


“Ma!” giliran Monica yang berpura-pura menegur mamanya. “Jangan ngomong gitu dong! Ngga enak kan sama Ajeng.”


“Dan mama juga baru tahu kalau Wira ternyata suka sama abg yang masih puber.” Imbuh Bu Susilo sambil melirik sandal pasangan yang Ajeng kenakan.


Ajeng yang mulai merasa kesal karena usahanya selalu saja dianggap remeh dan dinilai buruk oleh wanita paruh baya itu. Tapi ia berusaha menahan diri karena tidak ingin terlihat gegabah di hadapan bapak gubernur. Tak lama kemudian Wira datang bersama Galang. Ia kaget melihat Monica dan keluarganya sudah ada di rumahnya padahal ia sudah melarang mereka untuk datang.


“Sudah pulang, Mas?” sambut Ajeng sambil mencium punggung tangan Wira, meraih tas yang dibawanya, lalu memasangkan sandal pasangan yang sudah disiapkannya di depan pintu.


Wira masih terlihat bingung, jadi Ajeng buru-buru memberitahunya. “Aku yang minta Abdi buat ngundang mereka makan malam di rumah kita. Bagaimanapun juga Pak Gubernur adalah atasan kamu juga keluarga kamu. Ngga sopan kalau menolak tawaran baik mereka.”


Wira segera menyelami Pak Susilo, Bu Susilo dan Monica. “Maaf karena saya datang terlambat.”


Ajeng melingkarkan tangannya di pinggang Wira, “Mandi dulu, gih! Aku sudah siapin baju buat kamu.”


Wira menuruti perintah Ajeng. Karena jam malam sudah lewat, Ajeng segera mempersilakan tamu-tamunya itu untuk datang ke meja makan yang sudah tertata rapi.


**************************

__ADS_1


__ADS_2