8 To 4 : Istri Kontrak Sang Walikota

8 To 4 : Istri Kontrak Sang Walikota
Cacar


__ADS_3

Tidak hanya fokus pada bidang pendidikan saja, karena Ajeng, Wira sangat getol untuk membangun sebuah sistem desalinasi atau penyulingan air yang dapat merubah air laut menjadi air tawar. Meskipun telah berkali-kali gagal karena keterbatasan alat dan sumber daya, ia tidak mau menyerah karena air tawar menjadi masalah yang sangat serius di pulau kecil itu. Terlebih lagi karena ia tidak ingin Ajeng kelelahan mondar-mandir rumah ke klinik hanya untuk mandi.


Hari itu, ia kembali berhasil membuat sistem penyulingan sederhana yang diimpikannya selama ini. Tapi debit air yang dihasilkan sangat sedikit sehingga Wira merasa perlu melakukan pembaharuan. Meskipun begitu, warga yang membantu Wira selama beberapa bulan ini merasa sangat senang melihat ada air tawar yang menetes dari alat penyulingan mereka. Jadi siang itu, warga mengadakan makan bersama untuk merayakan keberhasilan mereka.


“Anak-anak pada kemana, Pak?” tanya Wira ketika tidak melihat anak pemilik rumah tempat mereka mengadakan makan bersama, berkeliaran di luar seperti biasanya.


“Sakit, Pak Wira. Sudah dua hari ini demam tinggi dan muncul bentol-bentol merah di tangan dan kakinya.”


“Apa?”


“Benar Pak Wira. Anak kami juga demam dan muncul bercak-bercak di tangannya.” Sahut orang tua lainnya.


“Anak saya juga. Bahkan istri saya hari ini juga mulai demam.” Imbuh yang lainnya.


Merasa curiga, Wira segera masuk dan memeriksa keadaan anak pemilik rumah dan ternyata benar. Tubuh anak itu dipenuhi bercek kemerahan yang berair di sekujur tubuh termasuk wajahnya.

__ADS_1


Wira kemudian pergi ke rumah warga lain dan menemukan hal yang sama. Ia bergegas menuju klinik dan ternyata di sana penuh dengan pasien dengan keluhan yang sama.


“Dok, apa yang terjadi?” tanya Wira kepada dokter Husein dan suster Dara yang sibuk mengobati para pasiennya yang membludak.


“Wabah cacar.”


“Apa?!” Wira tercengang sesaat. “Bagaimana kondisinya?”


“Ini buruk, Wir. Persediaan obat kita menipis sementara jumlah korban terus bertambah. Kami sudah melayangkan surat kepada Dinas Kesehatan terdekat untuk meminta tambahan obat. Tapi sampai hari ini belum juga mendapat tanggapan.”


“Wabah ini akan terus berkembang jika kita tidak mengisolasi korban karena penularannya menjadi semakin cepat.”


“Baik, saya mengerti.”


Dengan bantuan warga, Wira mendatangi semua rumah yang anggota keluarganya mengalami keluhan demam dan bercak. Ia mengidentifikasi pasien sesuai petujuk dokter lalu membawa mereka semua ke klinik untuk diisolasi. Sementara warga yang masih sehat dan bertahan, bertugas menjaga pasokan logistik rumah sakit tetap aman.

__ADS_1


Gerbang rumah sakit sudah ditutup ketika Ajeng mendengar kabar wabah itu. ia dengan panik mencari keberadaan Wira dan ternyata pria itu sudah ada di dalam rumah sakit membantu dr. Husein dan Dara yang kewalahan dan membutuhkan bantuan tenaga medis.


“Mas!”


Wira menghampri Ajeng yang sedang panik di depan gerbang klinik.


 “Jeng, untuk sementara waktu aku akan tinggal di sini membantu dr. Husein dan Dara merawat pasien. Lagi pula aku juga harus melakukan karantina karena mungkin juga terpapar virus cacar.”


“Lalu, apa yang harus aku lakukan, Mas?”


“Pergi ke dermaga. Sekitar lima ratus meter ke arah kota, ada sebuah toko kelontong kecil milik Boni. Dia orang aku, kamu bisa tinggal dan meminta bantuan dia sampai kapal kembali untuk menjemput kamu. Yang paling penting, ketika berhasil mendapatkan sinyal, segera hubungi Abdi dan minta dia mengirim obat dan semua keperluan yang sudah dr. Husein tuliskan di sini!”


Ajeng mengangguk tanda mengerti.


“Sebentar lagi kapal akan berangkat. Sebaiknya kamu bergegas.”

__ADS_1


*************************


__ADS_2