A Little Desire Of Anti-Hero

A Little Desire Of Anti-Hero
Arc I - Chapter 10 : Pertaruhan Hidup - 2


__ADS_3

Dalam kantornya, Seriana tengah membaca laporan dari kepala peneliti. “Jadi Subjek E-R1203 siap melakukan pengujian tahap akhir?”


“Ya, seperti itu Nona.”


Seriana berdiri, mulai melangkah menuju laboratorium. Sesampainya di sana, terlihat tabung Rion telah berada di sebuah ruangan khusus tempat dilakukannya tahap akhir, yaitu pengendalian pikiran.


Kepala peneliti melirik Seriana. Melihat Seriana mengangguk, dia mengumumkan. “Tes tahap akhir untuk Subjek E-R1203 dimulai!”


Cairan di tabung mulai surut hingga kering dari tabung Rion, tapi Rion masih berdiri dengan alat penyangga yang telah dimasukkan sebelumnya. Tabung diangkat, memperlihatkan Rion secara utuh bersama dengan semua alat bantu yang masih menempel di tubuhnya.


Mata Rion mulai terbuka perlahan, terasa sangat berat akibat telah tertutup cairan selama ini. Rion mulai mencoba menggerakkan tubuhnya yang kaku setelah sekian lama tidak digerakkan.


“Tahap pertama selesai. Melakukan pemeriksaan pada kondisi fisik Subjek,” Mata peneliti mulai dengan jeli memeriksa keadaan Rion. “Subjek dalam kondisi fisik tanpa kelainan apa pun, siap untuk ke tahap selanjutnya.”


Alat penyangga diturunkan, Rion mulai berdiri dengan mata yang masih linglung. Namun, dia sebenarnya sangat fokus, sembari berusaha menyembunyikan semua rasa permusuhannya pada seorang pria yang terlihat memasuki ruangan ini, pria itu termasuk salah satu orang yang memperlakukan Ibunya seperti mainan.


Pria itu berhenti sejenak, mencermati bahwa Rion tidaklah langsung menyerang saat melihat dia masuk. Dia mengangguk pelan, merasa mental Rion tidak memiliki masalah.


Dia terus maju ke depan, sampai berdiri tak jauh dari Rion.


“Halo, aku Nave,” ucapnya memperkenalkan diri.


“H-hai ...,” jawab Rion sedikit tergagap. Memberi kesan yang sesuai dengan kondisinya saat ini, belum stabil serta tak tahu apa yang tengah terjadi.


Nave mulai menjalankan beberapa tes. Dia memberi beberapa pertanyaan sederhana sembari mencermati tingkah laku Rion. Merasa Rion dalam keadaan baik, Nave kembali ke ruang khusus bagi para peneliti untuk mengawasi subjek.


“Bagaimana kondisinya?” tanya kepala peneliti setelah Nave kembali.


“Aku rasa semuanya tampak baik. Tidak terdapat masalah berarti, hanya kondisi normal di mana responsnya agak lambat.”

__ADS_1


Mendengar ini, pengumuman berikutnya dilakukan.


“Tahap kedua selesai. Keadaan mental subjek stabil, secara perlahan mulai dapat berhubungan secara normal. Subjek lulus. Segera bersiap untuk tahap akhir.”


Setelah persiapan akhir yang cukup memakan waktu, sekelompok penyihir terlihat memasuki ruangan. Mereka membawa berbagai macam alat untuk mengukir rune pada tubuh Rion.


Melihat ini, Rion menahan perasaan gugup bercampur cemas. ‘Pertaruhan akan dimulai, semua hal yang ingin kulakukan akan ditentukan sekarang ....’


Rion sudah tahu ini, hal yang paling krusial adalah proses pemasangan rune serta pengendalian pikiran padanya. Efek rune sendiri lebih kuat dari pada kerah budak yang hanya menghilangkan kebebasan pemakai. Setidaknya pada kerah budak kehendak pribadi tidak dihilangkan, sementara pada rune, tak hanya kebebasan, tapi juga kehendak pribadi juga dihapus.


Dengan adanya rune, pikiran pihak terkait akan menjadi kosong, seolah sebuah kertas bersih yang siap diberikan tulisan apa pun. Namun, hal ini juga memiliki prasyarat tersendiri yang akhirnya membuat penggunaan kalung budak lebih umum karena lebih praktis.


Rion yang telah bertahan karena kebencian selama ini tentu saja tahu, dan dia sudah lama memperkirakan cara mengatasinya selama di dalam tabung. Namun, entah cara itu berhasil atau gagal, Rion tidak tahu pasti.


Kondisi yang dialami Rion sendiri dapat dikatakan khusus. Tak seperti kesimpulan peneliti yang berpendapat bahwa kesadaran subjek seperti dalam keadaan tidur, dan semua pengalaman selama eksperimen dianggap sebagai mimpi setelah melakukan berbagai tes pada salah satu spesimen.


Untuk Rrio sendiri, dirinya tidak pernah kehilangan kesadaran, dengan kata lain dia selalu dalam kondisi terjaga selama ini. Hal ini pula yang membuatnya tak kekurangan waktu berpikir untuk mengatasi masalah rune setelah mengetahui metode yang digunakan.


Rion sendiri masih berpura-pura bingung pada apa yang dilakukan orang-orang ini. Namun, perasaan dalam hatinya jauh berbeda yang naik dan turun dengan cepat, menyadari pertaruhan hidupnya dimulai.


Dua orang penyihir berdiri di samping Rion, berusaha menundukkan kepala Rion dan memeganginya erat-erat, sedangkan tiga lainnya masih berdiskusi berjalan mendekat. Akhirnya satu orang terlihat memegangi sebuah batang besi panas datang, lalu mengecapkan ke punggung Rion.


“ARRGGGHHH!” Rion berteriak sekuat tenaga dengan memberi beberapa perlawanan saat rangkaian simbol-simbol aneh mulai diukir di punggungnya, sementara penyihir lainnya terlihat sibuk menahan perlawanan yang Rion berikan.


Walau sebenarnya rasa sakit ini tidak ada apa-apanya dibanding suntikan Blood Essence, tapi jika Rion tidak berteriak maka akan menimbulkan kecurigaan yang tidak perlu.


Ini adalah syarat yang dimaksud dalam pembuatan rune, target haruslah dalam keadaan mental lemah. Situasi Rion serta spesimen penelitian lain sendiri yang baru keluar memiliki mental yang masih labil, dan ini dianggap sebagai situasi sempurna.


Penyihir lain segera melaksanakan tugasnya saat ukiran telah selesai dibuat, mengeluarkan sebuah botol dari balik jubahnya. Dia menuangkan darah yang terkandung di botol itu ke simbol-simbol aneh di punggung Rion untuk menyelesaikan rune. Secara khusus, ini adalah [Rune: Contract of Full Controlling], salah satu dari jenis rune terkuat yang jarang digunakan.

__ADS_1


Sebab ini pula persiapannya memakan waktu yang lebih lama dari pada rune jenis kontrak pada umumnya.


Ukiran rune bersinar sesaat sebelum redup kembali, meski terlihat bahwa metode mereka sepertinya berhasil. Namun, mereka belum dapat bernapas lega, prosesi ini belum selesai.


Seorang yang sejak tadi diam mengarahkan tangan kanannya pada Rion. Mencengkeram kepala Rion, dia berucap, “Interference: Re-Write.”


Selesai orang itu menyelesaikan rapalannya, Rion menjadi diam tidak berteriak ataupun melawan lagi bersama pandangannya saat ini yang terlihat kosong. Sementara itu, orang penyebab semua ini mengucurkan keringat deras saat berkonsentrasi penuh pada apa yang tengah dia lakukan.


Hembusan napas dilakukan orang itu saat dia selesai melakukan tugasnya. Memastikan ulang keberhasilan, dia bertanya, “Siapa namamu?”


“Rion ...,” jawab lawan bicara tanpa dengan nada datar tanpa emosi.


“Siapa yang kamu pandang?”


“Seriana G. Eugary ....”


“Pada siapa kamu mengarahkan pedang?”


“Semua yang menghalangi ....”


Berbagai pertanyaan lain dilontarkan dan dijawab dengan nada datar tanpa emosj, terus dan terus sampai orang itu merasa bahwa semuanya telah beres, akhirnya dia mengangguk pada orang di sebelahnya.


Sekelompok orang itu kembali terlebih dahulu bersama data yang mereka bawa. Saat semuanya telah sesuai kehendak, kepala peneliti pun mengumumkan.


“Tahap pengujian akhir, Subjek E-R1206 selesai. Subjek dinyatakan berhasil.”


Suara hembusan napas lega memenuhi setiap sudut, semua peneliti lega bahwa nyawa mereka kini telah dipastikan aman.


Setelah semua, Seriana dan kepala peneliti akhirnya memasuki ruangan tempat Rion berada.

__ADS_1


Melihat siapa yang ada di depannya, Rion segera ke posisi membungkuk. Tanpa berani melihat Seriana, dia berucap, “Master ....”


__ADS_2