
Badai serangan kian mendekat ke arah Rion, tapi posisi pemuda itu sendiri tak memungkinkan dia untuk mengambil langkah yang diinginkan.
Rion berusaha menyeimbangkan tubuhnya secepat mungkin, saat badai serangan kian mendekat ke arahnya. Namun, menyadari bahwa hal itu tak akan sempat dan serangan akan segera menimpanya, dia menahan nafas dan mengalihkan fokusnya untuk menahan serangan yang datang padanya ini.
“Magic: Shields!”
Sejumlah perisai sihir berbentuk lingkaran setengah bola berwarna hijau agak transparan muncul di depan Rion. Mantra yang sama terus dia rapalkan hingga membentuk bola di mana dia berada tepat di tengah, dilindungi oleh lapisan perisai.
“Hahahaha! Mati kau!”
Heran terus tertawa lantang, dia yakin bahkan dengan perisai sihir yang diposisikan seperti itu, mustahil dapat menahan kekuatan serangan gabungan sebesar ini.
Setidaknya Heran yakin sampai Rion melakukan hal yang tidak terduga sama sekali.
“Magic: Multiplications,”
Ucap Rion tenang, meski dia tak ingin menggunakan cara ini tapi keadaan memaksanya.
Perisai sihir muncul lagi dan lagi di depan Rion, membentuk satu demi satu, lapisan demi lapisan perisai sihir tambahan yang terus menyelimuti Rion hingga membuatnya tampilan seperti telur giok.
[Magic: Multiplications], ini adalah sihir yang Rion modifikasi dari formula mantra asal [Magic: Delay] yang dia pelajari baru-baru ini.
__ADS_1
Prinsip dasar formula mantra delay adalah membuat efek dari sihir itu ditimpangkan pada sihir lain, dan karena tantangan Lily ide untuk memodifikasi sihir ini pun muncul di pikiran Rion seketika.
Dengan membuat beberapa pengaturan tambahan, Rion ingin mengubah efek pada formula mantra dari penundaan ke penggandaan. Namun, kegagalan panjang adalah hasil yang menantinya.
Bagaimanapun, tidak semudah itu untuk memodifikasi formula mantra, terlebih mantra dengan sifat yang melekat pada sihir lain dan tidak berdiri sendiri.
Akan tetapi, Rion tetap bersikeras pada hal ini karena membayangkan saat dirinya dapat melepaskan sihir yang dilengkapi delay dalam jumlah banyak dalam sekali rapalan. Selain membuat dirinya bebas memasang jebakan berukuran besar kapan pun, fungsi ini juga akan sangat berguna untuk beragam situasi dan kondisi lain, sebagai contoh adalah kondisi saat ini.
Meski untuk sekarang ini mimpi itu harus ditunda karena dengan tingkat kemampuan kontrol Rion yang belum memadai, mengakibatkan jumlah maksimal yang bisa digandakannya adalah delapan kali. Meski masih jauh dari harapannya, itu lebih dari cukup untuk mengatasi masalahnya sekarang.
Boom! Boom! Boom! Boom!
Ledakan keras menggema begitu gempuran serangan datang, Rion dapat merasakan perisai sihir yang dia keluarkan terus bergetar, berusaha menahan serangan. Namun, perisai itu tak bertahan selamanya dan sedikit demi sedikit daya tahannya dan menghilang, tak lagi mampu untuk terus menahan kekuatan serangan lebih jauh lagi.
Asap putih mengepul, tanah di sekitar telah tenggelam menandakan betapa kuat serangan yang telah dilancarkan kelompok itu. Namun, Heran dan bawahannya masih tidak dapat bernafas lega, orang yang mereka anggap monster masih belum dikonfirmasi telah tewas atau belum.
Asap mulai menghilang terbawa angin dan menunjukkan seseorang pemuda yang masih berdiri tanpa luka parah yang berarti. Meskipun pakaiannya telah terkoyak di sana-sini, tapi luka yang diderita pemuda itu segera pulih dengan kecepatan yang dapat dilihat mata telanjang.
Anggota yang tersisa dari kelompok tersebut menghirup udara dingin, bahkan serangan yang mereka anggap sebagai yang terkuat dari apa yang bisa mereka beri masih belum dapat memberinya luka cukup parah.
Merasakan ketakutan hebat, anggota yang tersisa pun berlarian ke segala arah, kalang kabut berusaha menghindari pemuda yang menjadi mimpi buruk mereka. Berusaha saling mengadu keberuntungan satu sama lain.
__ADS_1
Rion sendiri masih mencerna kejadian sebelumnya, dia cukup terkejut oleh serangan musuhnya karena dia tidak menyangka terdapat salah seorang anggota yang merupakan pengguna kemampuan dengan kemampuan yang aneh. Melihat dari sudut pandang lain, dia kini juga mempelajari sesuatu dari kejadian ini.
‘Jangan pernah sekali-kali menurunkan rasa waspada, bahkan saat berada di atas angin,’ pikir Rion saat menggelengkan kepalanya.
Rion mulai berjalan, menaiki tanah yang tenggelam. Tanah itu sendiri kini berwarna hitam arang akibat serangan gabungan yang dilepaskan kelompok tersebut. Menghembuskan nafas panjang, dia dengan pelan berucap, “Sekarang giliranku?”
Dengan sebuah langkah kecil, Rion mulai menerjang. Lidah api serta ular kilat mengeluarkan cahaya terang menyala, mengejar anggota kelompok yang telat berlari dengan sinar yang menembus pekatnya malam.
Rion memfokuskan indra pendengarannya, berusaha mencari orang yang telah menjauh dari posisinya. Mengambil kuda-kuda sejenak, dia segera menghilang dari tempatnya.
Hutan yang tenang, berisikan suara burung hantu serta makhluk malam lain segera terganggu ketenangannya dengan serangan yang terjadi di sana sini. Ledakan terjadi, menggelegarkan telinga tapi segera menghilang tak lama berselang.
Ular kilat semakin merajalela, bersama dengan semburat warna biru indah yang dilepaskan, kilat itu mulai mengular ke segala arah.
Fajar semakin mendekat saat matahari mulai menampakkan dirinya, mulai mengusir gelapnya malam. Melihat ini, Rion kembali ke tempat istirahatnya dengan Lily dengan hasil tangkapan berupa sepuluh anggota kelompok yang tersisa.
Meski satu orang telah lepas, atau mungkin lebih tepat dilepaskan. Namun, Rion sama sekali tak khawatir karena dia telah melemparkan [Magic: Trace] pada orang itu. Bagaimanapun, dia merasa bahwa orang itu akan berguna sebagai petunjuk jalan baginya jika saja Lily ingin menyelesaikan hal ini sampai ke akar-akarnya.
Memandangi sepuluh orang yang diikatnya, Rion mengikat mereka dengan tali yang dia dapat dari kelompok itu sendiri. Menyeret mereka menuju perkemahannya dengan Lily, dia tidak terburu-buru pada apa pun itu.
Saat dia sampai di sana, Rion melihat bahwa api unggun telah lama padam saat Lily masih terbaring malas.
__ADS_1
Dengan sedikit tingkah, Lily mengerang tatkala dia terbangun dari mimpi indahnya. Mengusap matanya yang masih diliputi rasa kantuk, gadis itu segera mengalihkan tatapannya dari sang mentari pagi ke arah Rion yang tengah duduk tidak jauh di sampingnya.
Mata violetnya menatap Rion bersama dengan senyum indah nan bermakna yang terdekat di bibir. “Bagaimana perasaanmu, Rion? Malam yang menyenangkan, bukan?” tanya Lily.