
Shua Shua Shua Shua
Serangan demi serangan yang terus datang menghujani Rion semakin sulit ditebak arah lintasannya.
Saat sang kapten ksatria —Marco— mulai memberikan perintah arahan pada kelompok Night Hunt, posisi Rion yang lebih kurang dapat dikatakan berimbang dengan kelompok itu secara perlahan menjadi kurang menguntungkan.
Rion kini merasa serangan yang datang padanya semakin sulit dihindari.
Saat Rion bersiap mengelak sesuai dengan arahan yang diberikan Marco pada tim Night Hunt, maka serangan sebenarnya akan datang dari arah yang berlawanan dengan yang diucapkan kapten ksatria itu melalui perintah khusus yang tak disadari diberikan kapten ksatria pada tim itu.
Begitu juga sebaliknya, di saat Rion telah bersiap mengelak menjauhi dari segala arah. Serangan segera datang sesuai dengan arahan kapten ksatria yang mengincar dari titik butanya.
Secara mudah, arahan yang Marco berikan pada tim Night Hunt jelas untuk memecah fokus Rion.
Selain itu, serangan anak panah sesekali masih menghujani dengan tempo acak bersama dengan serangan kilau belati yang secara jelas mengincar Rion. Musuh yang memiliki keunggulan di bidang kecepatan membuat intensitas serangan amatlah tinggi, ditambah teknik pertempuran mengejutkan yang dilepaskan lawannya membuat kondisi semakin runyam.
Mengelak dari serangan yang diarahkan padanya, Rion mundur cukup jauh untuk mengambil napas sejenak. Namun, sebilah belati segera melintas ke arahnya membuatnya harus berpindah tempat lagi.
Rion kesal, situasi ini sama sekali tak memberinya ruang sedikit pun, juga ... semua hal menjadi semakin dan semakin merepotkan!
'Sial! Ini semakin sulit. Aku harus segera menemukan cara untuk lepas dari mereka dan pergi dari sini.'
Namun, meski pemikiran ini telah ada di kepalanya, tapi cara mewujudkannya secara nyata adalah hal yang sulit mengingat kondisi sekarang ini.
Rion berlari secepat kilat saat mencoba menjauh, melepaskan diri dari para pengejar ini. Namun, serangan terus-menerus datang bagaikan hujan yang tiada henti, membuat segalanya semakin sulit dan pelik.
__ADS_1
Sempat terbesit sebuah penyesalan di hatinya, jika saja dia berada dalam kondisi terbaik, Rion yakin bahwasanya dia akan dapat melepaskan diri dari jeratan musuhnya dengan mudah.
Akan tetapi, saat ini Rion jauh dari kondisi yang dapat dikatakan prima. Selain menumpuknya kelelahan setelah pertarungan di benteng tadi masih belum pulih sama sekali. Juga karena serangan sihirnya sendiri mengonsumsi jumlah mana yang amat mengerikan daripada jumlah normalnya.
Kembali lagi ke awal, itu semua karena kontrolnya sendiri masih sangat buruk dalam hal sihir. Bagaimanapun, penguasaan sihir haruslah secara perlahan dengan praktik yang mengiringinya, dan itu adalah salah satu hal yang membuat penguasaan Rion masih teramat buruk.
Memang secara kasar kekuatan yang dikeluarkan sihir Rion sangat kuat karena jumlah mana yang dikonsumsi sihir itu. Namun, jika dalam kondisi seperti sekarang dan karena dia tak dapat memanajemen jumlah mana yang dia keluarkan, segala hal menjadi semakin sulit baginya.
"Semuanya fokuskan serangan! Blokir jalan yang akan dia lewati, tingkatkan frekuensi serangan kalian!" teriak Marco lantang saat melihat bahwa Rion masih dapat bertahan dengan sangat ulet.
Menghadapi serangan yang semakin gencar dilancarkan, Rion berusaha menghindari sebanyak mungkin. Namun, tidak mungkin baginya untuk dapat menghindari semua serangan yang masuk.
Napas Rion memburu, mana miliknya kini tersisa seperempat dari jumlah maksimumnya. Membuat fokus pandangan serta pikirannya menurun.
'Seharusnya tombak Demand tadi aku bawa saja,' sesal Rion.
Kepala Rion kini penuh dengan perasaan bernama penyesalan.
Jika saja dirinya membawa senjata semisal tombak milik Demand mungkin dirinya bisa melukai beberapa penyerang. Dengan begitu, beban yang harus dia tanggung atas serangan yang terus diarahkan pada dirinya kemungkinan besar akan berkurang karena dia dapat melukai para pengejar itu.
Namun, penyesalan yang menyerangnya hanya berlangsung sesaat. Membenahi pikirannya yang tidak benar, mata Rion kini memancarkan sebuah keyakinan. Semua itu karena dia tahu lebih baik dari siapa pun, bahwa penyesalan tidak akan membawanya ke hasil apa pun.
Rion, dia telah lama menyesal membiarkan dirinya bersiap manja pada ibunya saat kecil, karena semua itu membuatnya menjadi lemah. Jika saja dia berlatih sihir yang diajarkan ibunya secara giat, mungkin dia bisa membantu ibunya saat desa asalnya diserang oleh manusia-manusia itu.
Rion, telah menyesal mengeluh dan menyalahkan semua yang terjadi karena keadaan dan nasib. Membiarkannya terseret ke tempat antah-berantah, membuat dirinya ditangkap dan berakhir sebagai budak yang dijadikan bahan percobaan.
__ADS_1
Untuk ke sekian kalinya, Rion menyesal. Dia telah membiarkan ibunya tewas secara mengenaskan di depan matanya. jika, jika saja dirinya dapat berbuat sesuatu, apa pun itu dia mungkin dapat membuat sang ibu tercinta tetap hidup di sampingnya sekarang.
Akan tetapi, semua hal itu hanyalah angan-angan belaka baginya. Bagaikan mimpi yang jauh dan tak akan dapat tercapai lagi, sebab itu semua Rion telah membuat janji pada dirinya sendiri saat membuat keputusan untuk membalas orang-orang itu.
Bahwasanya Rion tidak akan membiarkan dirinya merasakan pahitnya perasaan menyesal lagi. Bahkan jika itu hanya secuil penyesalan yang hinggap di hati, dia tak akan membiarkannya!
Mata tajam Rion dipenuhi semua tekad itu, dia menyapu pandang ke arah para pengejar yang menjeratnya.
'Merepotkan!' pikir Rion jujur. Apa yang perlu dia khawatirkan lagi? Jika memang ini tidak dapat dia atasi lagi maka biarlah. Namun, jika dia tidak mengeluarkan semua yang dia bisa maka tidak akan membiarkan itu terjadi!
Rion tersenyum tipis, senyum yang berisikan perasaan yang membanjirinya kini. Setidaknya dia sudah berjuang semaksimal mungkin berdasarkan kemampuannya, jika dia tak dapat lari dan akhirnya jatuh ke tangan musuh entah itu adalah akhir dari hidupnya maka itu baik-baik saja.
"Sialan!" teriaknya, bagaimanapun hanya satu hal yang memenuhi pikirannya. 'Aku tidak ingin merasa menyesal!'
Setelah Rion meneriakkan ini, sejumlah besar mana mulai terkumpul di kedua tangannya. Bersama dengan sejumlah besar mana yang diserapnya, semburat cahaya mulai terwujud di tangannya, serangan yang para pengejar itu lepaskan terhenti.
Kobaran api tercipta, menyelimuti tangan kanan Rion dengan mengejutkan. Namun, tak hanya sampai di situ, nyala api itu terus naik dan menaikkan suhu di sekitar hingga menyebabkan apa yang ada di dekatnya mulai terbakar, apa pun itu.
Sementara itu, butiran-butiran air mulai terkumpul membentuk cambuk mengular di tangan kiri Rion. Namun, bukan hal itu yang membuat orang-orang itu terkejut, melainkan percikan demi percikan kilat biru yang terlihat melintas dari satu butir air ke butiran lainnya.
Rion telah menggabungkan elemen api dengan elemen angin menjadi satu di tangan kanannya, bersama sinergi elemen angin yang akan memperkuat kekuatan elemen api. Sedangkan di tangan kirinya dia telah menggabungkan elemen air dengan elemen petir, memanfaatkan kelenturan elemen air yang dia sandingkan dengan efek dari elemen petir yang dapat memberikan kelumpuhan sementara.
Rion mulai bersiap untuk membakar seluruh persediaan mana yang dia punya. Jika ini berhasil maka ini adalah kemenangan baginya, jika ini gagal maka ... dia tidak akan membiarkan perjuangannya gagal!
"Rasakan ini!"
__ADS_1